Indonesia Berpotensi Jadi Pemimpin Ekonomi Syariah

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 20 Mei 2020 16:45
Indonesia Berpotensi Jadi Pemimpin Ekonomi Syariah
Perpaduan jumlah penduduk Indonesia yang beragama Muslim dan nilai-nilai ekonomi syariah bisa mewujudkan hal tersebut.

Dream – Indonesia berpotensi menjadi pemimpin ekonomi syariah global. Selain jumlah pemeluk Islam yang sangat besar, Indonesia juga dianggap memiliki kesamaan beberapa nilai syariah dengan kehidupan budaya yang sudah mengakar. 

“ Indonesia berpotensi untuk menjadi pemimpin ekonomi syariah global,” kata President Director Prudential Indonesia, Jens Reisch dalam konferensi pers virtual konferensi virtual “ PRUSyariah Media and Iftar Gathering” ditulis Rabu 20 Mei 2020.

Potensi yang dimiliki Indonesia itulah yang membuat Prudential memutuskan mendirikan unit usaha syariah. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia, Prudential Syariah ini berusaha menghadirkan berbagai produk asuransi jiwa syariah yang bisa diterima masyarakat.

“ Kami melakukan inovasi produk dan saluran pemasaran, edukasi ke publik yang lebih luas melalui kemitraan dengan lebih banyak pihak, serta meningkatkan profesionalisme dan kapabilitas tenaga pemasar,” kata dia.

Sharia Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, Nini Sumahandoyo, mengatakan prinsip-prinsip asuransi syariah yang sesuai dengan budaya Indonesia adalah sikap tolong-menolong dan saling berderma untuk saling berbagi dan menanggung risiko sebagai antisipasi jika terjadi musibah.

“ (Ini) relevan dengan ciri gotong royong khas masyarakat Indonesia. Kami berharap prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan untuk membantu mereka yang terdampak Covid-19,” kata Nini.

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Afdhal Aliasar, menambahkan target menjadi pemimpin ekonomi syariah dunia bisa terwujud. Indonesia saat ini memiliki penduduk Muslim di Indonesia lebih dari 87,3 persen dari total populasi.

Dengan potensi tersebut, ekonomi syariah bisa membangun kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sistem dan nilai dari ekonomi dan keuangan syariah juga memperhatikan ketahanan ekonomi dan sosial dalam kehidupan masyarakat.

“ Dengan terus mempromosikan pembagian risiko dan integrasi antara keuangan komersial dan sosial, kehadiran ekonomi dan keuangan syariah menjadi sesuatu yang sangat penting dalam memastikan ketahanan ekonomi dan inklusi, terutama di masa pandemi ini,” kata Afdhal.

1 dari 4 halaman

Peserta Bertambah, Kontribusi Unit Syariah Prudential Tembus Rp3,7 T

Dream – Unit syariah PT Prudential Indonesia membukukan kontribusi bruto senilai Rp3,7 triliun sepanjang 2019. Perolehan ini meningkat 1 persen dari tahun 2018 yang mencapai Rp3,6 triliun.

“ Pangsa pasarnya 28 persen terhadap total kontribusi industri,” kata Sharia, Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo, dalam konferensi virtual “ PRUSyariah Media and Iftar Gathering” baru-baru ini.

Nini mencatat aset asuransi syariah ini stabil di angka Rp9,1 triliun. Dana tabarru unit syariah Prudential naik 15 persen dari Rp770 miliar pada 2018 menjadi Rp887 miliar pada 2019.

“ Peningkatan ini didorong oleh penambahan peserta pada 2019 dan akumulasi surplus tahun berjalan. Semoga menjadi lebih kuat lagi dan lagi,” kata dia.

 

 © Dream

 

Tingkat solvabilitas dana tabarru sebesar 2.581 persen atau lebih dari 20 kali lipat dari batas minimum yang ditetapkan regulator dan tingkat solvabilitas dana perusahaan 7.300 persen atau 60 kali dari batas minimum.

“ Hasil positif ini berhasil kami capai berkat kepercayaan nasabah yang terus meningkat dalam 13 tahun terakhir serta berkat kerja keras para tenaga pemasar berlisensi syariah Prudential Indonesia yang berjumlah lebih dari 114 ribu orang,” kata dia.

2 dari 4 halaman

Asuransi Syariah Didorong Manfaatkan Digital Selama Pandemi

Dream – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendorong industri asuransi syariah untuk melihat peluang di balik pandemi Covid-19. Saat pandemi ini ada satu sektor yang berkembang pesat, yaitu teknologi digital.

“ Pada masa pandemi ini, yang menarik adalah kewajiban kita untuk melakukan physical distancing. Digital menjadi yang utama. Di situ ada tonggak besar,” kata Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal KNEKS, Afdhal Aliasar.

Hal itu disampaikan Afdhal Aliasar dalam diskusi online, “ Bincang Syariah dan Buka Puasa bersama Prudential Indonesia PRUSyariah: Inovasi dan Relevansi Saat Ini”, yang ditulis Selasa 19 Mei 2020.

 

 © Dream

 

Afdhal mendorong asuransi syariah memanfaatkan teknologi digital untuk berbisnis selama pandemi. Dikatakan bahwa, sektor bisnis lainnya juga gencar memanfaatkan digital untuk bisnisnya selama pandemi corona.

“ Asuransi syariah harus memainkan peluangnya, bagaimana cara menjual kalau physical distancing masih berlangsung. Ini terobosan yang harus dikembangkan,” kata dia.

Potensi pasar asuransi syariah bisa mencapai Rp10 triliun dalam tiga tahun ke depan. Namun, lanjut Afdhal, pangsa pasar asuransi syariah di Indonesia masih relatif kecil, yaitu 3,2 persen. Sekadar informasi, pangsa pasar keuangan syariah pada 2019 mencapai 8,87 persen.

“ Jadi, potensinya sangat terbuka luas. Kami berharap semua pelaku industri keuangan syariah, termasuk asuransi bisa membuat inovasi, melihat peluang yang lebih baik, dan bisa mengambil potensi yang luar biasa,” kata dia.

3 dari 4 halaman

Prudential: 20% Warga Non Muslim Indonesia Ingin Miliki Asuransi Syariah

Dream – Prudential Indonesia baru saja merilis survei asuransi syariah di Indonesia. Hasilnya, semakin banyak masyarakat yang berminat kepada asuransi syariah.

Survei tersebut melibatkan 5 ribu responden yang merupakan keluarga kelas menengah ke atas. Survei dilakukan pada 12 Februari-6 Maret 2020 di 20 kota besar di Indonesia.

Sharia Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo, dalam keterangan pers virtual di Jakarta, Senin, 18 Mei 2020, mengatakan hasil survei menemukan jika  minat masyarakat terhadap asuransi syariah naik dari 40 persen pada 2016 ke 58 persen pada 2020.

Yang menarik, kata dia, sebanyak 44 persen dari responden yang berminat tersebut berasal dari kalangan generasi milenial.

“ Generasi milenial semakin hari semakin paham asuransi syariah,” kata Nini. 

Selain itu, asuransi ini mencatat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap asuransi syariah naik dari 31 persen pada 2016 menjadi 39 persen pada 2020.

“ Angka 39 persen memang kelihatan rendah. Tapi, dengan 8 persen increasing, itu luar biasa. Tidak mudah (memberikan) edukasi kepada seluruh masyarakat,” kata dia.

4 dari 4 halaman

Potensi Nyaris Rp10 Triliun

Nini menyebut potensi asuransi syariah di Indonesia mencapai Rp9,6 triliun untuk tiga tahun ke depan. Dikatakan bahwa mayoritas peminat produk ini adalah Muslim, yaitu 81 persen. Sisanya adalah non-Muslim.

“ Hampir 20 persen non-Muslim tertarik untuk membeli syariah,” kata dia.

Prudential juga mencatat ada lima jenis asuransi yang menjadi pertimbangan masyarakat Indonesia. Kelimanya adalah asuransi kesehatan, kecelakaan diri, pendidikan, investasi, dan pensiun. 

Beri Komentar