Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Ketakutan pelaku pasar akan sentimen kenaikan suku bunga The Fed benar-benar memukul bursa saham Indonesia. Seluruh indeks saham acuan terjungkal ke zona merah.
Pelaku pasar tampaknya mencoba mengamankan portofolionya dari kemungkinan penarikan dana asing dari Indonesia. Sebaliknya, asing justru memanfaatkan momentum ini untuk aksi beli.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 27 Mei 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) ambruk 2,372 poin (1,39%) ke level 168,582.
Laju ISSI sepanjang perdagangan kali ini sama sekali tak sanggup menyentuh zona positif. Hanya menyentuh level tertinggi 170,757, aksi jual asing jelang penutupan menghempaskan ISSI ke level terendahnya di 168,582.
Kepanikan pelaku pasar dengan isu The Fed membuat 132 emiten syariah terhempas ke zona merah. Investor masih menyisakan 49 emiten di zona positif.
Transaksi perdagangan saham syariah mencapai Rp 3,32 triliun dengan 33,54 miliar saham yang berpindahtangan.
Lautan merah juga melanda saham-saham bluechips syariah. Sebanyak 25 emiten penghuni Jakarta Islamic Index (JII) menutup perdagangan di zona merah. Investor hanya tertarik mengoleksi 5 emiten keping biru ini.
Serangan aksi jual ini memaksa JII terjun 11,537 poin (1,60%) ke level 707,765. Transaksi perdagangan mencetak angka Rp 1,77 triliun.
Aksi jual terlihat melanda saham-saham favorit seperti UNVR yang melemah terdalam hingga Rp 1.225 per saham. Top losser lainnya adalah UNTR yang melemah Rp 525, AALI Rp 375, SILO Rp 300, dan PTBA Rp 275 per saham.
Sebaliknya, dua saham raksasa Indofood justru jadi incaran investor. Saham INDF dan ACBP ditutup menguat masing-masing Rp 175 dan 75 per saham. Top gainer lainnya adalah AKRA yang naik Rp 75, ANTM dan MPPA masing-masing Rp 10 per saham.
Bursa saham Indonesia di pertengahan pekan ini memang dilanda banjir aksi jual. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas 67,513 poin (1,27%) ke level 5.253,388.
Lantai bursa cukup ramai dengan aksi jual beli dengan mencetak nilai Rp 5,36 triliun. Di tengah ketakutan investor lokal, asing justru menambah portofolionya dengan nett buy Rp 220 miliar.
Pelamahan bursa saham tak hanya dialami Indonesia. Indeks Hang Seng dan Strait Times juga dilanda koreksi 0,60 persen dan 0,95 persen. Sebaliknya, Hang Seng menguat 0,17 persen.
Dari pasar keuangan, rupiah justru menunjukan aksi menguat dengan menembus level di bawah 13.200. Rupiah sore ini bertahan di level 13.199 per dolar AS atau terapresiasi 21 poin (0,16%).
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya