Ciri-Ciri Meterai Palsu, Jangan Tergoda Harga Murah!

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 19 November 2019 09:36
Ciri-Ciri Meterai Palsu, Jangan Tergoda Harga Murah!
Materai palsu banyak beredar di toko online.

Dream - Sahabat Dream, meterai atau banyak diucapkan sebagai materai, merupakan barang yang wajib dibubuhkan ke surat pernyataan atau perjanjian tertentu. Tanpa keberadaan meterai, nantinya dokumen-dokumen penting menjadi tidak sah.

Tak hanya di kantor pos, kini banyak pengelola toko online yang menjual barang berharga ini. Sayangnya peredarannya juga diikuti dengan materai bekas alias rekondisi yang `gentayangan`.

Salah satu ciri paling terlihat dari materai bekas ini adalah harganya yang sangat murah, di bawah harga nominal, yaitu Rp3 ribu dan Rp6 ribu. Selain itu, masih cara membedakan materai asli dan palsu.

Dikutip dari Merdeka.com, Selasa 19 November 2019, Kepala Unit Pemeriksaan Keaslian Produk Perum Peruri, Fuguh Prasetyo, perbedaan antara meterai palsu dan yang asli bisa dilihat dari lambang Garuda serta cetakan bunga yang memakai tinta alih warna atau berubah warna.

Meterai asli juga memiliki 17 digit nomor seri yang tercetak dengan jelas. Nomor seri ini memiliki angka yang berbeda-beda di setiap meterai. Biasanya meterai palsu menggunakan nomor seri yang sama antara satu meterai dengan yang lainnya.

Cara mengecek meterai menggunakan prinsip yang sama ketika hendak mengecek keaslian uang, yakni 3D. Hanya saja dalam mengecek meterai 3D berarti, dilihat, diraba, digoyang.

" Untuk mengetahui keaslian pakai 3D, dilihat diraba, dan digoyang. Identifikasi pertama dilihat dari cetakan," kata dia di Jakarta.

Perhatikan Desain Pengamanan

Meterai asli, kata Fuguh, memiliki desain security, yakni terdapat logo Kementerian Keuangan, teks DJP, dan angka nominal. Juga terdapat teks berukuran mikro bertuliskan Ditjen Pajak.

" Jadi kalau diraba ini (meterai) sama seperti uang. Cetakan akan terasa kasar. Fitur ini sama seperti yang diterapkan di uang. Yang digoyang ini bunga yang memiliki tinta alih warna," kata dia.

Jika uang kertas memiliki benang pengaman, di meterai asli terdapat hologram. Warnanya perak dan ada color image.  “ Kalau dari sudut pandang tertentu akan berubah warnanya,” kata dia.

Meterai palsu biasanya memiliki gambar yang kurang jelas dengan warna yang kurang solid. Nomor yang terdiri dari 17 angka di meterai palsu pun biasanya sama dengan meterai-meterai palsu yang lain.

" Ketika menemukan gambar tidak jelas, itu bisa dipastikan meterai palsu,” kata dia.

Selain itu, efek perabaannya akan hilang jika disentuh dengan ujung kuku atau jari. “ Tinta alih warna palsu dicetak dengan metalik atau glossy,” kata dia.

1 dari 5 halaman

2 dari 5 halaman

Harga Materai Diusulkan Naik Jadi Rp10 Ribu

Dream – Kementerian Keuangan mengusulkan bea materai naik jadi Rp10 ribu. Pemerintah menyebut materai Rp10 ribu digunakan untuk transaksi di atas Rp5 juta.

" Kami mengusulkan di dalam RUU ini penyederhanaan tarif bea meterai hanya menjadi satu tarif saja yang tetap yaitu menjadi Rp 10.000," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, di Ruang Rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 4 Juli 2019.

Menurut Sri Mulyani, dalam UU ditetapkan sejak tahun 1985 (UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai), tarif bea meterai sebesar Rp500 dan Rp1.000 dengan maksimal peningkatan tarifnya sebatas 6 kali lipat dari tarif awal.

Kemudian, dalam perjalananya, di tahun 2000 tarif bea meterai dimaksimalkan menjadi Rp3 ribu dan Rp6 ribu. Harga materai tidak pernah naik lagi sebab terbentur aturan UU yang sudah melebihi batas maksimal 6 kali lipat.

 

 

Kondisi ekonomi saat ini dinilai sudah tidak sama lagi dengan 34 tahun lalu, saat UU tersebut lahir. PDB per kapita Indonesia telah meningkat hampir 8 kali lipat. Menggunakan data BPS, PDB per kapita tahun 2000 (pertama kali bea materai Rp 6.000) adalah Rp6,7 juta sementara PDB per kapita tahun 2017 adalah Rp51,9 juta

Sri Mulyani mengatakan kondisi perekonomian sudah membaik dengan ditandai pendapatan per kapita yang terus meningkat. Nilai bea materai sebesr Rp6 ribu yang sudah berlaku belasan tahun sudah tak relevan dan harus disesuaikan.

“ Maka dari itu, kami usulkan tarif materai lebih sederhana menjadi satu tarif, yaitu Rp10 ribu,” kata dia.

3 dari 5 halaman

Digunakan untuk Satu Dokumen

Sri Mulyani juga mengusulkan ada pengelompokan jenis-jenis dokumen yang harus menggunakan materai. Saat ini, materai Rp3 ribu dikenakan untuk dokumen yang mencantumkan penerimaan uang di atas Rp250 ribu hingga Rp1 juta. Materai Rp6 ribu digunakan untuk dokumen dengan penerimaan uang di atas Rp1 juta.

Dalam aturan baru, penggunaan materai hanya diwajibkan pada transaksi dengan nominal lebih dari Rp5 juta.

“ Ini karena memang mendesain RUU ini demi keberpihakan usaha mikro, kecil, dan menengah. Apalagi, transaksi di bawah Rp5 juta ini akan dibebaskan dari bea materai,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Berapa Potensi Penerimaan Negara?

Sri Mulyani mengatakan potensi penerimaan negara dari bea materai Rp10 ribu ini cukup besar. Penerimaan ini yang akan didapat sebesar Rp3,8 triliun.

“ Ini hanya dari materai tempel ada tambahan Rp3,8 triliun,” kata dia.

Sri Mulyani juga mengatakan materai sudah ada dalam bentuk digital. Penggunaannya juga cukup banyak. Tapi, potensi tambahan pendapatan dari bea materai digital ini masih dikaji.

“ Kami akan melakukan estimasi berdasarkan dokumen digital sesuai peraturan perundang-undangan,” kata dia.

5 dari 5 halaman

Harga Bea Materai Bakal Naik Tiga Kali Lipat

Dream - Meski baru berselang tiga bulan, beban masyarakat pelan-pelan makin berat. Setelah harga premium dan tarif listrik naik, kini giliran biaya materai ikut-ikutan melonjak.

Tak tanggung-tanggung, bea materai yang selama ini dijual dalam dua pecahan Rp 3.000 dan Rp 6.000 bakal naik tiga kali lipat.

Mengutip laporan Merdeka.com, Selasa, 10 Maret 2015, pemerintah menaikkan tarif bea materai Rp 3.000 menjadi Rp 10 ribu. Sementara bea materai seharga Rp 6 ribu naik menjadi Rp 8 ribu.

Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Sigit Pramudito memastikan kenaian bea materai ini akan mulai berlaku pada tahun ini. Pembahasan usulan kenaikan diharapkan kelar pada Juni 2015.

" Targetnya (pembahasan bea materai) bulan Juni selesai. Pengenaan bea materai tahun ini," ujar Sigit.

Menurut Sigit, pembahasan tarif bea materai baru ini telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015. Artinya, pemerintah dan DPR akan memprioritaskan pembahasan kenaikan tersebut.

" Kan DPR janji bahwa Prolegnas Bea Materai itu akan didahulukan," kata dia.

Tak cuma menaikkan tarif, pemerintah juga sedang mengkaji pengenaan tarif bea materai untuk transaksi ritel atau aktivitas jual beli di supermarket.

" Ini belum jadi angkanya, masih dalam diskusi. Targetnya bulan Juni semua selesai," pungkas dia. (Ism) 

[crosslink_1]

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone