Lebaran Pilu Pengungsi Suriah

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 6 Juli 2016 20:15
Lebaran Pilu Pengungsi Suriah
Tak ada hidang lezat apalagi pakaian baru. Semua dihadapi dengan kepiluan. Tercerabut dari kampung halaman menyambut hari kemenangan.

Dream - Pemuda itu duduk tak beralas apapun di atas pasir berkerikil. Ia terdiam. Hanya raut sedih bercampur lelah yang terlihat. Matanya menatap jauh, menyusuri deretan tenda di atas tanah lapang. Tenda-tenda semrawut itu membawa pikirannya menewarang. Sekelebat ingatan tertuju pada sang ayah yang hingga kini tak jelas keberadaannya. Masih hidup atau sudah mati.

Seketika bulir-bulir air mata menetes. Dan menjadi kian deras tatkala ia mendengar sayup-sayup gema takbir dari kejauhan.

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar...
Allahu Akbar Walillahilhamd...

Air matanya terus mengalir. Tak pernah terlintas dalam bayangan akan melewatkan Idul Fitri di kamp pengungsian seperti saat ini. Ya, ini pertama kalinya bagi Bekir Sheyho berlebaran di kamp pengungsian Suleyman Shah di Distrik Akcakale Sanliurfa, perbatasan Suriah-Turki.

Bekir adalah satu dari jutaan pengungsi Suriah yang bernasib kurang beruntung. Melewatkan momen Idul Fitri jauh dari kampung halaman dengan ritual seadanya, tanpa keluarga. Sejak perang berkecamuk tahun 2011 silam, nasib penduduk Suriah memang kian tak jelas arah. Ribuan orang mati dalam perang. Ada yang disekap dalam penjara gelap sebagian lagi terlunta-lunta di pengungsian layaknya Bekir.

Bekir masih mujur. Dia baru menyecap sulitnya hidup di kamp pengungsian Turki setahun belakangan. Di luar sana, banyak saudara sebangsanya sudah menghuni kamp-kamp pengungsian. Ada yang tinggal di Turki, Yordania, Libanon dan Mesir. Bukan setahun atau dua tahun. Mereka sudah tercerabut dari kampungnya selama lima tahun.

Di dalam tenda itu, Bekir tinggal bersama saudara perempuannya. Hanya berdua. Menjadi minoritas di negara lain. Keluarga lain ikut dalam tenda mereka. Beruntung, rumah barunya masih punya sejarah dalam dunia Islam. Memang ada ratusan tenda dari 22 kamp yang disiapkan. Tapi Bekir tetaplah berlebaran di tanah air orang.

" Saya menghabiskan Idul Fitri jauh dari rumah untuk pertama kalinya. Saya berharap ini yang terakhir kalinya, tapi harapan itu juga terus berkurang setiap hari," kata Bekir dikutip dari onislam.net.

Terlepas dari penderitaannya, pemuda Suriah itu bersyukur masih bisa merayakan Idul Fitri. Memang tak semarak seperti saudara muslim yang ada di Indonesia. Bersama pengungsi lainnya di kamp ini, Bekir masih bisa melaksanakan sholat Id. Dua rakaat sholat dan mendengarkan khutbah diikuti. Usai sholat mereka akan saling bersilaturahmi, menguatkan satu sama lain. Dukungan saudara seiman seolah menjadi pembangkit harapan Bekir di tengah ketiadaan sanak saudara.

" Saya berada jauh dari rumah, orangtua, saudara serta orang-orang terkasih. Jika saya tidak bersama mereka, Idul Fitri tidak ada artinya bagi saya," tandas Bekir.

Di luar sholat Id, tak ada perayaan. Momen Idul Fitri di kamp ini jauh dari kata bahagia. Tak ada hidangab lezat khas Lebaran di meja makan. Apalagi baju baru. Suasana yang jauh berbeda dengan kaum muslim di luar sana. Hanya ada hidangan mansaf. Itu sejenis nasi yang dicampur gandum. Ditambah syurbatul adas, bubur berisi kacang. Itupun tak semua pengungsi bisa menikmatinya. Termasuk Bekir.

Belum selesai Bekir bersedih, kepedihannya kian bertambah. Kabar duka menghampirinya. Sang ayahnya menjadi salah satu korban perang. Namun masih simpang siur, tak jelas apakah masih hidup atau sudah mati. Harapannya hanya satu, jikalau sang ayah sudah meninggal, Bekir ingin tahu di mana kuburnya.

Kisah Emir: Saya Pasrah

 

1 dari 1 halaman

Kisah Pilu Emir: Saya Pasrah

Bekir tak sendirian. Penderiaan bertubi-tubi juga dialami saudaranya senagara. Tengoklah kisah Abu Amir. Kisahnya jauh lebih menyayat hati. Lelaki tua asal Suriah ini harus melewatkan momen Idul Fitri tanpa keluarga. Putra ke duanya tergolek di sebuah rumah sakit Turki. Sekujur tubuhnya luka parah terkena pecahan roket.

Sementara putra ke tujuhnya, masih berada dalam sekapan tentara Bashar. Sang putra ditangkap ketika tengah menjual hasil kebun di pasar. Sudah tiga bulan putra Abu Amir disandera. Para pelaku meminta uang tebusan sebesar 250 ribu Lira Suriah atau sekitar Rp36 juta. Mereka mengancam, jika dalam sebulan ke depan tidak ditebus, sang putra akan ditembak mati.

" Saya pasrahkan semua pada Allah. Saya yakin, Ia akan memberi keputusan terbaik kepada kami," tutur Abu Amir lirih.

Ada gelayut rindu mendalam terlihat di wajahnya. Hanya doa yang bisa diupayakan Abu Amir bagi putra tercinta. Sebab, 250 ribu Lira bukanlah jumlah yang sedikit bagi petani kecil seperti dia. 

Ujian tak henti-hentinya melanda para muslim Suriah, bahkan di hari raya Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen kemenangan seluruh umat Islam dunia. Konflik masih terus berkecamuk, jutaan nyawa melayang sia-sia, sedangkan lainnya hidup dalam ketakutan dan kelaparan.

Berbagai lembaga kemanusiaan dunia telah ikut turun tangan. Negara-negara tetangga pun turut terlibat menampung para pengungsi. Turki salah satunya. Lebih dari 1,8 juta pengungsi Suriah masuk ke negara itu sejak konflik antara Pejuang Kurdi dan ISIS meletus pada 2011 silam.

Dana triliunan pun sudah digelontorkan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk membantu. Namun sayang, hingga kini permasalahan Suriah belum juga berujung pada titik terang.

Dan di lebaran tahun ini, nasib para pengungsi ini sepertinya takkan berubah. Masih berlebaran di negara orang. Entah sampai kapan. Wallahualam.

(Berbagai Sumber)

Beri Komentar