Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Indeks acuan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum bisa melaju positif di di dua hari pekan kedua Februari 2015. Aksi jual pelaku pasar masih terus menekan laju kenaikan harga saham.
Di sisi lain, pemodal asing justru masih terus menggelar aksi beli. Meski belanjaan investor asing ini terys melemah sejak awal pekan kemarin.
Pada penutupan perdagangan BEI, Selasa, 10 November 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 0,938 poin (0,54%) ke level 171,322.
ISSI sebetulnya sempat memberikan harapan ketika dibuka menguat 0,311 poin ke level 172,571. Namun aksi jual sejak awal perdagangan membuat ISSI tak mampu bertahan di zona hijau.
ISSI cuma mampu mencetak level tertinggi di 172,752 dan sempat longsor ke posisi terlemah 171,027.
Pelemahan ISSI kali ini terseret turunnya harga saham dari 102 emiten syariah. Hanya 63 emiten syariah yang masih bisa bergerak positif sedangkan 61 lainnya memilih stagnan.
Aksi jual beli efek syariah meliatkan 27,24 miliar saham bernilai Rp 3,03 triliun.
Nasib sama dialami indeks saham bluechips syariah. Jakarta Islamic Index (JII) yang dibuka menguat 1,838 poin berbalik turun 3,877 poin (0,55%) ke level 707,010 pada sesi penutupan.
Dengan 6,66 miliar saham yang diperdagangkan, papan perdagangan JII didominasi pelemahan 20 emiten bluechips syariah. Hanya 9 emiten yang melaju positif dan 1 lainnya stagnan.
JII yang kali ini memutar dana investor sebesar Rp 2,11 triliun sempat mencetak level tertingginya di 713,571. Namun, aksi jual memaksanya jatuh ke posisi terendah di 705.872.
Emiten tambang menjadi saham bluechips syariah yang paling diburu pelaku pasar. Top gainer JII dihuni oleh ITMG yang menguat Rp 350, UNTR Rp 325, SILO Rp 75, ASII Rp 50, dan MPPA Rp 40 per saham.
Sebaliknya, emiten JII yang selama ini menjadi motor penggerak justru berbalik melemah. UNVR dan AALI menjadi top losser denga melemah Rp 625 dan Rp 475 per saham.
Secara umum, BEI kali ini menutup perdagangan dengan melemah 26,996 poin (0,50%) ke level 5.321,474. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ini terseret pelemahan harga saham dari 176 emiten.
Lantai bursa dipenuhi transaksi jual beli 49,99 miliar saham bernilai Rp 4,90 triliun.
Tercatat hanya dua sektor saham yang bergerak menguat yaitu pertambangan sebesar 0,24 persen dan industri aneka 0,58 persen.
Emiten barang konsumsi justru dihindari pelaku pasar dan mencetak koreksi terdalam hingga 1,35 persen. Emitan lain yang dihindari adalah pertanian yang turun 0,84 persen dan keuangan 0,58 persen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya