Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bagaimana Nasib Mitra Driver Uber Jika Uber Di Asia Tenggara Diakuisisi Oleh Grab?
Dream – “ Kepergian” Uber dari Asia Tenggara tinggal menghitung hari. Para pengojek yang lazim disebut mitra Uber sudah diimbau untuk bergabung dengan Grab.
Meski sudah ada solusinya, tak lantas persoalan menjadi selesai. Ketua Dewan Pakar Masyarakar Transportasi Indonesia, Danang Parikesit, justru khawatir masalah pengangguran akan kembali muncul.
Cepatnya penutupan Uber di Indonesia akan membuat para mitra kesulitan mendaftar ke Grab dalam waktu singkat.
Dilansir dari Liputan6.com, Selasa 3 April 2018, Danang mengatakan akuisisi Grab terhadap Uber membuat pengendara Uber tidak punya pilihan lain selain ikut pindah menjadi mitra Grab.
“ Ini risiko di sisi mitra yang memang tidak bisa sepenuhnya diakomodasi operator,” kata Danang.
Menurut Danang, penyedia jasa transportasi daring lainnya, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia) dapat turut berperan menampung para pengemudi. Kepastian nasib pengemudi ini sangat penting, terlepas dari persaingan antar para aplikator. Seharusnya juga tak ada masalah jika driver Uber memilih bergabung dengan Gojek.
“ Jadi, apakah Gojek mau menyerap driver Uber atau tidak,” kata dia.
Sementara Ketua Institut Studi Transportasi, Darmaningtyas, mengatakan jika pengemudi Uber tak terserap semua, kondisi ini akan mengurangi suplai transportasi online di lapangan. Permintaan angkutan online akan terus bertambah seiring dengan semakin banyak peminat transportasi online karena lebih praktis daripada kendaraan pribadi.
Dia juga mengatakan transaksi penggabungan kedua operator, yaitu Uber dan Grab seharusnya diketahui dari awal oleh pemerintah sehingga langkah antisipasi bisa dipersiapkan. Apalagi akuisisi ini berkaitan dengan layanan di masyarakat selain menyangkut nasib ratusan ribu pengemudi.
“ Yang jadi isu saat ini adalah apakah pelayanan publik terganggu. Ini yang harus diperhatikan,” kata Darmaningtyas.
(Sah, Sumber: Liputan6.com/Nurmayanti)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya