Targetkan Indonesia Jadi Hub Mobil Listrik, Jokowi Dorong Produksi Baterai

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 28 November 2019 17:24
Targetkan Indonesia Jadi Hub Mobil Listrik, Jokowi Dorong Produksi Baterai
Jokowi menyebut Indonesia kaya akan bahan baku baterai lithium untuk kendaraan listrik.

Dream - Presiden Joko Widodo berharap Indonesia bisa menjadi hub besar industri mobil listrik dunia. Hal itu akan diwujudkan dengan cara membangun industri pembuatan baterai lithium skala besar di Indonesia.

“ Kami ingin dalam dua tiga tahun ke depan, turunan nikel bisa ke lithium battery. Ini strategi bisnis yang sedang kami rancang agar Indonesia bisa menjadi hub besar bagi industri mobil elektrik,” kata Jokowi di Jakarta, dikutip dari , Kamis 28 November 2019. 

Menurut Jokowi, Indonesia punya banyak sekali bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan baterai lithium. Sejumlah logam yang dibutuhkan seperti nikel, kobalt, maupun mangan tersedia dan siap diolah.

" Arahnya ke sana karena kita punya nikel, kobalt, mangan, dan bahan baku yang lain yang bisa dipakai oleh industri dalam membangun lithium battery dan Indonesia punya cadangan nikel terbesar nomor satu di dunia," kata dia.

Agar target tersebut bisa tercapai, Jokowi mengirimkan menteri untuk studi banding mengenai pengembangan lithium ke sejumlah negara maju. Jepang dan Jerman masuk dalam daftar negara tujuan studi tersebut.

“ Strategi ini harus kami pakai untuk membangun industri mobil listrik. Kami sudah mengirim menteri mendekati industri-industri mobil besar di Jepang, Jerman, dalam rangka mengembangkan lithium,” kata dia.

1 dari 5 halaman

Ini Usaha Keras Thailand Pacu Kendaraan Listrik, Indonesia Mau Tiru?

Dream - Kendaraan listrik menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi produsen utama otomotif di kawasan Asia Tenggara. Agar sektor ini bisa maju, pengusaha meminta pemerintah untuk mencontoh Thailand.

“ Saat ini, Indonesia masih berada di bawah Thailand dari sisi produksi maupun ekspor otomotif,"  kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Johnny Darmawan, dalam “ Electric Vehicle Indonesia Forum and Exhibition 2019” di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream. 

Menurut Johnny, Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan bisa menjadi langkah awal untuk menjadikan Indonesia pemain utama kendaraan listrik di ASEAN.

Untuk diketahui, Thailand memproduksi kendaraan sebanyak 2,1 juta unit pada 2018. Pencapaian itu hampir dua kali lipat dari Indonesia yang baru sanggup memproduksi kendaraa 1,3 juta unit.

 

 © Dream

 

Dari sisi ekspor, negeri Gajah Putih itu telah mengekspor sekitar 53 persen dari total produksi kendaraannya di tahun lalu. Sementara Indonesia baru mencapai 26 persen. 

“ Majunya industri kendaraan Thailand tak terlepas dari dukungan kebijakan yang berpihak pada industri,” kata dia.

Johnnya mencontohkan ada insentif pengurangan bea masuk impor barang modal dan komponen, dukungan pada kegiatan riset dan pengembangan dengan memberikan insentif pajak penghasilan minimal tiga tahun.

Ada juga insentif perpajakan berdasarkan lokasi pabrik. Semakin jauh lokasi pabrik dari Bangkok, insentif yang diberikan juga semakin besar.

2 dari 5 halaman

Bagaimana dengan Kendaraan Listrik?

Pemerintah Thailand, lanjut Johnny, mengatakan telah menawarkan banyak insentif untuk pengusaha otomotif. Misalnya, perusahaan yang memproduksi kendaraan listrik akan mendapatkan insentif berupa pembebasan pajak 6-10 tahun.

Insentif ini berlaku jika mereka menghasilkan komponen utama, seperti baterai dan power train di dalam negeri. Mesin yang diperlukan untuk memproduksi semua jenis kendaraan listrik yang dibebaskan dari tarif impor.

" Indonesia perlu mengeluarkan kebijakan serupa sebagai implementasi Perpres No 55 Tahun 2019 agar bisa berkompetisi dengan Thailand dalam produksi kendaraan listrik," kata dia.

3 dari 5 halaman

Lebih Potensial, Indonesia Disarankan Kembangkan Motor Listrik Dahulu

Dream - Pengusaha menyarankan pemerintah untuk mengembangkan sepeda motor listrik sebelum mulai menyasar mobil elektrik. Alasannya, pangsa pasar sepeda motor listrik di Indonesia bisa berkembang dan menjadi bisnis baru.

Diketahui pengguna sepeda motor Indonesia saat ini mencapai kisaran 6 juta-7 juta unit.

“ Sepeda motor itu teknologinya sudah banyak. Di Tiongkok sudah banyak yang mengembangkan itu. Mengapa tidak dicoba itu dulu?” kata Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Johnny Darmawan, dalam “ Electric Vehicle Indonesia Forum and Exhibition 2019” di Jakarta, Selasa 26 November 2019.

 

 © Dream

 

Johnny meyakini penggarapan industri motor listrik yang lebih serius akan membuka peluang bisnis yang cukup besar. Diperkirakan dalam waktu lima tahun, jumlah pengguna motor listrik bisa mencapai 4 juta-5 juta unit.

Untuk mulai menggarap sektor otomotif baru ini, Johnny mengungkapkan regulasi yang ada saat ini belum mengatur secara spesifik soal sepeda motor listrik.

“ Iya (regulasi spesifik untuk motor belum). Tapi di pembicaraan akan diterapkan motor dulu. Motor dulu itu untuk industri pabrik masuk diakal,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Tapi, Baterai Masih Mahal

Johnny melanjutkan ada tantangan terbesar di industri kendaraan listrik. Dia menyebut harga baterai kendaraan listrik masih mahal.

Pemerintah bisa menekan harga jual baterai listrik jika bisa mengembangkan industri motor listrik dan dan diiringi dengan jumlah produksi baterai.

“ Kalau menunggu mobil, mulainya lama. Kapan harga baterai akan turun?” kata dia.

5 dari 5 halaman

Kadin Soroti Kemudahan Investasi Mobil Listrik

Dream - Pemerintah memang mendukung pengembangan kendaraan listrik dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Namun, pengembangan kendaraan ini masih harus didukung oleh kemudahan investasi.

Misalnya, kemudahan investasi untuk memanfaatkan hasil nikel menjadi baterai lithium.

“ Moratorium nikel per 1 Januari 2020 dilakukan sebagai kebijakan di sektor hulu, menjadi langkah awal Indonesia sebagai produsen utama baterai,” kata Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Johnny Darmawan, dalam “ Electric Vehicle Indonesia Forum and Exhibition 2019” di Jakarta, Selasa 26 November 2019.

 

 © Dream


Kemudahan investasi pun, kata Johnny, juga diperlukan untuk memperkuat pasar domestik dan meningkatkan potensi ekspor. Mantan bos Toyota Astra ini menekankan, membangun industri tak sama dengan membangu pabrik.

“ Maka dari itu, industri kendaraan listrik membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” kata dia.

Johnny melanjutkan bahwa Indonesia menargetkan ada 20 persen kendaraan listrik yang beredar dari total kendaraan yang melintas di Indonesia dalam enam tahun ke depan.

“ Target kami 20 persen dari kendaraan yang beroperasi pada 2025 adalah kendaraan listrik,” kata dia.

Dikatakan, program pengembangan kendaraan listrik juga dilakukan sebagai upaya merevitalisasi industri manufaktur yang berorientasi ekspor.

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak