Dokter AS Komentari Fenomena Borong Susu Beruang di Indonesia, Gini Pendapatnya

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 5 Juli 2021 13:13
Dokter AS Komentari Fenomena Borong Susu Beruang di Indonesia, Gini Pendapatnya
dr Faheem Younus menyampaikan satu hal yang menarik soal susu beruang dan ivermectin.

Dream - Belakangan masyarakat Indonesia memborong susu steril merk Bear Brand. Banyak orang percaya susu beruang bisa meningkatkan imunitas agar terhindar dari Covid-19.

Dalam salah satu video yang dibagian seorang netizen di Twitter, pelanggan di sebuah toko perbelanjaan sampai berlarian dan memperebutkan satu krat susu kaleng tersebut ke keranjang belanja mereka.

Akibat panic buying itu, stok susu kalengan itu menipis. Sudah seperti hukum ekonomi saat pasokan langka dan permintaan naik, harga susu tersebut di sejumlah daerah melambung.

Selain itu, masyarakat tanah air juga mencari obat Ivermectin yang disebut-sebut bermanfaat untuk penderita Covid-19.

1 dari 4 halaman

Soal Ivermectin dan Susu Beruang

Menanggapi hal itu, Dokter asal University of Maryland, Amerika Serikat, Faheem Younus, mengatakan bahwa susu beruang ataupun obat bernama Ivermectin tak memiliki peran dalam mengobati Covid-19.

" My Indonesian Friends, Susu ini, atau vitamin atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID," cuitnya, Minggu 4 Juli 2021.

 

2 dari 4 halaman

Ivermectin Tak Bisa Digunakan untuk Pencegahan Covid-19

Dream - Ivermectin dinyatakan tidak bisa dipakai untuk pencegahan Covid-19. Obat ini baru bisa diberikan pada pasien Covid-19 jika terdapat indikasi keparahan.

" Sekali lagi untuk pengobatan Covid-19 saja direkomendasikan adalah untuk yang adanya indikasi keparahan, dan juga untuk pencegahan ini sangat tidak direkomendasikan karena sehubungan dengan adanya efek samping," ujar Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Bidang Farmasi, Keri Lestari.

Hingga saat ini, tegas Keri, keamanan penggunaan Ivermectin masih perlu ditelaah. Selain itu, obat ini tidak bisa digunakan sembarangan dan harus dengan resep dokter mengingat tergolong obar keras.

Tak hanya itu, dia juga menjelaskan Ivermectin awalnya adalah obat cacing. Penggunaannya pun hanya bisa sekali dalam satu tahun.

" Sehingga kalau itu digunakan sebagai pencegahan dalam penggunaan rutin jangka panjang, itu memerlukan satu perhatian khusus dan memerlukan pembuktian lebih jauh," kata dia.

3 dari 4 halaman

Masih Uji Klinik

Keri juga mengatakan Ivermectin sendiri belum mendapatkan rekomendasi WHO untuk digunakan dalam pengobatan Covid-19. Meski dia mengakui obat ini tercantum dalam petunjuk penanganan Covid-19.

" Tapi di dalamnya tercatat adalah untuk uji klinik," kata dia.

Karena itu, terang Kati, penggunaan Ivermectin sebatas uji klinik. Langkah tersebut sebagai dasar penggunaan dalam penanganan Covid-19.

" Nanti sudah mempunyai evidence based akan keamanan dan khasiat penggunaannya," ucap dia, dikutip dari Merdeka.com.

4 dari 4 halaman

Tak Perlu 'Panic Buying' Susu Steril, Ini Pesan Dokter Tan

Dream - Melonjaknya kasus Covid-19 pada pertengahan Juni 2021 hingga kini membuat banyak orang panik. Jika pada 2020, banyak orang panik, lalu membeli dan menyetok masker serta sanitizer dan disinfektan berlebihan kini panic buying juga terjadi.

Di media sosial, viral video pembeli berebut susu steril kalengan saat kasus Covid-19 kembali tinggi di bulan Juni. Pembeli tampak saling sikut demi mendapatkan susu tersebut dalam jumlah banyak dan memasukkannya di troli mereka.

Harga susu itu di e-commerce juga meningkat tajam. Rupanya banyak orang beranggapan kalau susu kalengan itu berdampak signifikan pada imunitas tubuh yang mampu melindungi dari penularan Covid-19. Benarkah demikian?

Dokter Tan Shot Yen, seorang ahli gizi. Lewat akun Instagramnya memberikan penjelasan kalau tak perlu panic buying membeli susu kalengan. Apalagi sampai memborong dan menyetok berlebihan.

" Apakah suplemen, vitamin, susu ngehits membuat saya imun terhadap infeksi Covid-19? TIDAK. Studi terbaru menunjukkan tidak ada hubungan antara jumlah vitamin (termasuk D dan C) dengan risiko terinfeksi. Susu? lebih menggelikan. Kecuali ASI, ibu yang terinfeksi atau telah vaksinasi terbukti menghasilkan antibodi dalam ASI. Bonus proteksi untuk bayinya," tulis dr Tan.

Ia juga menyertakan sumber studi soal susu, antara lain dari Harvard, Unicef dan MayoClini. Dokter yang giat memberikan edukasi soal gizi kepada masyarakat ini kembali mengingatkan untuk menjaga kewarasan.

" Semoga menjadi panduan kewarasan. Ingat, kita masih butuh dana banyak ke depan. Jaga keluarga jaga diri anda," tulisnya.

Beri Komentar