Fenomena “Forever Layoff” Meningkat, Gelombang PHK Kecil tapi Rutin Menghantui Tahun 2026

Reporter : Abidah
Minggu, 30 November 2025 08:00
Fenomena “Forever Layoff” Meningkat, Gelombang PHK Kecil tapi Rutin Menghantui Tahun 2026
Pengamat menilai perusahaan melihat "forever layoff" sebagai cara untuk memangkas biaya gaji tanpa menarik perhatian media atau memicu reaksi negatif publik.

DREAM.CO.IDLanskap ketenagakerjaan global tengah mengalami pergeseran signifikan menuju fenomena yang disebut sebagai " forever layoff" atau PHK abadi. Berdasarkan data terbaru, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) skala kecil kini menjadi metode pemangkasan yang paling dominan dilakukan perusahaan. Sebuah tren yang diprediksi akan terus memicu kecemasan pekerja hingga tahun 2026. 

Tren Forever Layoff

Laporan menunjukkan bahwa PHK skala kecil yang melibatkan kurang dari 50 individu telah meningkat secara konsisten dari 38% total kejadian PHK pada tahun 2015 menjadi 51% pada tahun 2025.

Perusahaan kini lebih memilih melakukan pemangkasan karyawan dalam jumlah kecil namun rutin. Metode yang menggantikan strategi lama berupa pemangkasan massal yang jarang namun besar.

1 dari 3 halaman

Gelombang Layoff Tanpa Henti

Para peneliti menyebut strategi ini sebagai " forever layoff" karena pemangkasan tenaga kerja datang dalam " gelombang yang tidak pernah berakhir," berbeda dengan " tsunami" PHK massal yang terjadi sekaligus.

Meskipun PHK massal memiliki dampak langsung terhadap peringkat perusahaan di situs ulasan seperti Glassdoor, metode PHK bergulir ini menciptakan dampak psikologis yang berbeda namun kronis.

Berdasarkan data pemberitahuan WARN Act, undang-undang yang mewajibkan perusahaan mengumumkan penutupan dan PHK, proporsi PHK di bawah 50 pekerja mendominasi laporan saat ini.

Angka 51% pada tahun 2025 ini bahkan kemungkinan lebih rendah dari realitas di lapangan, mengingat peraturan di tiap negara sering kali tidak mewajibkan pelaporan resmi untuk PHK skala kecil.

2 dari 3 halaman

Dampak pada Mental Pekerja

Analisis terhadap ulasan di Glassdoor memberikan gambaran nyata mengenai dampak tren ini. Karyawan melaporkan perasaan tidak aman yang semakin tinggi terhadap pekerjaan mereka.

Frekuensi penyebutan istilah " PHK" dan " ketidakamanan kerja" dalam ulasan karyawan pada akhir 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan saat awal pandemi pada Maret 2020.

Konteks pasar tenaga kerja saat ini semakin memperburuk situasi bagi pekerja yang terdampak. Setelah lonjakan PHK pada 2020 dan level rendah sepanjang sejarah pada 2021-2022, jumlah pekerja yang diberhentikan setiap bulan kini kembali merangkak naik ke level tahun 2010-an. Para pekerja yang terkena dampak kini harus mencari pekerjaan di tengah pasar perekrutan yang sedang lesu (low-hire market).

Tren Forever Layoff

3 dari 3 halaman

Strategi Senyap Perusahaan

Pengamat menilai perusahaan melihat " forever layoff" sebagai cara untuk memangkas biaya gaji tanpa menarik perhatian media atau memicu reaksi negatif publik (backlash). Namun, strategi ini dinilai tidak efektif dalam menjaga mental karyawan.

Meskipun PHK serial ini mungkin luput dari radar berita utama, karyawan yang tersisa menyadari pola tersebut. Mereka yang bertahan sering kali harus menanggung beban kerja tambahan sembari dihantui pertanyaan apakah mereka akan menjadi giliran berikutnya.

Tren Forever Layoff

Beban psikologis dari " forever layoff" ini diperkirakan akan merusak mental pekerja dan budaya perusahaan secara signifikan pada tahun 2026 dan seterusnya.

Beri Komentar