Lebaran (3): Topat, Lebaran Kedua Masyarakat Lombok

Reporter : Syahid Latif
Senin, 13 Juli 2015 18:38
Lebaran (3): Topat, Lebaran Kedua Masyarakat Lombok
Tradisi unik masyarakat Lombok sejak Islam masuk pada abad ke XVI. Wisata murah keluarga ke pantai Sengigi ditemani ketupat jadi pilihan.

Dream – Langit masih gelap. Cahaya mentari belum lagi muncul dari peraduan. Namun, subuh itu, para kusir kereta di Kecamatan Lingsar, sudah bergegas. Hari ini, para pemandu kuda itu harus berkemas ke Batulayar, kawasan pantai Sengigi, Lombok. Tak boleh terlambat.

Sebanyak 25 kusir lengkap dengan kereta kuda kencana telah bersiap. Semua bagian kereta kuda itu terlihat meriah. Janur dan gantungan ketupat  menghias bagian depan dan sisi kereta kuda.

Cimodo, alat angkutan tradisional setempat semacam andong, hari itu seolah mendapatkan penghormatan. Padahal, biasanya, Cimodo kerap dituding jadi biang macet di jalan Lombok. Tapi hari itu, sepanjang 25 kilometer perjalanan, iring-iringan kereta kuda ini disambut bak kendaraan para raja.

Rona bahagia terlihat dari wajah penumpang: para ibu, anak gadis, dan anak-anak. Tak nampak muka mengantuk di wajah mereka. Hanya rona yang berseri-seri bahagia ketika cahaya pertama menyapu wajah mereka.

Di tempat lain, ribuan orang sudah bersiap memadati areal pemakaman. Makam Syeikh Sayid Al Duhri Al Hadah di  Batulayar jadi tempat yang dituju. Peziarah datang dari berbagai penjuru kota. Beberapa menggunakan angkutan umum. Sebagian lagi mengendarai sepeda motor atau cukup berjalan kaki.
 
Areal pemakaman yang sehari-hari sepi itu mendadak berubah. Tak lama berselang, pemakaman itu dipenuhi lantunan zikir dan doa yang terus terdengar. Memenuhi langit areal pemakaman.
 
Tak hanya komplek makam di Batulayar, Makam Loang Baloq juga kerap jadi pusat perayaan masyarakat Lombok di wilayah Kota Mataram. Begitu pula Makam Bintaro.

Hari itu, penduduk Lombok memang tengah berpesta. Padahal baru sepekan lalu mereka memperingati Lebaran sebagai hari kemenangan usai berpuasa Ramadan. Kini pesta tak kalah meriah digelar kembali.

Inilah perayaan Lebaran Topat. Hari khusus umat muslim Lombok yang selesai menjalankan puasa sunah Syawal selama enam hari. Semua kembali bersuka cita. Kusir kereta pun terlihat gembira.

***

                                                                                  Tradisi Ratusan Tahun >>>>>>>

1 dari 3 halaman

Lebaran Topat, Tradisi Ratusan Tahun

Tradisi Lebaran Topat begitu melekat dalam budaya muslim Lombok. Ritual ini telah hidup sejak ratusan tahun lamanya. 

Dalam masyarakat Lombok, Lebaran Topat dikenal dengan sebutan Lebaran Nine, atau Lebaran Wanita. Sebutan ini bukan tanpa alasan. 

Masyarakat Lombok memang ingin membedakan Lebaran Topat dengan Lebaran yang digelar setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Inilah Lebaran Mame, atau Lebaran Pria. 

Belum ada catatan resmi kapan sebetulnya tradisi Lebaran Topat dimulai. Namun, cerita masyarakat lokal, menyebut Lebaran Topat muncul bersamaan dengan masuknya Islam di Lombok. Ajaran agama tersebut kemudian berpadu dengan budaya dan kebiasaan setempat.

Masih dari cerita mulut ke mulut, Islam pertama kali masuk ke Lombok pada abad XVI-XVIII oleh Sunan Prapen, anak Sunan Giri.

Bukti-bukti berkembangnya Islam di Lombok dapat dilihat dari peninggalan masjid kuno yang ada di Bayan, Lombok Utara, yang disebut dengan Masjid Bayan Beleq dan masjid kuno yang ada di Pujut dan Rembitan Lombok Tengah. Selain itu, juga terdapat makam raja-raja Selaparang yang ada di Lombok Timur.

Selain karena peranan para penyebar agama Islam seperti Sunan Prapen, perkembangan Islam di Lombok bisa berhasil karena adanya peranan dari raja-raja yang ada di Lombok sendiri. 

Menurut pengamat budaya Sasak, Jalaluddin Arzaky, tradisi berziarah pertama kali muncul pada abad ke-17 oleh ulama Jawa, Sunan Prapen. Tradisi ini berkembang sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para ulama muslim yang membawa Islam ke tanah Mataram. 

Seiring berjalannya waktu, tradisi Lebaran Topat telah berubah. Perayaan ini tak hanya jadi ajang ekslusif muslim yang berpuasa Syawal.  Perayaan Lebaran Topat juga melibatkan warga dari beragam latar belakang, membuatnya lebih meriah dari perayaan Idul Fitri.

Setelah berubah menjadi tradisi kultural masyarakat, Lebaran Topat pun dirayakan dengan beragam cara. Rekreasi ke sejumlah obyek wisata, khususnya pantai telah menjadi bagian dari perayaan Lebaran ini.

Pantai Senggigi, Pantai Batulayar, Krandangan, Pantai Segara, Pantai Ampenan, Pantai Mapak, Pantar Skip, Pantai Cemara dan Pantai Induk, Taman Narmada, Taman Suranadi, dan Makam Loang Baloq jadi lokasi perayaan baru tempat perayaaan Lebaran Topat yang diserbu penduduk setempat.

2 dari 3 halaman

Ritual Lebaran Topat Lombok

Ritual Lebaran Topat diawali dengan tradisi mencari janur untuk membuat ketupat, sehari menjelang perayaan. Di tengah pagi buta, kaum ibu sudah siap merebus ketupat. 

Lebaran Topat baru mulai dilakukan sekitar jam 6 pagi. Diawali dengan upacara selamatan yang dilakukan di masjid ataupun rumah. Seorang kiai ditunjuk untuk memimpin selamatan tersebut. 

Bahkan, di kelompok Islam Wetu Telu, acara diawali dengan sembahyang Qulhu Sataq. Kata Qulhu ini berasal dari Qulhuallahu Ahad yang merupakan ayat pertama dari surat Al-Ikhlas. Sedangkan Sataq berarti seratus kali.

Seluruh proses selamatan biasanya diakhiri dengan acara makan ketupat bersama. Selanjutnya, warga muslim Lombok akan mengunjungi makam alim ulama yang dianggap berjasa membawa Islam ke tanah kelahiran mereka. 

Biasanya, makam yang dikunjungi adalah Makam Loang Baloq dan Makam Batu Layar yang berada di kawasan Pantai Senggigi. Sebelum bertandang ke makam, para penziarah biasanya mempunyai niat tertentu (besangi) dan menuju Lingkok Mas untuk mengambil air.

Seorang tokoh masyarakat atau Marbot biasanya akan memandu masyarakat untuk mengambil air Lingkok Mas tersebut. 

Air inilah yang kemudian dibawa ke makam Batu Layar untuk diupacarakan (bejanjam) dengan pembacaan doa dan zikir. Penjaga makam biasanya memimpin doa. 

Setelah acara doa selesai, dilakukan ritual mengolesi kening dengan sirih yang telah dikunyah (besembek), membasahi bagian kepala dengan baik (kejames) dan mengusapkan air ke muka (beseraup). 

Barulah para pengunjung pergi ke Pantai Senggigi dan pantai lainnya untuk berwisata.

3 dari 3 halaman

Lebaran Topat Beralih Makna

Seiring perubahan zaman, Lebaran Topat lambat laun kehilangan esensinya. Budayawan setempat Drs Lalu Agus Fathurrahman seperti dikutip balipost, mengemukakan, kini Lebaran Topat lebih bernuansa rekreatif ketimbang ritual. 

Hari raya yang seharusnya dirayakan mereka yang melakukan puasa sunat kini justru berubah. Hampir semua orang larut dalam perayaan. Termasuk mereka yang tak menjalani puasa sunat itu. 

Bahkan, perayaannya pun dianggap lebih meriah dibandingkan Idul Fitri itu sendiri. Tradisi yang berkembang selama Lebaran Topat adalah melakukan rekreasi ke sejumlah objek wisata sambil menenteng bekal berupa ketupat dan kue bantal dengan bahan baku janur.

Berkembangnya Lebaran Topat sebagai tradisi yang bersifat rekreatif membuat kawasan pantai menjadi tujuan utama. Sejak pagi hari, jalur menuju objek wisata Senggigi bakal macet karena dipadati kendaraan. 

Ribuan pengunjung menyemut. Mereka membawa keluarganya menikmati alam pantai yang selama ini terlupakan --bahkan ketika Idul Fitri. Pedagang kaki lima pun meluap hingga ke jalan sepanjang Senggigi. Itulah tradisi unik Lebaran Topat yang ada sekarang. (eh)

(Sumber: berbagai sumber)

Beri Komentar