Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Pedagang Beras Di Pasar Induk Cipinang, Jakarta (Antarafoto.com)
Dream - Upaya memproduksi bahan makanan unggulan kerap kali dilakukan pemerintah di beberapa negara, salah satunya Cina. Untuk menciptakan beras bergizi tinggi, beberapa ahli di Negeri Tirai Bambu itu memasukkan zat-zat penambah nutrisi ke dalam beras.
Namun, bentuk beras yang padat membuat proses penyuntikan nutrisi tidak bisa dilakukan tanpa ada perantara yang menyatukan. Perantara yang mampu mengikat zat penambah nutrisi dengan beras biasa disebut plastisizer.
Hasil dari proses pengikatan beras dengan beberapa zat nutrisi lain dikenal dengan nama artificial rice.
“ Artificial rice ini secara fisik sangat licin dan amat bagus untuk kesehatan, oleh karena itu harganya juga mahal, jauh dibandingkan dengan beras pada umumnya,” ujar Pakar Kimia Universitas Indonesia Asmuwahyu kepada Dream.
Asmuwahyu melanjutkan, pembuatan beras artifisial menggunakan mesin khusus serta butuh bahan-bahan yang tidak murah.
Terkait merebaknya peredaran beras plastik di Indonesia, ia menduga jika keberadaan beras plastik terbukti benar, sudah tentu diproses menggunakan cara yang sama dengan pembuatan artificial rice di Cina.
Namun, harga plastik di pasaran seharusnya lebih tinggi dari beras biasa. “ Harga biji plastik yang asli itu sekitar US$ 1500 per ton, sedangkan plastik daur ulang harganya Rp 12.000,” kata Asmuwahyu. “ Makanya, jika menggunakan plastisizer menggunakan bahan plastik, cost-nya sangat mahal.”
Menurutnya, keberadaan beras plastik di Indonesia menunjukkan kejanggalan dari segi ekonomi. “ Sekarang kan bisa dipertanyakan, buat apa ada yang bikin produk yang lebih mahal?” tambah pakar kimia ini.
Dalam kesempatan yang sama, Pengamat Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor Bustanul Arifin pun setuju dengan Asmuwahyu. Menurut Bustanul, hampir tidak ada hal yang bisa menjelaskan mengapa ada pihak yang rela menjual beras plastik dengan harga murah padahal secara ekonomi ia nampak tak akan mendapat keuntungan.
Ia melanjutkan, metode pengikatan beras dengan zat nutrisi yang menggunakan plastisizer itu sebenarnya juga dilakukan oleh para petani untuk menyiasati persediaan beras yang belum mereka jual dalam waktu lama. Tujuannya agar beras tampilan beras lebih bersih dan kandungan gizinya sudah ditambahkan sehingga harga beras stok lama tersebut bisa kembali naik.
“ Spekulasi saya sih (pembuatan beras plastik-Red) nampaknya ini ada orang iseng, saya tidak bisa berkesimpulan mengenai hal tersebut karena secara ekonomi juga tidak kena,” pungkas Bustanul.
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia