Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi PT Pos Indonesia
Dream - Mewaralabakan bisnisnya sejak tiga tahun yang lalu, PT Pos Indonesia yakin model bisnis barunya bisa menahan gempuran perusahaan sejenis dari negara pesaing. Kabarnya dua perusahaan pos asal Australia dan Malaysia akan segera beroperasi di Tanah Air.
Manager Pengembangan Agen Pos PT Pos Indonesia Tjahjaning Seno mengatakan, terobosan waralaba bisnis pos ini sebenarnya sudah dibicarakan sejak 1980-an. Namun, pelaksanaannya baru gencar dilakukan beberapa tahun belakangan.
PT Pos beralasan, perusahaan harus mampu bersaing dengan perusahaan internasional jelang penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
“ Sebentar lagi akan hadir Australian Post dan Malaysian Post di Indonesia,” ujanya dalam umpa pers International Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2015 di Jakarta, seperti dikutip Dream, Kamis, 28 Mei 2015.
Lelaki yang akrab disapa Seno ini menjelaskan, di samping sebagai bentuk perluasan usaha, Agen Pos juga memiliki misi pemberdayaan masyarakat di tataran lokal. Perusahaan milik negara ini memberikan sejumlah uang kepada para agen sebagai imbal jasa pekerjaan mereka.
“ Untuk jasa kurir, imbal jasanya sebesar 20 persen dari harga kirim. Sedangkan untuk jasa keuangan, kita memberikan fee antara Rp 500 – Rp 3.300,” tambah Seno.
Untuk menjadi Agen Pos, peminat diminat menginvestasikan dana sekitar Rp 13 juta. Angka tersebut hanya merupakan syarat yang nantinya akan digunakan untuk biaya operasional agen pos.
“ Rinciannya, delapan juta untuk pengadaan alat seperti komputer, printer, modem,” tutur Seno.
Jika calon agen sudah memiliki infrastruktur tersebut, merekapun tidak perlu membayar untuk keperluan serupa. “ Kalau semua sudah ada berarti tidak usah membayar, dianggap nol. Sedangkan lima juta lainnya didepositkan ke rekening agen.”
Pada 2014, hingga triwulan keempat, PT Pos Indonesia sudah memiliki lebih dari 26.000 agen pos.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya