Bernilai Rp13.660 T, Valuasi Induk Google Kini Setara Apple

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 17 Januari 2020 18:36
Bernilai Rp13.660 T, Valuasi Induk Google Kini Setara Apple
Mengapa nilainya bisa melejit ya?

Dream - Induk perusahaan Google, Alphabet, kini bisa sejajar dengan Apple dan Amazon. Perusahaan ini mencetak nilai kapitalisasi pasar mencapai US$1 triliun atau sekitar Rp13.660,4 triliun.

Dikutip dari The Verge, Jumat 17 Januari 2020, valuasi perusahaan meningkat setelah harga saham naik 0,87 persen menjadi US$.1.451,7 atau Rp19,83 juta per lembar saham pada penutupan perdagangan saham, Kamis, 16 Januari 2020.

CEO Google, Sundar Pichai, mengambil alih posisi CEO Alphabet pada Desember 2019. Pengambilalihan ini dilakukan setelah pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, melepaskan kendali atas Alphabet.

Alphabet dijadwalkan melaporkan pendapatan kuartal keempat pada 3 Februari 2020. Analis Wall Street memperkirakan pendapatan perusahaan raksasa asal Amerika Serikat ini naik 20 persen jadi US$46,9 miliar (Rp640,67 triliun). 

Dengan menjadi perusahaan US$1 triliun, Alphabet menambah daftar perusahaan yang memiliki nilai pasar serupa. Ketiga “ pendahulu” Alphabet adalah Apple, Amazon, dan Microsoft. Perusaahan selanjutnya yang akan mengekor Alphabet adalah Facebook.

1 dari 5 halaman

Bukan Apple, Perusahaan Termahal Sepanjang Sejarah Ada di Indonesia

Dream – Ketika ditanya perusahaan termahal di dunia, kita pasti akan langsung menyebut nama Apple, Microsoft, atau Saudi Aramco. Jawaban itu memang tak sepenuhnya salah. Setidaknya untuk saat ini.

Tahukah Sahabat Dream jika perusahaan termahal di dunia sepanjang sejarah ternyata berdiri di Indonesia. 

Perusahaan yang bernilai paling tinggi di dunia sepanjang masa yang ada di Indonesia itu adalah Verenidge Oost—Indische Compagnie atau sering disingkat VOC.

 

 © Dream

Nama VOC yang merupakan perusahaan kongsi dagang milik Belanda ini pasti dikenal oleh semua orang Indonesia.

Dikutip dari Visual Capitalist, Selasa 11 Juni 2019, VOC didirikan pada 1602. Meskipun berupa sekutu dagang, perusahaan ini mendapatkan hak istimewa dari pemerintah Belanda. Mereka mendapatkan monopoli perdagangan dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat misterius dan asing.

 

2 dari 5 halaman

Nilai Perusahaan VOC Rp112.634 Triliun

VOC bisa mendapatkan barang-barang eksotis, membangun koloni, bahkan bisa menciptakan militer dan memulai perang atau konflik!

 VOC menjadi perusahaan terkaya di dunia.© Visual Capitalist.

Selama 21 tahun, perusahaan ini diberikan monopoli dagang oleh pemerintah Belanda untuk berdagang rempah-rempah di Asia. VOC mengirim lebih dari satu juta pelayaran ke Asia. Jumlah ini melebihi pelayaran seluruh Eropa.

Sekadar informasi, tak ada tolok ukur yang nyata untuk menentukan nilai perusahaan ini. Tapi, VOC bisa “ diukur” dari masa kejayaannya pada 1637. Kala itu terjadi Tulip Mania di Belanda.

Para periode tersebut, perusahaan yang juga sempat mencengkeram pengaruh mereka di Indonesia ini bernilai 78 juta gulden atau sekitar US$7,9 triliun (Rp112.634,77 triliun) pada zaman modern.

 

3 dari 5 halaman

Setara 20 Perusahaan Berkelas Dunia

Menariknya, VOC memiliki nilai yang sama dengan PDB Jepang senilai US$4,8 triliun (Rp68.436,32 triliun) ditambah dengan Jerman US$3,4 triliun (Rp48.475,72 triliun).

Lalu, nilai VOC sama dengan 20 perusahaan terbesar dunia. Sebut saja, Microsoft, Apple, Amazon, ExxonMobil, dan Tencent. Bahkan, nilai Apple hanya 11 persen dari VOC.

Perusahaan kongsi dagang ini memiliki 70 ribu karyawan dan bertahan lebih dari 400 tahun (perusahaan ini bangkrut pada 1799).

Sebagai perbandingan, ini adalah perusahaan kelas dunia yang mencapai puncak.

  • Saudi Aramco: US$4,1 triliun (Rp58.456,02 triliun) mendapatkan puncak pada 2010.
  • PetroChina: US$1,4 triliun (Rp19.960,59 triliun) pada 2007.
  • Standard Oil: US$1 triliun (Rp14.257,57 triliun).
  • Microsoft: US$912 miliar (Rp13.002,9 triliun).

4 dari 5 halaman

Dream - Rekor perusahaan dengan profit terbesar di dunia kini tidak lagi dipegang oleh Apple. Rekor tersebut kini dipegang oleh Saudi Aramco.

Dikutip dari New York Times, Selasa 2 April 2019, perusahaan minyak terbesar di dunia milik Kerajaan Arab Saudi mencatatkan pendapatan sepanjang 2018 sebesar US$111,1 miliar, setara Rp1.582,14 triliun. Angkanya dua kali dari pendapatan Apple Inc. yang mencapai US$59,5 miliar, setara Rp852,3 triliun.

Tak hanya itu, jumlah pendapatan tersebut melebihi catatan pencapaian profit dua raksasa minyak dunia, Royal Dutch Shell dan Exxon Mobile. Sepanjang 2018, dua perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan masing-masing US$23,9 miliar, setara Rp340,35 triliun dan US$20,8 miliar, setara Rp296,2 triliun.

Selain membukukan pendapatan terbesar di dunia, Aramco siap merilis surat utang senilai US$15 miliar, setara Rp213,61 triliun. Instrumen ini disiapkan untuk menekan ketergantungan pendapatan Pemerintah Saudi dari sektor industri minyak dan gas.

Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohamed bin Salman, ingin mendiversifikasi ekonomi negara agar tidak melulu mengandalkan sektor energi. Beberapa langkah yang ditempuh seperti menempatkan kekayaan negara pada investasi di perusahaan teknologi seperti Tesla dan Uber.

5 dari 5 halaman

Jual Saham untuk Biaya Diversifikasi

Sebelumnya, Saudi Aramco sempat berencana melakukan penjualan saham untuk membiayai diversifikasi tersebut. Tetapi, rencana penjualan saham itu akhirnya ditunda pada tahun lalu.

Penjualan saham di Saudi Basic Industries, perusahaan petrokimia, jadi alternatif untuk mengumpulkan dana.

Sementara itu, Mohamed mencari sumber investasi baru dan mencoba pulih dari kejatuhan politik akibat kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khasoggi tahun lalu. Terdapat rencana Aramco tengah didorong menjadi produsen energi yang lebih luas.

Direktur Utama Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan sedang mengejar akuisisi internasional di bidang-bidang seperti gas alam cair yang bisa diangkut menggunakan kapal.

[crosslink_1]

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna