Sistem Keuangan Islam Makin Dipercaya Negara Non-Muslim

Reporter : Ramdania
Jumat, 15 Agustus 2014 15:03
Sistem Keuangan Islam Makin Dipercaya Negara Non-Muslim
Beberapa indikator menunjukkan pertumbuhan keuangan Islam di beberapa negara, termasuk negara Non-Muslim.

Dream - Pertumbuhan industri keuangan Islam global paling sering diukur dengan nilai aset. Namun indikator ini tidak mewakili gambaran lengkap dari sistem keuangan, sesuai dengan prinsip Islam dan nilai-nilainya yang bertujuan untuk kebaikan sosial.

Berdasarkan berita yang dikutip dari Saudigazette, Jumat, 15 Agustus 2014, untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) dari Islamic Development Bank (IDB) dan Thomson Reuters menyajikan temuan dari Islamic Finance Development Indicator.

ICD-Thomson Reuters Indicator Islamic Finance Pembangunan (IFDI) adalah satu-satunya ukuran numerik yang menunjukkan kesehatan dan pengembangan secara keseluruhan industri keuangan Islam di seluruh dunia.

IFDI merupakan barometer multi-dimensi yang mempertimbangkan perkembangan industri keuangan Islam di luar pertumbuhan aset belaka. IFDI mengukur lima komponen untuk menggambarkan gambaran yang lebih besar dari keadaan keuangan Islam di 92 negara.

Lima komponen itu adalah pengembangan kuantitatif, pemerintahan, tanggung jawab sosial, pengetahuan dan kesadaran. IFDI pertama kali dirilis di Islamic Economy Summit Global (GIES) November 2013 dan akan diperbarui setiap tahun.

ICD dan Thomson Reuters juga merilis temuan untuk Awareness Indicator yang mengukur kesadaran pasar keuangan Islam pada tahun 2013 dengan menilai tiga komponen: konferensi, seminar dan berita untuk 92 negara.

Menurut Indikator Kesadaran, CEO ICD, Khaled Al Aboodi, mengatakan sebagai lembaga pembangunan multilateral, ICD telah melihat peningkatan minat dari seluruh negara anggota untuk menciptakan arsitektur keuangan Islam. Langkah pertama untuk mengembangkan arsitektur ini adalah meningkatkan kesadaran pelaku pasar. Dan itu sudah mulai berjalan seiring dengan meningkatnya berita, seminar dan konferensi keuangan Islam.

Yang dibutuhkan sekarang, lanjut Al Aboodi, adalah menerjemahkannya ke dalam pengembangan kerangka jasa keuangan Islam yang mengarah ke sistem keuangan yang lebih terbuka untuk investasi asing. Caranya dengan meningkatkan jumlah seminar dan konferensi yang akan diiringi dengan semakin banyaknya jumlah peserta di seluruh dunia.

Jumlah konferensi keuangan Islam dengan peserta lebih dari 100 di seluruh dunia melonjak 41 persen, dari 76 pada 2012 menjadi 107 pada 2013. Jumlah negara yang menjadi tuan rumah juga meningkat, dari 25 pada 2012 menjadi 36 pada 2013. Seminar dengan jumlah peserta kurang dari 100 meningkat sebesar 17 persen, dari 106 pada 2012 menjadi 124 pada 2013. Jumlah negara yang menjadi tuan rumah seminar juga meningkat menjadi 35 negara pada 2013 dari 30 pada tahun 2012.

Pertumbuhan konferensi lebih besar dibandingkan seminar, yang menunjukkan adanya permintaan yang lebih besar terhadap interaksi dan keterlibatan industri keuangan Islam pada 2013. Malaysia, UEA, Inggris adalah negara-negara yang paling rajin menggelar konferensi keuangan Islam. Mereka meningkatkan persaingan untuk menjadi pusat keuangan Islam di dunia. Kota-kota seperti Kuala Lumpur, Dubai dan London terus bersaing menjadi pusat keuangan Islam dunia.

Beberapa negara Teluk, Eropa dan Asia terus menggiatkan seminar keuangan Islam. Bahrain, Oman, Maroko, Tajikistan adalah beberapa negara yang mulai aktif menggelar berbagai seminar dan konferensi keuangan Islam.

Negara non-muslim juga tak mau ketinggalan menyebarkan kesadaran keuangan Islam di negaranya masing-masing. Selain pemain lama Inggris dan Singapura, beberapa negara seperti Australia, Filipina, Hong Kong, Sri Lanka juga sudah melihat keuangan Islam sebagai kekuatan ekonomi baru. Beberapa berita tentang keuangan Islam, termasuk berita konferensi, juga sudah menjadi langganan headline di negara-negara tersebut. Tidak kurang dari 14,500 berita keuangan Islam telah tersebar di 92 negara selama 2013.

UEA dan Malaysia menyapu hampir 40 persen berita tentang keuangan Islam global. Namun ada gap yang cukup lebar tentang berita keuangan Islam dengan Arab Saudi di posisi ketiga. Arab Saudi hanya mampu menyebarkan 2.000 berita keuangan Islam, bandingkan dengan UEA (3,700 berita) dan Malaysia (3,300 berita). Sementara Inggris menjadi pemimpin penyebaran berita keuangan Islam di level Eropa dan non-muslim. Hal itu dikarenakan Inggris baru saja menjadi tuan rumah World Islamic Economic Forum (WIEF) pada October 2013. (Ism)

Beri Komentar