Pejuang Subuh Terbang ke London

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 9 Maret 2018 19:50
Pejuang Subuh Terbang ke London
Memulai dengan menginspirasi dari diri sendiri mereka membuat konten-konten yang mencerahkan masyarakat.

Dream – “ Ada yang mau aku omongin,” kata Ratih. Perempuan yang baru saja turun dari jok belakang motor itu memasang wajah serius. Menatap Angga dalam-dalam.

“ Di WhatsApp aja ya,” jawab Angga dengan enteng. Wajahnya masih tenang. Tetap mengumbar senyuman.

“ Kita putus,” sambar Ratih.

Angga menggeragap. Bibir langsung mengerut. Senyuman yang semula mengembang langsung layu. Buru-buru ditarik. Kata-kata Ratih bak petir di siang bolong. “ Ha?” dia memastikan, sambil memasang muka culun.

Di depan gerbang, Ratih terus memasang muka datar. Kerudung merah jambu tak mampu meramaikan wajah. “ Aku capek. Setiap hari aku bangunin kamu Subuh, tapi kamu malah tidur lagi lah, handphonenya kamu matiin lah,” kata Ratih, dengan kesal.

“ Ya tapi kan aku bangun pagi jam tujuh, habis itu sholat Subuh,” kilah Angga. Ratih tak menggubris. Dia menjawab ketus, “ Duha namanya, bukan Subuh!”

Lidah Angga makin kelu, tak lagi bisa bersuara. Semua kata seolah menggumpal di kerongkongan. Semua tersumbat. Hanya satu tanya yang keluar, dan itupun dengan lirih. “ Seriusan?” Angga masih mencari penegasan vonis itu.

“ Gimana mau jadi imam rumah tangga, kalau imamin diri sendiri saja enggak bisa. Assalamualaikum.” Kata Ratih. Dia lalu berpaling, menyelinap di sela pintu gerbang, dan menutupnya.

“ Sayang, Ratih,” kata Angga sambil memburu sang kekasih. Tapi pintu gerbang sudah ditutup. “ Wa’alaikum salam,” dia menjawab pelan salam Ratih yang sudah berlalu.

Itulah cuplikan film pendek Cinta Subuh. Serial ini viral di media sosial tiga tahun silam. Film bikinan Film Maker Muslim ini penuh pesan moral, tanpa menggurui. Tema berat kehidupan sehari-hari disuguhkan ringan. Polemik berbalut komedi. Sangat young. Cocok untuk kaum milenial.

“ Cinta Subuh adalah film pendek yang menceritakan tentang perjuangan Angga untuk melakukan sholat Subuh tepat waktu di masjid berjamaah,” tulis Film Maker Muslim.

Jadilah serial itu digemari. Terutama kaum muda. Dari tiga seri yang dibuat, semua laris manis. Menjadi viral. Rata-rata sudah ditonton lebih dari sejuta kali. Episode pertama sudah satu juta enam ratus ribu kali dilihat.

Film Maker Muslim berada di balik sukses itu. Nama mereka sebagai rumah produksi yang membuat serial ini melambung. Dikenal banyak orang, terutama netizen. Sejak itu, mereka dikenal melalui film-film dengan nilai positif.

Melalui karya-karya mereka pula, Film Maker Muslim terpilih mengikuti ajang Youtube Creator For Change. Forum yang dibentuk Youtube untuk membuat konten-konten positif guna memerangi informasi negatif.

1 dari 2 halaman

Terhimpit modal produksi

Fim Maker Muslim lahir pada 2012. Dibidani empat sekawan, Amrul Ummami, Muhammad Ali Ghifari, Ryan Kurniawan, dan Andre Muhammad Adin. Mulanya, mereka memberi nama WANT Production untuk rumah produki ini.

Tak mudah bagi empat sekawan ini. Jalan berliku harus mereka lewati. Dana menjadi kendala utama. Modal mereka cupet. Hingga pernah ke titik nadir. Rumah produksi mereka nyaris gulung tikar. “Jadinya kami nyari solusi untuk nutupin itu,” kata Amrul.

Mereka memang punya kas. Namun, kantong pribadi tak bisa terus menerus dirogoh. Apalagi saku mereka termasuk kurang dalam. Tapi, di tengah himpitan itu, muncul ide untuk membuat film religi.

“Sebelum kami bubar, ingin mencoba bikin sesuatu yang belum pernah kami coba, bikin film religi,” kata sutradara film itu, Amrul.

