Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
4 Cara Dongkrak Pariwisata Halal Dari Pandemi Corona
Dream – Pandemi corona turut berdampak terhadap perekonomian syariah. Salah satu sektor yang terdampak adalah pariwisata halal.
“ Sektor yang paling terdampak adalah pariwisata halal,” kata CEO and Managing Director Dinar Standard, Rafiuddin Shikoh, dalam Webinar Komite Nasional Ekonomi Syariah, ditulis Kamis 30 April 2020.
Pandemi corona telah memukul subsektor wisata halal, seperti hotel, operator travel, dan restoran. Kondisi ini disebabkan turunnya jumlah kunjungan wisatawan luar negeri yang akhirnya berdampak pada penurunan okupansi hotel.
Dinar Standard menyarankan ada empat hal yang bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali bisnis pariwisata halal di tengah pandemi Corona. Pertama, tur virtual. Cara ini telah dilakukan oleh beberapa negara, seperti Mesir yang menyediakan tur virtual melalui foto 3D di situs arkeologi.
Tentu saja perusahaan travel yang menyediakan fasilitas ini harus melengkapi informasi mereka dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab.
“ Ini adalah salah satunya,” kata Rafiuddin.
Yang kedua, kontribusi sektor swasta terhadap pariwisata syariah. Sebuah startup di Dubai mengumpulkan dana US$350 ribu dari investor lokal dan internasional.
“ Tujuannya untuk menghubungkan kembali hotel dengan customernya,” kata dia.
Ketiga, ada dukungan dari pemerintah. Pariwisata halal memerlukan dukungan dari pemerintah. Di Turki, pemerintah setempat menggelontorkan dana sebesar US$15,4 miliar untuk memulihkan perekonomian, termasuk sektor pariwisata, dari dampak pandemi corona.
“ Keempat, ada merger,” kata Rafiuddin.
Menurut Rafiudin, strategi merger diperlukan agar tidak banyak perusahaan travel agen, hotel, dan airlines yang beroperasi.
“ Beberapa maskapai mencari opsi merger, seperti Air Malaysia dengan AirAsia,” kata dia.
Dream - Sektor pariwisata tidak luput dari dampak wabah virus Corona baru, Covid-19. Penyebaran virus yang sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia itu benar-benar membuat dunia pariwisata Indonesia lesu.
“ Dampak ekonominya sangat besar karena melumpuhkan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Untuk hari ini saja, okupansi hotel sudah mencapai 30 persen,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Hariyadi Sukamdani, di Jakarta, Kamis 12 Maret 2020.
Kerugian yang harus ditanggung pariwisata Indonesia sejak Januari silam mencapai US$1,5 miliar atau sekitar Rp21,69 triliun. Kerugian terbesar terjadi karena berkurangnya turis dari China.
![]()
Tahun lalu, tambah Hariyadi, jumlah wisatawan Negeri Tirai Bambu mencapai 2 juta orang. Satu orang turis rata-rata menghabiskan uang sebanyak USS$1900 atau sekitar Rp27,48 juta.
Menurut Hariyadi, jumlah turis China merosot separuhnya. Terlebih dari awal Februari 2020 saat penerbangan dari Negeri Panda itu ditiadakan. “ Bisa diasumsikan jumlah turis yang hilang baru separuhnya yang bernilai US$1,1 miliar (Rp15,91 triliun),” kata dia.
Ditambah lagi pembatalan kedatangan dari turis luar negeri dan domestik lainnya. “ Perkiraan kami itu sudah US$400 juta (Rp5,79 triliun),” kata Hariyadi.
Melihat angka kerugian yang tinggi di sektor pariwisata, Hariyadi meminta pemerintah untuk merevisi target di sektor itu pada tahun ini.
“ Sudah jelas pasti revisi, pertumbuhan ekonomi kita itu diperkirakan 5,2 persen tahun ini,” kata dia.
Kalaupun bisa mencapai 4,5 persen, kata dia, itu sudah sangat bagus. Menurut Haryadi, perkembangan ekonomi khususnya di sektor pariwisata, semua bergantung pada kondisi dan kepanikan masyarakat.
" Dengan sekarang ini sudah memasuki bulan maret, bulan depan sudah bulan ramadhan, kalau ini tidak ada sesuatu yang bisa mengembalikan, ya kira-kira di angka 4,5 persenlah kurang lebih," kata Haryadi.
(Laporan: Raissa Anjanique Nathania)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya