MUI Gelar International Halal Tourism Conference di Lombok

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 8 Oktober 2019 17:12
MUI Gelar International Halal Tourism Conference di Lombok
Konferensi ini untuk memantau potensi dan gaya hidup di suatu wilayah.

Dream - Majelis Ulama Indonesia akan menyelenggarakan International Halal Tourism Conference di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 10 hingga 11 Oktober 2019.

Ketua Panitia Konferensi Wisata Halal, Muhyiddin Junaedi, mengatakan, acara tersebut nantinya akan membahas mengenai berbagai isu wisata halal, gaya hidup halal dan potensi apa yang bisa dikembangkan di suatu wilayah.

" Pesertanya ini perwakilan negara-negara, perguruan tinggi di luar negeri, lembaga-lembaga halal dari luar negeri dan berbagai lembaga di dalam negeri," ujar Muhyiddin di gedung MUI, Jakarta, Selasa 8 Oktober 2019.

MUI akan menggelar konferesi wisata halal© Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an

MUI akan menggelar konferesi wisata halal (Foto: Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi'an)

Muhyiddin menjelaskan, International Halal Tourism Conference bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat halal dunia.

" Meningkatkan komitmen para pihak guna meningkatkan kualitas kerja sama," kata dia.

Saat ini, Indonesia bersama Malaysia menempati posisi pertama dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019.

1 dari 6 halaman

Cerita Bos OJK Kagum dengan Cara Jepang Promosi Wisata Halal

Dream - Kejelian Jepang melihat potensi halal membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kagum. Terbilang baru di bisnis halal dunia, Negeri Matahari Terbit itu mengeluarkan gebrakan-gebrakan yang menarik perhatian dunia.

" Saya kagum kepada Jepang," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadadcdalam acara " Syariah Economic Outlook: The Islamic Growth in Indonesia" di Jakarta, Selasa 2 Mei 2017.

Muliaman mengatakan Jepang terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2020. Penetapan sebagai tuan rumah perhelatan olahraga terbesar itu membuat Jepang gencar mempromosikan potensi yang dimilikinya. Termasuk membuka pintu kepada ekonomi syariah dan pasar halal.

Pemerintah Jepang berharap event ini akan membuat kunjungan wisatawan muslim ke negaranya akan semakin bertambah. Saat ini pun, para traveler muslim ini lebih mudah mencari menu-menu makanan halal. 

" Sekarang lebih mudah mencari makanan halal di Jepang daripada 10 tahun yang lalu," kata Muliaman.

Selain Jepang, lanjut Muliaman, Korea Selatan kini juga mulai melirik ekonomi syariah. Dikatakan bahwa ada bank dari Negeri Gingseng ini berencana untuk membuka unit syariah.

" Ada bank Korea Selatan yang ingin membuka unit usaha syariah (UUS)," kata dia.

Begitu juga Filipina. Muliaman mengatakan Filipina juga ingin memberdayakan ekonomi syariah di Filipina Selatan. " Ada bank syariah di sana, tapi belum ada yang mengatur. Pemerintah pusatnya ingin mengatur," kata dia.(Sah)

2 dari 6 halaman

Berharap Investasi Saudi di Wisata Halal Indonesia

Dream – Indonesia-Saudi Arabia Business Council (ISABC) menilai peluang bisnis halal di Indonesia cukup besar. Mereka berharap Arab Saudi terlibat dalam pengembangan sektor bisnis halal, terutama di wisata halal.

“ Kami berharap Arab Saudi berminat untuk berinvestasi di dunia halal tourism, khususnya di kawasan Nusa Tenggara Barat, Banten, dan Jawa Barat,” kata President ISABC, Muhammad Hasan Gaido, di Jakarta, dilansir Merdeka.com, Rabu, 24 Mei 2017.

Hasan mengatakan keberadaan ISABC ini bisa mempermudah investor Arab Saudi untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Begitu pula sebaliknya.

Selain itu, ISABC juga dianggap berpotensi meningkatkan hubungan kerja sama di bidang pendidikan, sosial, dan budaya dari kedua negara ini.

“ Ajang dialog bisnis ini bukan sekadar seremonial belaka, tapi diupayakan adanya deal-deal bisnis yang bakal dijalankan kedua negara,” kata dia.

ISABC ini dibentuk sebagai upaya nyata merespons dan memanfaatkan hasil kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia. 

ISABC ini akan menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Arab Saudi yang lebih maju.

Dewan ini menitikberatkan peningkatan kerja sama bilateral, khususnya di bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi Indonesia-Arab Saudi. (Ism) 

3 dari 6 halaman

Cara Indonesia Menjadi Kiblat Wisata Halal Dunia

Dream - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) manargetkan Indonesia menjadi kiblat destinasi wisata halal dunia pada 2019. Untuk itu, Indonesia akan menggencarkan promosi ke berbagai ajang dunia.

Salah satunya dengan mengikuti The 14th Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam ajang tersebut, untuk pertama kalinya Wonderful Indonesia tampil beda dengan menawarkan branding Halal Tourism Indonesia.

" Ini tentunya meningkatkan kepedulian terhadap Wonderful Indonesia sebagai destinasi wisata halal unggulan dunia," ujar Ketua Tim Percepatan Wisata Halal, Riyanto Sofyan, dalam keterangan tertulis, Senin 10 April 2017.

Menurut Riyanto, pagelaran MIHAS menjadi momentum bagi Indonesia untuk lebih mengenalkan wisata halal. Sebab, di tahun sebelumnya, Indonesia cukup sukses mendominasi ajang World Halal Travel Award.

" Jadi MIHAS merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk melaksanakan strategi branding di ajang pameran halal yang mempunyai eksposur termasuk dalam kategori terbesar di dunia," kata Riyanto.

MIHAS 2017 menjadi salah satu event halal terbesar di dunia, dengan 580 exhibitor dari 33 negara, termasuk anggota ASEAN, Timur Tengah, Turki, Brazil, Afrika Selatan, China, Jepang, dan Taiwan, yang menargetkan perwakilan-perwakilan negara, perusahaan-perusahaan, maupun individu yang tertarik dengan produk-produk dan jasa halal.

Target pengunjung tahun ini sejumlah 25.000 orang dari 67 negara, termasuk UEA, Iran, Pakistan, China, Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia. Pada 2016 lalu, MIHAS dkunjungi 22.027 pengunjung dari 75 negara dan menghasilkan transaksi bisnis sebesar RM1.14 miliar, atau setara Rp3.4 triliun.

4 dari 6 halaman

Indonesia Kuasai Wisata Halal Dunia

Dream – Sekarang, wisata Indonesia tak hanya Bali. Cobalah menyebrang ke timur. Dalam jarak tak lebih dari 200 kilometer, Anda pasti menemukan surga baru. Daerah itu bernama Lombok. Pulau Seribu Masjid, julukannya.

Daratan ini tak begitu luas. Kurang dari 5.500 kilometer persegi. Memang lebih sempit dari Pulau Dewata –yang duluan sohor dengan pelancongannya. Tapi yakinlah, tempat-tempat indah tersebar di sana. Tak kalah menakjubkan.

Anda mau plesiran ke mana? Pantai, gunung, atau desa-desa adat? Di sanalah tempatnya. Gili Trawangan, Senggigi, Gunung Rinjani, dan Desa Bayan Beleq, tentu sudah tak asing di telinga kita.

Dan Anda harus tahu, tempat ini sudah jadi referensi turis Muslim dunia. Mari kita simak pengakuan Elena Nikolova, pendiri muslimtravelgirls.comblog yang khusus menulis tempat-tempat wisata ramah bagi kaum Muslim.

Semula, dia bingung saat ditanya rekomendasi tempat bulan madu halal untuk pasangan Muslim. Tapi, setelah mengenal Lombok, dia sudah tak pusing lagi. Pulau di barat Sumbawa ini selalu dia anjurkan untuk didatangi para pembaca setianya.

“ Percaya atau tidak, Lombok telah memromosikan diri sebagai destinasi yang ramah untuk pasangan Muslim dengan banyak pilihan fasilitas halal,” tulis Elena.

Lombok seolah menjadi ikon wisata halal Indonesia. Mereka memang satu-satunya daerah yang saat ini sudah punya peraturan tentang pariwisata halal. Turis Muslim bisa menemukan masjid untuk beribadah, restoran yang menyediakan menu halal, serta vila-vila ‘syariah’ di segala sudutnya.

Anda masih ragu dengan testimoni Elena? Bacalah berita yang masih hangat ini. Lombok baru saja memborong tiga gelar dalam World Halal Tourism Award 2016, ajang yang digelar di Abu Dhabi. Salah satunya untuk kategori World's Best Halal Honeymoon Destination. Tahun lalu, Lombok menyabet dua gelar di ajang yang sama.

 

5 dari 6 halaman

China Mengalahkan Angka

Dan kita boleh berbangga. Lombok bukan satu-satunya wakil negeri kita yang sukses di ajang itu. Dari 16 kategori, 12 penghargaan diboyong Indonesia. Bukan hanya destinasi.... hotel, biro travel, transportasi, bahkan kategori website wisata halal, kita menangkan!

Baca selengkapnya di sini: Jawara Wisata Halal

Grafis: Indonesia Surga Wisata Halal Dunia

Kemenangan ini bukan kebetulan. “ Menurut Pak Menteri bahwa kemenangan itu direncanakan, jangan mengharapkan kemenangan kalau tidak ada rencana,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.

Kemenangan ini harus disyukuri. Setidaknya, bukan sekadar plakat atau sertifikat. Melainkan menjadi momentum menjadikan pelaku wisata halal menjadi semakin percaya diri, dipercaya orang, dan semakin dekat dengan standar global.

“ Karena selama ini halal awards bergengsi selalu didominasi oleh teman dari Turki dan Malaysia, jadi kami serius. Mulai membuat ajang seleksi dari tingkat nasional hingga tim yang diputuskan lolos melaju ke ajang internasional,” papar Pitana.

Dan sejatinya Indonesia memang bak 'surga'. Tempat indah tak hanya Lombok dan Bali, atau juga wakil yang menang dalam ajang WHTA 2016 itu. Jika Anda punya kesempatan menjelajah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, kami jamin takjub. Anda akan melihat ‘surga dunia’ terhampar di bumi Nusantara ini.

***
Seperti kata Pitana, kemenangan ini memang harus diartikan sebagai pendorong rasa percaya diri. Pembakar semangat untuk bersaing dalam pasar wisata halal dunia. Tidaklah berlebihan, karena kue sektor ini memang sangat besar.

Mari kita lihat data Global Islamic Economy Report 2016-2017 yang dikeluarkan Thomson Reuters. Laporan itu menyebut pengeluaran umat Muslim di sekujur Bumi untuk plesiran sekitar US$151 miliar. Jika ditukar dengan rupiah, jumlahnya kira-kira jumlahnya Rp2.025 triliun. Setara 11,2% dari seluruh pengeluaran umat Muslim dunia. Besaran itu di luar pengeluaran untuk perjalanan haji dan umroh.

Jika dibandingkan dengan pengeluaran sektor wisata dari masyarakat negara di dunia, angka itu jadi ke dua terbesar. Hanya China yang mengalahkan angka itu. Selama 2015, rakyat negeri Tirai Bambu ini mengeluarkan duit US$168 miliar atau Rp2.254 triliun untuk melancong.

Anda juga perlu tahu, pengeluaran umat Muslim dunia untuk sektor wisata diprediksi bengkak pada 2021 nanti, menjadi US$243 miliar, sekitar Rp 3.140 triliun, atau sekitar 12,3% pengeluaran kaum Muslim di jagat ini –di luar umroh dan haji.

Soal belanja, turis Muslim asal Saudi paling royal. Selama 2015, pelancong mereka menghamburkan US$19,2 miliar atau sekitar Rp 257,6 triliun untuk belanja di sektor wisata.

Angka itu disusul Uni Emirat Arab dengan US$15,1 miliar atau setara Rp202.6 triliun, Qatar dengan US$11,7 miliar atau Rp 157 triliun, Indonesia Rp122 triliun, dan Kuwait US$9 miliar atau Rp 120,7 triliun.

Potensi besar. Namun wisata halal Indonesia masih tercecer di belakang negara-negara lain. Jika tak segera bangun, sudah pasti kita ketinggalan kereta. Hanya kebagian sedikit dari kue besar bisnis ini.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan, selama 2015 Indonesia hanya mampu mendatangkan wisatawan Muslim –baik yang datang dari dalam dan luar negeri– sekitar 2.211.934 atau 21% dari total 10.404.759 turis yang datang.

Bandingkan dengan Malaysia. Tahun lalu, negeri jiran ini masih memimpin sektor ini dengan 6.185.987 turis Muslim, atau sekitar 24% dari total 25.721.251 wisatawan yang datang ke sana.

Indonesia bahkan masih kalah dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Bahkan, negara terakhir itu menyeret 3.618.211 turis Muslim untuk datang. Angka ini 24% dari total wisatawan yang datang ke negeri yang dulu kita sebut dengan nama Tumasik itu.

6 dari 6 halaman

Jepang dan Korea

Statistik Indonesia memang nomor buncit. Tapi justru itulah yang harus jadi pelecut semangat kita untuk mengejar ketinggalan dari negara lain. Kemenpar terus berbenah. “ Setelah menang, langkah selanjutnya adalah melakukan kalibrasi dan promosi seperti Jepang dan Korea,” ujar Pitana.

Jepang dan Korea memang bukan negeri Muslim. Tapi mereka sangat getol menarget pelancong dari negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Mereka gencar promosi wisata halal.

“ Negara yang non-Muslim saja mengejar potensi ini, kenapa tidak kita gunakan juga kemenangan itu. Dan kita sangat layak memromosikan diri,” tambah Pitana.

Dia menegaskan, industri makanan halal harus segera disiapkan untuk bersaing di sektor wisata syariah ini. Sebab, pada dasarnya pariwisata tidak hanya terfokus pada kesiapan produk, tapi lebih pada tuntutan untuk memenuhi kriteria layanan halal.

“ Makanan halal itu hukumnya mutlak. Kalau kita ke hotel selama tidak menjual wine tidak masalah, tapi kalau makanan halal wajib hukumnya,” terang dia.

Selain itu, Indonesia akan fokus menambah destinasi halal. Namun untuk urusan ini akan diserahkan kepada masing-masing daerah yang merasa sudah siap menyusul Aceh, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat.

“ Kita kembali ke kriteria halal dan kita bisnis untuk mendatangkan wisatawan dari daerah yang mensyaratkan halal. Pasar utama itu wisatawan dari Singapura, Malaysia, China, Korea, Jepang, India, Eropa dan Timur Tengah,” lanjut Pitana.

Dalam waktu dekat, Indonesia juga membenahi tiga hal. Pertama atraksi, yaitu menyiapkan daya tarik produk atau tempat wisata halal. Ke dua, akses yang mudah menuju tempat wisata. Dan terakhir amenitas atau fasilitas yang mumpuni untuk mendukung.

Pengamat keuangan syariah, Syakir Sula, mengatakan, pertumbuhan wisata halal Indonesia mengalami kemajuan sangat pesat. Namun belum ada hitungan angka pasti tentang besarnya potensi sektor ini.

“ Promosi yang sangat baik dalam mengenalkan wisata syariah di Indonesia ini akan mendorong pariwisata halal yang baik di 2017. Walaupun kita belum punya parameter, dan tahun depan baru kita punya angka-angka,” ujar Syakir.

Menurut dia, promosi yang dilakukan pemerintah untuk mengenalkan makanan dan hotel halal kepada wisatawan dunia sudah bagus. Buktinya, Indonesia bisa menyabet 12 gelar dalam ajang WHTA 2016.

Dia berharap lebih serius menggarap wisata halal yang belum maksimal ini. Terutama industri travel yang mulai menyasar pasar Timur Tengah. Sehingga dampak wisata halal dirasakan daerah-daerah di Tanah Air.

“ Saya kebetulan sedang bersama Gubernur NTB, dan dia ceritakan sepanjang 2016 banyak sekali wisatawan Timteng yang dulunya cuma tahu Turki dan Malaysia sekarang ke Lombok,” lanjut Syakir.

Dia optimis sektor wisata syariah akan tumbuh signifikan. Dia melihat Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Komite Keuangan Syariah sangat serius mendorong semua kegiatan yang terkait dengan syariah di Indonesia.

“ Saya rasa ini dahsyat sekali, membuat komite di bawah Presiden langsung jadi menurut saya tiga tahun ke depan akan mengalami pertumbuhan luar biasa,” kata dia.

“ Baru 5 persen yang jalan berarti ada 95 persen market share ekonomi syariah yang belum tergarap. Ayo dikembangkan,” pungkas Syakir.

Dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, mayoritasnya adalah Muslim. Itu adalah modal luar biasa untuk menopang ambisi merebut ceruk wisata halal yang besar ini. Semoga berhasil. Amin.

Laporan: Ratih Wulan Pinandu

Beri Komentar