Arabiangazette.com
Inilah saatnya Indonesia bergegas mengembangkan sistem keuangan syariah. Sejumlah analis ekonomi menilai potensi pasar syariah di Tanah Air bakal melejit dan diincar para pemodal negara muslim.
Para analis itu juga menilai bisnis keuangan syariah Indonesia sangat tertinggal jauh dibandingkan pesaingnya. Padahal dengan status negara muslim terbesar dunia, potensi pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air terbuka sangat lebar.
Dream.co.id mengutip laporan Zawya.com, yang menulis bahwa Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia, negeri serumpun yang telah mengembangkan pasar keuangan islami semenjak beberapa dekade yang lalu.
Malaysia bahkan telah bertekad menjadi pusat pasar keuangan syariah terbesar di kawasan regional. Negara tetangga itu bahkan bercita-cita menjadi penerbit obligasi syariah, sukuk, terdepan di dunia.
Jika dibandingkan dengan Malaysia perkembangan ekonomi syariah di Indonesia memang tertinggal agak jauh. Aset perbankan syariah Indonesia baru mencapai 4,9%, jauh dibelakang Malaysia sebesar 21% dan Arab Saudi 23%.
Meski tertinggal, bisnis syariah di Indonesia terus bergerak. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga akhir 2013 memperlihatkan bahwa pertumbuhan aset perbankan sebesar 24,2% menjadi US$ 21,4 miliar.
Aset-aset ini hanya ditangani oleh 11 Bank Umum Syariah (BUS) dan 23 unit usaha syariah milik perbankan konvensional. " Ada alasan kuat mengapa sektor syariah Indonesia akan semakin kuat," ujar laporan tersebut.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah membangun proyek infrastruktur berskala besar. Tak kurang dari US$ 200 miliar dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan. Untuk membiayai megaproyek ini, tak ada instrumen keuangan yang cocok selain sukuk.
Sayangnya, masih ada sejumlah kendala untuk membangun pasar keuangan syariah di Tanah Air. Dukungan kebijakan diperlukan untuk menunjang perkembangan pasar syariah itu.
" Sistem keuangan syariah memang salah satu bagian dari ekonomi Islam. Namun ini memiliki potensi besar di Indonesia," ujar Anggota Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo)
Meski memiliki lembaga keuangan dengan kapitalisasi cukup menyakinkan, bank konvensional masih khawatir untuk membiayai proyek jangka panjang. Hal ini tentu saja berbeda dengan pola pembiayaan sukuk.
Di sisi lain, pemilik modal dari Timur Tengah kini tak hanya menunggu program sukuk Indonesia. Para investor ini juga tengah menelisik bisnis-bisnis yang bisa dimasuki baik lewat inisiatif bisnis, merger, akuisisi, maupun model lainnya.