Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Blazer Songket
Dream - Salah satu upaya menarik melestarikan kain nusantara yaitu menjadikannya tak hanya sekadar busana melainkan produk interior. Lewat pelatihan yang diberikan Cita Tenun Indonesia (CTI), kini produk kain nusantara diminati sampai Amerika.
" Kami ajarkan kalau untuk interior yang penting tahan lama, tidak tipis, tidak harus panjang-panjang," ujar Pemimpin CTI, Okke Rajasa saat ditemui saat Festival The Journey of Songket Sumatera di Museum tekstil, Tanah Abang, Jakarta, semalam.
Program pelatihan ini pun bisa dikatakan sukses. Karena produk-produk tersebut sering laris manis ketika dipasarkan.
Bahkan Okke mengatakan produk dari perajin binaannya sudah sampai ke tangan Martha Stewart, seorang pebisnis, penulis buku dan insan pertelevisian ternama asal Amerika.
" Alhamdulillah animonya begitu positif. Produk interior kita sudah banyak yang ke luar. Misalnya kain dari Wakatobi pernah menjadi wallpaper rumah. Kain Garut kita pernah dibeli Martha Stewart untuk dijadikan sarung bantal. Kualitas produk kita tidak kalah dengan luar negeri kok," ujar istri Ketua Umum PAN Hatta Rajasa ini.
Saat membimbing para perajin di daerah-daerah, Okke mengaku itu bukan hal mudah. CTI pernah merasa kesulitan dalam mengubah paradigma seniman binaannya untuk beralih dari produk tradisional ke sesuatu yang lebih modern. Namun melalui pembinaan dengan pendekatan sosiologi program bisa berjalan cukup baik.
Organisasi yang sudah berdiri sejak 2008 ini telah memberikan pelatihan di beberapa desa di Bali, Padang, Sambas, Sumba dan daerah lainnya yang hasil tenunnya punya kekuatan.
Okke berharap dengan adanya organisasi dan program yang bertujuan melestarikan kain nusantara ini bisa terus dikembangkan turun temurun.
" Jangan sampai hanya orangtua saja yang berperan melestarikan warisan budaya bangsa seperti kain nusantara tetapi semua lini dan usia. Mari kita lesatrikan dengan mengenakan kain nusantara walaupun hanya sedikit misalnya bentuk syal atau tas, dan lainnya," ungkap Okke. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya