Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
DBS Indonesia Merilis DBS Treasury Prism Di Indonesia. (Foto: DBS Indonesia)
Dream – PT Bank DBS Indonesia belum lama ini merilis platform baru yang memudahkan nasabahnya mengelola likuiditas. Lewat DBS Treasury Prism yang bisa diakses di treasuryprism.dbs.com, nasabah bisa mensimulasi perbendaharaan dan cash management keuangannya.
DBS Indonesia mengklaim platform online terbaru ini merupakan yang pertama di dunia. Dengan aplikasi ini diharapkan para CFO dan bendahara perusahaan bisa terbantu dalam tugasnya.
Dikutip dari keterangan tertulis DBS Indonesia, Senin 2 April 2018, Head of Global Transaction Services PT DBS Indonesia, Iwan Rusli, mengatakan platform ini menyasar pelanggan dan mewujudkan layanan dalam hal inovasi dan pengembangan produk.
“ Di DBS, kami secara proaktif melihat bagaimana layanan konsultasi digital berkembang bagi pelanggan. Plaftorm Treasury Prism DBS memberi lebih banyak kendali kepada pelanggan untuk mengelola likuiditas, perputaran masuk dan asal dana, bagaimana dan kapan, dan itu semua dapat diakses dari manapun di dunia ini,” kata Iwan.
Menurut Iwan, ada lima area kritis yang dihadapi oleh industri perbendaharaan. Kelima area itu adalah terlalu banyak proses persiapan untuk mencapai solusi yang optimal, kesulitan memperhitungkan solusi dari keuntungan dan biaya yang diajukan oleh bank yang berbeda, dan terbatasnya waktu untuk selalu mengikuti informasi dan peraturan baru, perubahan pajak, dan kondisi pasar.
Dua area kritis lainnya adalah terlalu banyak usaha yang diperlukan untuk bekerja dengan para pemegang saham dalam solusi pengelolaan keuangan terbaru, serta kesulitan dalam penerapan solusi yang baru dan kompleks.
“ Inovasi produk berpusat pada kebutuhan klien. Produk digital baru kini sedang dikembangkan dan penggunaan standar industri dan API dapat meningkatkan integtrasi serta memastikan bahwa pelanggan kami memiliki solusi terbaru dan terbaik yang sesuai dengan bisnis mereka,” kata Group Head of Digital, Institutional Banking Group and Global Transaction Services Product Management DBS Bank, Raof Latif.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya