Kabar Baik buat Freelacer, Ini Daftar Profesi Terbanyak Dicari Saat Pandemik

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 10 Oktober 2020 07:01
Kabar Baik buat Freelacer, Ini Daftar Profesi Terbanyak Dicari Saat Pandemik
Apa saja

Dream – Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat beradaptasi dengan keadaan yang ada, termasuk di dunia kerja. Kabar baiknya adalah kesempitan gerak dan aktivitas ini membuat bermunculan jenis pekerjaan baru yang bisa menghasilkan pendapatan lumayan.

Dikutip dari Merdeka.com yang melansir CNBC, Jumat 9 Oktober 2020, Konsultan Global McKinsey & Company menyusun laporan tenaga kerja pasca-pandemi baru. Mereka mensurvei 800 eksekutif bisnis secara global tentang bagaimana rencana mereka terkait penambahan perekrutan selepas pandemi.

Meskipun responden tersebar di berbagai industri dan sembilan negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, China, India, dan Inggris, prioritas negara-negara tersebut masih sama, yaitu kesehatan dan keselamatan, teknologi, dan kegesitan bekerja.

1 dari 3 halaman

Sektor Kesehatan dan Teknologi Banyak Dibutuhkan

Empat dari lima perekrut kerja berencana untuk mempekerjakan lebih banyak peran kesehatan dan keselamatan dalam beberapa bulan mendatang karena wabah tersebut. Posisi teratas adalah monitor jarak jauh atau sanitasi di tempat (73 persen) serta operator kesehatan dan keselamatan tenaga kerja (48 persen).

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa di bawah pandemi semakin banyak peran tersebut yang diotomatisasi atau dilakukan oleh robot.

Lebih dari dua pertiga (68 persen) responden mengharapkan untuk mempekerjakan lebih banyak profesional dalam bidang teknologi dan otomasi. Bidang keahlian yang paling dicari di dalamnya adalah otomatisasi dan kecerdasan buatan (35 persen), digital customer experience (26 persen), internet of things (24 persen), dan cloud (19 persen).

Kenaikan ini mencerminkan digitalisasi bisnis yang cepat selama beberapa bulan terakhir. Laporan tersebut menyatakan bahwa 85 persen perusahaan mempercepat digitalisasi mereka dan 67 persen meningkatkan otomatisasi dan kecerdasan buatan karena krisis.

Di tempat lain, 45 persen eksekutif mengantisipasi peningkatkan perekrutan untuk pembelajaran digital (digital learning) dan cara kerja yang gesit. Di sini, peran yang berkembang termasuk dengan bidang pekerjaan tangkas (32 persen), pembelajaran dan pelatihan digital (14 persen), serta perekrutan sumber daya manusia lewat jarak jauh (13 persen).

2 dari 3 halaman

Pekerjaan Freelance Banyak Dibutuhkan

Karena pandemi, lanskap pekerjaan bergeser dan membuka jalan bagi pekerja lepas. Menurut laporan tersebut, pekerja lepas mengalami lonjakan permintaan untuk pekerja kontrak atau lepas.

Sebagai akibat dari pandemi, tujuh dari sepuluh (70 persen) eksekutif mengatakan mereka berharap untuk mempekerjakan lebih banyak kontraktor dan pekerja sementara di lokasi dalam dua tahun ke depan.

Adanya permintaan tersebut terutama muncul di sektor perhotelan dan perawatan kesehatan yang terpukul paling parah karena ketidakpastian pandemi. Sehingga, para pengusaha enggan mempekerjakan karyawan jangka panjang.

3 dari 3 halaman

Pekerjaan Jarak Jauh

Ketidakmungkinan bekerja langsung di kantor membuat beberapa perusahaan menerapkan kebijakan WFH (bekerja dari rumah). Alhasil, penerapan bekerja jarak jauh ini mengubah pandangan para eksekutif/bos besar di perusahaan.

Secara global, 15 persen eksekutif menyatakan bahwa sepersepuluh dari tenaga kerja mereka awalnya memang bekerja jarak jauh selama kurang lebih dua hari dalam seminggu. Hal ini meningkat dua kali selama pandemi.

Dilansir dari CNBC Make-It, pekerjaan pekerjaan jarak jauh lebih mungkin dilakukan untuk beberapa sektor, meski tidak semua sektornya. Sebagian besar perusahaan di sektor teknologi, keuangan dan asuransi. Salah satu contohnya adalah Twitter dan Morgan Stanley, yang telah mengadopsi pekerjaan jarak jauh atau model hybrid jangka panjang.

Laporan tersebut menemukan bahwa lebih dari 60 persen pekerja di ekonomi Amerika Serikat tidak dapat bekerja dari jarak jauh. Mengutip dari kutipan CNBC Make-It terhadap laporan tersebut, di negara yang kurang berkembang secara ekonomi, pekerja lebih sulit melakukan pekerjaan jarak jauh.

Namun, ada catatan optimis, mengatakan bahwa perubahan tambahan seperti itu dapat mengantarkan pergeseran yang lebih besar dalam angkatan kerja di masa depan.

" Inovasi secara historis telah mendorong perubahan yang bermanfaat bagi pekerja dan umat manusia pada umumnya, dan tren tempat kerja baru menjanjikan produktivitas yang lebih besar yang akan mendorong kesejahteraan yang lebih luas," tulis laporan tersebut.

Beri Komentar