MES Buka Perwakilan di Luar Negeri, Bisa Enggak Jual Produk Halal Indonesia?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 21 Juni 2021 16:13
MES Buka Perwakilan di Luar Negeri, Bisa Enggak Jual Produk Halal Indonesia?
Indonesia memang berkeinginan jadi nomor wahid di produsen halal dunia.

Dream – Perwakilan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di luar negeri berperan penting untuk memperkuat rantai nilai halal di Indonesia di pasar global. Indonesia memang menargetkan menjadi pemimpin produsen halal di dunia pada 2024.

“ Kehadiran perwakilan MES di luar negeri akan membuka pintu-pintu kesempatan baru untuk mempromosikan produk halal di Indonesia di tingkat internasional, serta memperkuat ekonomi dan keuangan syariah kita,” kata Menteri BUMN, Erick Thohir, dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekjen MES, Iggi H. Achsien, dalam Opening Ceremony “ Road to ISEF 8th 2021: Halal Products, Beyond Halal Compliance”, pada Senin 21 Juni 2021, dikutip dari Liputan6.com.

Erick berharap para pengurus yang ditunjuk bisa mendorong kemajuan industri halal Indonesia ke pasar dunia. “ Bersama-sama kita ubah tantangan menjadi kesempatan, kesempatan menjadi kemajuan, dan kemajuan menjadi kesuksesan berkelanjutan. Ini perlu energi, sinergi, inovasi dan konsistensi. Inisiatif-inisiatif hari ini adalah bagian dari ikhtiar tersebut,” kata dia.

Energi, sinergi, inovasi, dan konsistensi, harus dilakukan dari hulu ke hilir. Dalam hal ini termasuk peran pemerintah, pelaku usaha dan organisasi seperti MES melalui berbagai program dan kemitraan yang strategis.

1 dari 2 halaman

Optimistis

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid, optimistis kedekatan Indonesia dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menjadi salah satu modal bagi Indonesia untuk tampil sebagai produsen dan eksportir produk halal terbesar dunia. Dikatakan bahwa organisasi ini beranggotakan 57 negara atau setara dengan 24,1 persen dari total populasi Muslim dunia yang mencapai 1,86 miliar jiwa.

“ Saat ini, palm oil menempati posisi teratas yaitu 23,88 persen sebagai komoditas yang paling banyak diekspor ke negara-negara OKI. Kemudian, batu bara 9,56 persen dan alat-alat kendaraan 3,95 persen. Produk-produk halal kita juga tidak kalah bersaing dengan negara-negara lainnya. Kita punya makanan, minuman, busana muslim, kosmetika, dan pariwista halal,” kata Arsjad di Jakarta.

Arsjad mengatakan, sektor industri halal yang identik dengan kebutuhan umat muslim, merupakan ekosistem dengan potensi ekonomi yang sangat besar.

2 dari 2 halaman

Berperan Signifikan

State Global Islamic Economic Report 2020-2021, melaporkan tingkat konsumsi masyarakat muslim dunia mencapai US$2,02 triliun (Rp29.145,57 triliun) untuk bisnis makanan, farmasi, kosmetik, fesyen, perjalanan, media, dan rekreasi halal.

Misalnya, pengeluaran masyarakat muslim dunia terhadap modest fashion mencapai US$277 miliar (Rp3.996,69 triliun) atau naik 4,2 persen tahun sebelumnya. Diperkirakan pengeluaran bidang fesyen akan meningkat jadi US$311 miliar (Rp4.487,26 triliun).

Menurut Arsjad, industri halal berperan signifikan bagi kinerja neraca perdagangan nasional. Sepanjang bulan Januari-Agustus 2020, neraca perdagangan Indonesia dengan anggota OKI menunjukkan kinerja yang positif, yaitu surplus US$2,46 miliar (Rp35,49 triliun) dan membukukan ekspor senilai US$12,43 miliar (Rp179,35 triliun).


(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

Beri Komentar