Perjuangan Bankir Internasional Terjun ke Bisnis Syariah

Reporter : Syahid Latif
Minggu, 9 Agustus 2015 09:02
Perjuangan Bankir Internasional Terjun ke Bisnis Syariah
Tak hanya itu, Samina Akram harus melawan anggapan keliru yang masih berkembang di industri syariah negeri Teluk.

Dream - Samina Akram rela meninggalkan pekerjaannya di sebuah lembaga keuangan ternama, Merrill Lynch International Bank. Keputusan delapan tahun lalu itu menuntunnya mendirikan firma konsultasi sendiri di London yang mengkhususkan diri di bidang keuangan yang sesuai dengan aturan syariah.

Langkah Samina tentunya mengejutkan. Apalagi dia memilih berusaha untuk memberdayakan perempuan dalam perbankan syariah. Inilah bidang usaha yang sangat didominasi oleh kaum laki-laki.

Memulai karir sebagai tenaga administrasi, Samina diberikan promosi naik ke bagian manajemen kekayaan Islam Merrill Lynch. Dia meninggalkan bank tersebut pada tahun 2009 ketika bank-bank investasi mulai menyewa konsultan keuangan Islam eksternal, bukan konsultan internal.

" Saya adalah orang luar yang tidak memiliki pengalaman langsung dalam industri dan menjadi seorang perempuan tentu tidak membantu," kata Samina melalui email seperti dikutip laman compasscayman.com, Minggu, 9 Agustus 2015.

" Kesulitan khusus saya di industri membuat saya menyadari kesulitan yang dihadapi perempuan dan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. Saat itulah muncul ide melahirkan Women in Islamic & Ethical Finance Forum" .

Tingkat pengangguran perempuan lima kali lebih tinggi dari laki-laki di Teluk. Dan jumlah perempuan yang memiliki jabatan eksekutif tertinggi kurang dari 1 persen. Menjadikan Teluk sebagai salah satu wilayah dengan jumlah eksekutif perempuan terkecil di seluruh dunia, menurut sebuah laporan oleh McKinsey Middle East tahun lalu.

Studi ini mengatakan harapan sosial dan kurangnya program kepemimpinan serta kesempatan membangun jaringan sebagai alasan utama terjadinya kesenjangan di wilayah tersebut, termasuk Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab.

" Baru-baru ini saja negara-negara anggota GCC menyadari bahwa perempuan memiliki suara ekonomi yang kuat," kata Akram.

Beri Komentar