Tumbang Karena Corona, Startup Airy Tutup Permanen Akhir Bulan Ini

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 8 Mei 2020 15:12
Tumbang Karena Corona, Startup Airy Tutup Permanen Akhir Bulan Ini
Perusahaan ini mengibarkan bendera putih kepada pandemi corona.

Dream – Agregator budget hotel di Indonesia, Airy, tumbang akibat pandemi corona. Perusahaan akan tutup permanen pada akhir Mei 2020.

Dikutip dari Tech In Asia, Jumat 8 Mei 2020, dalam suratnya kepada mitra bisnis, perusahaan telah memutuskan untuk menyetop aktivitasnya. Dikatakan bahwa pandemi corona telah mengancam hampir semua sektor bisnis, terutama pariwisata.

“ Kami telah melakukan yang terbaik untuk mengatasi dampak bencana ini. Mengingat penurunan secara teknis dan pengurangan SDM yang dipunya, kami memutuskan untuk menghentikan bisnis secara permanen,” kata perusahaan.

“ Untuk alasan ini, setelah 31 Mei 2020, kami tidak bisa menyediakan jasa kepada mitra kami,” tambah Airy.

Penutupan bisnis Airy menjadi startup kedua yang gulung tikar di Indonesia akibat corona. Yang pertama kali stop beroperasi gara-gara pandemi adalah Stoqo, startup logistik pangan.

1 dari 2 halaman

Pecat 70 Persen Karyawan

Dalam wawancara kepada Tech In Asia, CEO Airy, Louis Alfonso Kodoatie, mengatakannya manajemen mengubah arah bisnis untuk menekan dampak pandemi. Pada bulan lalu, dikabarkan startup ini memecat 70 persen karyawannya.

“ Kami optimistis pandemi segera berlalu dan industri pariwisata bisa kembali pulih. Dengan teknologi dan pelayanan yang tepat, kami yakin Airy bisa bangkit lebih cepat dan bisnis bisa dikembalikan seperti semula,” kata Kodoatie.

Sekadar informasi, Airy didirikan pada 2015. Kini, startup itu punya 2 ribu jaringan properti dengan lebih dari 30 ribu ruangan. Perusahaan ini juga termasuk partner strategis dengan Traveloka.

2 dari 2 halaman

Industri Hotel `Berdarah-darah` karena Corona

Selama pandemi, industri travel dan hospitality berjuang untuk bertahan hidup. Apalagi, ada larangan bepergian di seluruh dunia untuk menekan penyebaran Covid-19.

Misalnya, OYO yang kehilangan 50-60 persen pendapatan dan okupansi akibat pandemi ini. Perusahaan tersebut terpaksa memangkas gaji karyawan. Begitu pula dengan RedDoorz yang merumahkan karyawannya dan memecat 10 persen dari total pegawainya. 

Beri Komentar