Pulihkan Ekonomi Indonesia, Pemerintah Main Rem dan Gas Dijaga Seat Bealt

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 5 Agustus 2020 18:45
Pulihkan Ekonomi Indonesia, Pemerintah Main Rem dan Gas Dijaga Seat Bealt
Pemulihan ekonomi diharapkan mulai segera berjalan di kuartal III-2020

Dream - Pemerintah akan mengawal pemulihan roda ekonomi Indonesia memasuki kuartal III-2020 dengan sistem gas dan rem ala kendaraan bermotor. Strategi ini diharapkan bisa memulihkan perekonomian yang terdampak pandemik Covid-19.

Untuk mendukung sistem pengawal tersebut, pemerintah juga membuat sabuk pengaman (seat belt) dalam bentuk Jaring Pengaman Sektor Keuangan.

Menko Perekonomian Airlangga Hartanto menegaskan kesehatan dan perekonomian adalah dua sisi mata uang yang keduanya harus berjalan beriringan.

Analogi pedal rem diterjemahkan pemerintah dalam bentuk program Jaring Pengaman Kesehatan (JPK). Pedan ini harus diinjak untuk menekan kurva Covid-19.

Sementara pedal gas merupakan ilustrasi agar pemerintah perlu mendorong Jaring Pengaman Sosial (JPS), Jaring Pengaman Sektor Riil (JPRS) dan sumber-sumber pendanaan melalui sistem penjaminan.

" Diantara gas dan rem ini adalah faktor kesehatan, tenaga kesehatan dan vaksin," kata Airlangga dalam konferensi pers Strategi Pemulihan Ekonomi Nasional dan Rilis PDB kuartal II tahun 2020 secara virtual di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2020.

Terkait vaksin, Airlangga mengatakan pemerintah sedang mempersiapkan untuk diproduksi oleh Biofarma baik tahun 2020 maupun 2021. " Beberapa perusahaan dalam tanda petik sudah dalam clinical trial ke-2 dan ke-3, baik yang bekerjasama dengan Sinovac, Senexin, Sinopharm, CEPI, yang terkait dengan Oxford dan yang lain," ungkapnya.

 

1 dari 5 halaman

Berharap Uang Berputar di Pemilukada

Program perekonomian juga menjadi perhatian agar mata pencaharian masyarakat didorong tanpa melupakan program pelayanan kesehatan yang terus dijaga. " Apalagi kita akan menghadapi Pemilukada di bulan Desember," jelasnya.

Pemilukada diharapkan pemerintah akan menjadi faktor pengungkit konsumsi mengingat dana beredar untuk penyelenggaraannya mencapai sekitar Rp24 triliun. Potensi perputaran uang juga bisa muncul dari dana yang akan dikeluarkan para calon Bupati, Walikota dan Gubernur bisa minimal Rp10 triliun sendiri.

Dari dua sumber dan itu diharapkan Pemilukada akan memmutar dana di masyarakat sekitar Rp34 triliun.

" Itu akan meningkatkan konsumsi terutama untuk alat-alat peraga bagi para calon, termasuk masker, hand sanitizer dan alat-alat kesehatan lain," tuturnya.

Untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, pemerintah juga telah menganggarkan dana baik dari program kesehatan, perlindungan sosial, insentif usaha. Menko mendesak agar Kementerian/Lembaga untuk memaksimalkan anggarannya di kuartal ke-3 karena sudah disiapkan dan tinggal dilaksanakan. (Sah)

2 dari 5 halaman

Dua Bisnis Paling Menjanjikan Saat Pandemik Covid-19 Berakhir

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bisnis dua sub sektor industri pengolahan di Indonesia akan menjanjikan di tengah pandemik Covid-19. Kedua sektor bisnis tersebut adalah industri Makanan dan Minuman (Mamin) serta farmasi.

Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2020, Rabu, 5 Agustus 2020 menyatakan, peluang kedua bisnis ini cukup menjanjikan jika daya beli masyarakat Indonesia sudah kembali pulih pasca Covid-19.

Menurut Suhariyanto, industri pengolahan pada kuartal II-2020 memang mengalami penurunan cukup tajam dengan mencatat kontraksi 6,19 persen. Namun di tengah pertumbuhan negatif itu masih ada empat subsektor non-migas yang melaporkan kinerja positif.

Khusus untuk industri makanan dan minuman, Suhariyanto meyakini bisnis ini akan menjanjikan di masa depan terutama ketika daya beli masyarakat makin meningkat. Dengan share yang cukup besar, diharapkan pemulihan pada industri ini akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

 

3 dari 5 halaman

Bisnis yang Booming Saat Ini

Bisnis lain yang menjanjikan di saat perlambatan ekonomi Indonesia adalah produksi kimia, farmasi dan obat tradisional. Mengutip laporan survei Covid-19 yang dibuat BPS diketahui jika kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga daya tahun tubuh itu semakin meningkat

Survei BPS mencatat pengeluaran masyarakat untuk kesehatan jauh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dan tahun lalu.

Suhariyanto juga menyampaikan rasa optimismenya jika industri pengolahan akan kembali bergerak. Keyakinan itu merujuk pada data Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia yang meningkat pada Juni 2020.

Index PMI Indonesia pada bulan Juli 2020 dilaporkan naik menjadi 46,9 dari sebelumnya 39,1 di bulan Juni 2020. " Sedikit lagi mencapai 50. Ini baru posisi Juli diharapkan bisa menembus 50 dan industri pengolahan kembali akan positif karena kontribusi pada PDB sangat besar sekali," ujar Suhariyanto.(Sah)

4 dari 5 halaman

3 Bisnis Paling Tahan Banting Saat Ekonomi Indonesia Terancam Resesi

Dream - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mencatat minus 5,32 persen. Dari 17 sektor usaha yang diamati, Badan Pusat Stastik (BPS) melaporkan masih ada 3 bisnis yang mencatat pertumbuhan positif secara Q to Q.

" PDB dari lapangan usaha mengalami kontraksi 4,19 persen Q to Q," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam keterangan pers virtual, Rabu, 5 Agustus 2020.

Menurut Suhariyanto, hampir seluruh lapangan melaporkan pertumbuhan negatif di kuartal II-2020. Namun demikian, data BPS menunjukan masih ada tiga sektor bisnis yang masih bisa melaju positif di tengah ancaman resesi ekonomi Indonesia.

Ketiga lapangan usaha yang masih kokoh di saat pertumbuhan ekonomi negatif tersebut adalah pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh 16,24 persen. Disusul sektor usaha informasi dan telekomunikasi yang tumbuh 3,44 persen. Serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang dengan pertumbuhan 1,28 persen.

Diungkapkan Suhariyanto, lapangan usaha pertanian bahkan mengalami pertumbuhan signifikan selama kuartal II-2020. Pada kuartal I-2020, sektor ini mencatat pertumbuhan 9,46 persen dibandingkan kuartal IV-2019.

Sementara di sisi berseberangan, BPS juga melaporkan adanya kontraksi pertumbuhan yang cukup tajam di beberapa lapangan usaha yang selama ini berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan negatif sebesar 29,22 persen. Disusul lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 22,31 persen serta jasa lainnya sebesar 15,12 persen.

" Triwulan ketiga saya mengajak membangun optimisme. sejak ada relaksasi PSBB sudah ada geliat dibandingkan pada yang terjadi dari bulan Mei meskipun masih jauh dari kondisi normal," ujar Suhariyanto.

5 dari 5 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2020 Minus 5,32% Terpukul Covid-19

Dream - Pertumbuhan ekonom Indonesia pada kuartal II-2020 tercatat mengalami kontraksi 5,32 persen (year on year). Kinerja perekonomian Indonesia ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan posisif sebesar 2,97 persen pada kuartal I-2020.

Melambatnya ekonomi dunia yang terpapar wabah Covid-19 ikut memukul laju perekonomian Indonesia.

" Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 secara y on y dibandingkan triwulan II-2019 mengalami kontraksi -5,32 persen," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam keterangan pers virtual, Rabu, 5 Agustus 2020.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia  pada triwulan II-2020 ini jika dibandingkan triwulan I-2020 (q to q) megalami kontraksi atau minus 4,19 persen.

Menurut Suhariyanto, pandemi Corona yang melanda Indonesia sejak awal tahun menjadi penyebab utama penurunan pertumbuhan ekonomi ini. Pandemi Covid-19 telah menciptakan efek domino dari masalah sosial dan ekonomi, dan dampaknya menghantam seluruh lapisan masyarakat mulai dari rumah tangga, UMKM hingga korporasi.

Berbagai indikator bisnis juga tak memberikan kabar baik bagi perekonomian Indonesia dan dunia. Harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional pada kuartal II 2020 secara umum tercatat mengalami penurunan baik q to q maupun yoy.

Sementara harga komoditas makanan seperti gandum, minyak kelapa sawit dan kedelai mengalami penurunan q to q, tetapi meningkat secara yoy.

" Di satu sisi negara mengutamakan kesehatan dengan menerapkan lockdown, PSBB dan lainnya, di sisi lain pemerintah juga berupaya agar tingkat ekonomi berjalan. Dan untuk menyeimbangkannya bukan persoalan gampang. Dan bisa dilihat, banyak negara yang mengalami kontraksi," kata Suhariyanto.

Beri Komentar