Didorong Transformasi Digital, Ini 3 Tantangan Besar BPR Syariah Buat Berkembang

Reporter : Alfi Salima Puteri
Jumat, 1 Juli 2022 10:47
Didorong Transformasi Digital, Ini 3 Tantangan Besar BPR Syariah Buat Berkembang
Meski masih menghadapi tantangan besar, industri BPRS terbukti mampu bertahan di tengah tekanan pandemi Covid-19 lalu.

Dream - Pengelola Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) diminta untuk memacu inovasi agar bisa berkompetisi dalam melayani kepentingan ekonomi kecil dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan transformasi digital agar bisa bersaing dengan bank konvensional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menegaskan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPRS juga mesti menghadapi shadow banking melalui teknologi finansial (Financial Technology/Fintech) dengan regulasi yang lebih longgar dan kompetitif.

“ Tantangannya adalah bagaimana niche product and market yang dipegang BPR/BPRS yang dapat melakukan penetrasi pasar sehingga dapat bertumbuh dengan baik. Harapannya BPR/BPRS dapat menjadi lembaga yang agile, adaptif, contributive, dan resilient dalam kontribusi dalam pengembangan UMKM di daerah masing-masing,” kata Dian dalam seminar virtual bertema “ Arah Maju Transformasi Digital BPRS di Indonesia” seperti dikutip dari keterangan tertulis ALAMI, Kamis, 30 Juni 2022.

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Mulya E Siregar dalam seminar yang digelar untuk memperingati Hari BPRS Tahun 2022 menambahkan arah kebijakan OJK yang nantinya ditetapkan di Peraturan OJK (POJK) 25 banyak beralih ke sustainable finance yang menjadi tantangan baru dan sangat penting bagi BPR/BPRS untuk dapat berinovasi dengan cepat.

" Saya berharap segala kebijakan dapat memajukan BPR/BPRS sehingga lebih kompetitif dan mendapatkan perhatian dari publik,” ujarnya.

1 dari 2 halaman

Tantangan Utama BPRS

BPRS didorong tranformasi digital (FOto: ALAMI)© Foto: ALAMI Group

Sementara Ketua Umum Kompartemen BPRS Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo), Cahyo Kartiko, mengungkapkan BPRS masih menghadapi banyak tantangan utama untuk bisa bertumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.

Tantangan tersebut adalah konsentrasi pendanaan dan bagi hasil tinggi, pemilihan portofolio pembiayaan berisiko tinggi, model bisnis yang kurang jelas, serta penggunaan teknologi yang masih sederhana.

Menurut Cahyo, transformasi digital merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari oleh industri termasuk industri BPR Syariah.

" Dengan adanya sinergi dan kolaborasi serta dukungan penuh dari otoritas, maka kebutuhan pasar akan transaksi digital oleh BPR Syariah akan lebih cepat terpenuhi,” jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Bukti Inovasi ALAMI Group lewat Hijra Bank

Upaya untuk mendorong transformasi digital di industri BPRS ini sudah dilakukan ALAMI Group sebagai peer to peer syariah saat memutuskan mengakuisisi PT BPRS Cempaka Al Amin dan mentransformasikannya menjadi Hijra Bank pada Maret 2021.

CEI Alami, Dima Jani© Alami

CEO & Founder ALAMI Group, Dima Djani, mengatakan kolaborasi ini terdiri dari berbagai aspek antara lain peningkatan akses pembiayaan melalui skema channeling/referral, dukungan teknologi untuk pemanfaatan credit scoring calon penerima pembiayaan berbasis data fintech, penggunaan produk dana pihak ketiga BPR sebagai rekening dana penerima pembiayaan fintech, serta pelaksanaan akses transaksi pemindahbukuan dan pembayaran melalui infrastruktur fintech dan bank.

Dima mengungkapkan proses transformasi dan adopsi teknologi BPRS Hijra ALAMI (Hijra Bank) berdampak terhadap pertumbuhan kinerja BPRS. Selain mempercepat proses bisnis dan menempatkan nasabah sebagai fokus utama bisnis, penambahan modal yang dilakukan ALAMI Group kepada Hijra Bank menjadi Rp15 miliar membuat perusahaan menjadi lebih optimal dalam menjalankan aktivitas bisnis.

" Hasilnya, aset Hijra Bank tumbuh 139% year-on-year (yoy) hingga lebih dari Rp92 miliar pada Mei 2022,” jelas Dima.

Dia memastikan prinsip syariah yang selama ini dijalankan Hijra Bank bertujuan agar masyarakat dapat mengelola keuangan dengan lebih baik melalui prinsip keuangan syariah yang adil, transparan, dan memudahkan, sehingga memberikan dampak positif yang lebih luas kepada masyarakat secara umum.

Meski masih menghadapi beberapa kendala besar dalam menjalankan roda bisnisnya, kinerja BPRS terbukti mampu bertahan di tengah tantangan pandemi. Per September 2021, total aset BPR dan BPRS bertumbuh 8,90 persen (yoy) dengan penyaluran kredit tumbuh 4,33 persen (yoy), dan Dana Pihak Ketika (DPK) tumbuh 11,27 persen (yoy).

Beri Komentar