Militan ISIS Digempur, Surat Utang Syariah Tiarap

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 2 Oktober 2014 10:01
Militan ISIS Digempur, Surat Utang Syariah Tiarap
Surat utang syariah mengalami penurunan setiap bulan untuk pertama kalinya selama 2014.

Dream - Surat utang syariah mengalami penurunan setiap bulan untuk pertama kalinya selama 2014. Hal ini dipicu oleh keterlibatan koalisi negara-negara Timur Tengah dalam upaya menghancurkan kantong-kantong militan Negara Islam (Islamic State yang semula bernama ISIS) di Suriah dan Irak, yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Ddata indeks Bloomberg yang meneliti 43 surat utang syariah (Sukuk) berdenominasi dolar AS dari korporasi dan independen mencatat, penurunan sebesar 0,3 persen pada bulan September. Penurunan ini setara dengan bagi hasil sebesar 0,7 persen, atau separuh dari posisi pada semester I-2014 di kisaran 1,4 persen.

Data Deutsche Bank AG menunjukan, rata-rata yield surat utang merangkak naik 11 basis poin ke level 2,89 persen pada bulan ini, atau yang tertinggi sejak 12 Agustus lalu

Serangan AS terhadap militan IS diketahui telah diperluas saat negara adidaya Amerika Serikat mendapat bantuan dari sejumlah negara. Seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Bahrain, Qatar, Inggris, dan Prancis.

Dukungan ini semakin meningkatkan kekhawatiran serangan balasan dari IS kepada negara-negara yang terlibat. Beberapa investor di negara-negara yang terlibat mulai menjual sukuk mereka dan menggunakan hasil penjualannya untuk membeli sukuk yang dikeluarkan oleh Inggris dan Hong Kong.

" Aksi militer yang tidak terencana dan tidak tahu kapan selesainya itu memicu pasar untuk bersikap menunggu sambil memperkirakan dampaknya," Michael Zorich, kepala investasi di CIMB Principal-Islamic Asset Management Sdn mengatakan seperti dikutip Bloomberg, Kamis, 2 Oktober 2014.

Surat utang syariah yang diterbitkan Turki juga mengalami penurunan bulan ini menyusul serangan ISIyang sudah mencapai perbatasan Turki. Imbal hasil sukuk dengan keuntungan 3.803 persen yang akan jatuh tempo Maret 2018 naik sebesar 36 basis poin, paling tinggi sejak Desember 2013, menjadi 3,51 persen.

Penjualan sukuk global telah meningkat 30 persen pada tahun 2014 dari tahun sebelumnya menjadi US$36.3 miliar, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Penerbitan sukuk mencapai US$43.1 miliar tahun lalu. Penerbitan sukuk dunia pernah mencapai rekor tertinggi di tahun 2012, yakni mencapai US$46.5 miliar.

Luksemburg saat ini menjadi satu-satunya pasar sukuk dengan rating AAA dan mereka berencana menjual obligasi syariah mereka tahun ini. Menyusul penjualan sukuk perdana oleh Hong Kong pada bulan September dan Inggris yang sukses menjual sukuk senilai 200 juta pounds ($325 juta) pada bulan Juni.

Pakistan, yang dianggap berisiko tinggi atau sampah oleh Investors Service Moody, berusaha untuk menjual sukuk mata uang asing pertama mereka senilai US$1 miliar sejak 2005. Wilayah Rusia yang kaya minyak Tatarstan yang memiliki peringkat investasi terendah juga siap berburu dana US$200 juta dari penerbitan surat utang perdana mereka.

" Pasar masih mencari sukuk tapi belum menemukan sukuk yang berkualitas tinggi," kata Fakrizzaki Ghazali, dari RHB Research Institute Sdn. di Kuala Lumpur. " Penurunan sukuk kemungkinan didorong oleh risiko geopolitik di seputar negara-negara Teluk. Mungkin ini yang akan menyebabkan kinerja sukuk berkurang dalam beberapa waktu mendatang." (Ism)

Beri Komentar