(Sumber: Qz.com)
Dream - Otoritas Tiongkok melakukan investigasi terhadap salah satu perusahaan mesin peramban (search engine) internet terbesar di Tiongkok, Baidu. Investigasi ini menindaklanjuti kematian seorang pelajar yang diduga menggunakan Baidu untuk mencari perawatan medis.
Pelajar berusia 21, Wei Zexi, tewas pada bulan April 2016 usai menjalani perawatan kanker yang kontroversial. Wei mendapat informasi perawatan kanker ini dari Baidu. Media Tiongkok menuding Baidu mengutamakan profit semata.
" Laba tidak boleh ditempatkan di atas tanggung jawab sosial," kata The People's Daily, dilansir Newsweek, Rabu 4 Mei 2016.
Harian itu juga menuliskan tidak salah untuk mengambil untung dari iklan. Tapi kalau mengambil keuntungan yang membahayakan jiwa manusia, itu bertentangan dengan nilai-nilai etika.
Sekadar informasi, Wei menemukan pengobatan medis untuk penyakitnya, synovial sarcoma, lewat pencarian Baidu. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Wei menyebut Baidu menuliskan iklan yang sesat. Dikatakan bahwa pengobatan senilai US$31 ribu atau Rp 410,28 juta telah teruji secara medis.
Dia pun menuliskan kalimat, " Baidu, kami tidak tahu berapa banyak orang jahat yang melakukannya" di papan.
Kematian Wei menarik perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah. Otoritas keamanan internet Tiongkok, Cyberspace Administration of China (CAC) pun segera melakukan investasi terhadap Google-nya Tiongkok ini beberapa hari yang lalu. Kasus ini membuat harga saham Baidu melorot 8 persen.
Baidu pun turut mengungkapkan rasa bela sungkawanya. " Kami menyampaikan duka cita yang dalam terhadap keluarga Wei Zexi. Baidu itu perusahaan yang tepercaya dan kami memegang standar yang tinggi untuk membuat platform kami aman dan dapat dipercaya."