 

Kapan pertama kali kamu nonton film #CintaSubuh? . Gimana awalnya kamu bisa tahu film #CintaSubuh? . Apakah film #CintaSubuh memberikan pengaruh positif untuk kamu? . Yuk, share cerita kamu, tentang pengalamanmu dengan film #CintaSubuh. Boleh cerita di comment, boleh cerita via DM. Tiga cerita paling menarik bakal dapat marchandise eksklusif dari FMM. Cerita kamu kami tunggu sampai hari Kamis, 14 Desember 2017 jam 12 malam. . #3TahunCintaSubuh #CintaSubuh #filmpendek #filminspirasi #filmbaik #filmpositif #filmindonesia #filmmakermuslim

A post shared by FMM Studio (@filmmakermuslim) on

 

Dari kisah itulah, film pendek Cinta Subuh lahir. Mereka berganti baju menjadi Film Maker Muslim. “Ini film Islami pertama bagi kami,” tambah Amrul.

Kisah film ini terinspirasi para pendiri Film Maker Muslim. Sholat subuh mereka memang masih bolong-bolong. Lewat film itulah mereka punya tujuan sederhana, menginspirasi diri sendiri.

“Waktu itu kan kami jarang sholat Subuh, bolong-bolong atau sudah siang baru sholat Subuh,” ucap dia.

Tak ikut arus. Itulah kunci sukses Film Maker Muslim. Mereka sudah memilih warna. Konsisten mengangkat nilai-nilai Islami. Mereka mengemasnya dengan renyah. Menyasar kaum muda usia belasan hingga dua puluhan.

Tak disangka, film yang mereka produksi digandrungi panyak orang. Penonton terus mengalir, bahkan banyak di antara netizen mengikuti akun Youtube mereka. Hingga tulisan ini dibuat, akun mereka diikuti 201.175 pelanggan.

Menurut perangkingan akun media sosial, Social Blade, Film Maker Muslim tergolong B -. Setelah film Cinta Subuh itu, mereka terus mengeluarkan karya-karya lain. Semua konten yang mereka buat menyebarkan nilai-nilai positif.

2 dari 2 halaman

Terbang ke London, tebar inspirasi

Pengakuan pada konten Film Maker Muslim tak hanya datang dari netizen. Youtube bahkan mengundang mereka ke London pada Juli 2017. Mereka dipilih mengikuti Youtube Creator For Change. Youtube tak sembarangan mengundang pembuat konten untuk ajang ini.

“Ketika itu, channel Film Maker Muslim itu dianggap membawa nilai positif,” ucap Amrul.

Selama tiga hari di Negeri Ratu Elizabeth, mereka diberi kesempatan belajar, mencecap ilmu baru untuk membuat konten positif melalui workshop. Film Maker Muslim juga diundang dalam acara Creator Summit YouTube di London pada 23 Januari 2018 untuk menentukan konten-konten positif di 2018.

“Di sana pengarahan, jadi nanti bikin konten positif, terus gimana caranya, temanya, yang diangkat tuh rata-rata Islam pobia, ekstremisme, radikalisme, kayak ekslusifisme. Jadi nilai-nilai yang jadi keresahan dunia yang diangkat,” tutur Amrul.

 

Perjalanan panjang kami bersama @daarul_quran telah membawa kami menuju negeri ksatria, tempat dimana Google dan Youtube mengakui kapabilitas kami sebagai 'Creator yang Membawa Perubahan' atau #creatorsforchange. Di antara para peserta #creatorsforchange, kami merupakan satu-satunya creator yang mengangkat film islami sebagai sajian utama channel youtube kami. . Terimakasih kepada ustadz-ustadz kami @yusufmansurnew @anwarsani_daqu @tarmizi_as @ahmadjameelnew yang telah membimbing dan mendukung kami hingga sejauh ini. Tak lupa terimakasih kepada para subscribers dan followers kami yang sudah mendukung dengan menonton film-film kami dan mendatangi event-event kami... . Mohon doa dan dukungannya selalu agar kami bisa terus menghasilkan karya-karya yang bermanfaat...

A post shared by FMM Studio (@filmmakermuslim) on

Menurut Amrul, Film Muslim Maker terpilih dalam ajang itu karena konsisten membuat konten positif. Meski identik dengan Muslim, konten-konten yang mereka hasilkan bisa diterima oleh semua kalangan.

“Kalau orang lihat kan Muslim, itu takut nih pahamnya terlalu konservatif nih, terlalu kaku nih, beda dengan Film Maker Muslim. Jadi Film Maker Muslim masuk ke semua kalangan," ujar dia.

Youtube Creator For Change, kata dia, telah membawa harapan baru bagi pengguna dan penyumbang konten di Youtube. Selain inspirasi, Youtube ingin mengajak pembuat konten menangkal ujaran kebencian dan paham ekstrimisme.

Tak hanya ikut pelatihan di London, Film Maker Muslim juga memberikan workshop di Indonesia. Hingga November 2017, sebanyak 1.800 pelajar di 10 kota diberikan pemahaman mengenai konten positif yang menginspirasi.

 

Beri Komentar
Belajar Jadi Orangtua yang Lebih Baik di Fimelahood #MindfulParenting