Tak Cuma RI, Penduduk Saudi Juga Lebih Senang Jadi PNS

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 29 Agustus 2014 12:30
Tak Cuma RI, Penduduk Saudi Juga Lebih Senang Jadi PNS
Untuk urusan karir, penduduk Arab Saudi ternyata sama dengan Indonesia yang sebagian besar memilih PNS sebagai pekerjaannya. Namun alasan yang dikemukakan sedikit berbeda. Apa itu?

Dream - Di kala sebagian besar negara di dunia memberlakukan hari efektif kerja selama dua hari, pekerja swasta di Arab Saudi harus mengelus dada. Wacana pengurangan jam kerja seiring dengan  tambahan hari libur tak jadi diberlakukan di negara kaya ini.

Pemerintah Arab Saudi dilaporkan telah menunda rencana memberi 40 jam kerja kepada para pekerja sektor swasta, termasuk pemberian dua hari libur per minggu. Rencana yang semula digagas kementerian tenaga kerja Arab Saudi itu mendapat penolakan menyusul tekanan dari investor dan dunia usaha, demikian dilaporkan Rabu.

Mengutip artikel Makkah Daily, laman Gulf News melaporkan pemerintah sebetulnya telah merancang undang-undang perburuhan baru yang menetapkan jam kerja 40 jam, turun dari sebelumnya 48 jam, untuk semua karyawan di sektor swasta.

Libur dua hari di akhir pekan adalah bagian dari rencana pemerintah untuk memotivasi pria dan wanita Saudi untuk bekerja di sektor swasta. Selama ini, penduduk Saudi memilih bekerja sebagai pegawai negeri karena memiliki dua hari libur pada Jumat dan Sabtu.

Pada Februari, badan penasihat pemerintah, Dewan Syura, mendukung rencana untuk mensejajarkan Arab Saudi dengan negara-negara Teluk lainnya. Tetapi perubahan undang-undang perburuhan itu belum diratifikasi oleh Raja Abdullah.

Dukungan Dewan Syura itu mendapat kritik dari para anggota Kamar Dagang dan Industri Saudi. Para pengusaha ini mendesak Dewan Syura untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Alasan yang dibawa, pengurangan jam kerja akan meningkatkan biaya bisnis dan tenaga kerja. Rencana tersebut juga akan menyebabkan pebisnis kehilangan uang, harga barang dan jasa meningkat serta membuat ekspor Saudi kurang kompetitif.

Ditambahkan pula, bahwa rancangan undang-undang itu terutama akan merugikan kontraktor, termasuk perusahaan operasional dan pemeliharaan. Biaya tenaga kerja akan meningkat jika perusahaan harus membayar pekerja lembur untuk memenuhi tenggat waktu pada proyek-proyek pemerintah.

Arab Saudi adalah rumah bagi sekitar sembilan pekerja asing. Sebagai besar dari mereka adalah pekerja tidak terampil dari negara-negara Asia di sektor konstruksi dan jasa.

Beri Komentar
Lebih Dekat dengan Tiffani Afifa, Dokter Cantik Juara Kpop World Festival