Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Dream - Pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini tentunya mengacu harga komoditas ini tengah mengalami penurunan yang cukup signifikan beberapa waktu terakhir.
Seperti dikutip dari Gulf News, Selasa, 29 Desember 2015, Jika harga minyak mentah lebih dari US$ 100 per barel pada 2014, harga minyak tahun ini jatuh hingga di bawah US$ 40 per barel. Harga ini terus meluncur karena rendahnya permintaan padahal pasokannya berlimpah.
Tidak jauh berbeda dengan nasib dengan barang tambang minyak, harga emas pun cenderung mengalami penurunan pada tahun depan. Carsten Menke, analis komoditas dari Julius Baer mengatakan logam mulia diperkirakan masih menjadi produk investasi yang tidak disukai investor di tahun depan.
" Harga emas berada dalam tren penurunan jangka panjang karena kurangnya permintaan investasi. Hal ini karena menguatnya suku bunga, inflasi yang rendah," ujar Menke.
Diperkirakan harga emas dalam beberapa bulan mendatang di bawah US$ 1.000 per ounce. Harga ini menurun dari sebelumnya di kisaran US$ 1.100 per ounce.
Setelah kenaikan suku bunga The Fed, dollar menguat. Namun, dampaknya harga komoditas kian menurun, termasuk emas yang menjadi produk investasi yang tidak menarik saat ini.
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi