7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Bandara Internasional Soekarno-Hatta Menjadi Salah Satu Merek Termahal Di Indonesia. (Foto: Angkasa Pura II)
Dream – Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi salah satu merek termahal di Indonesia. Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) ini menduduki peringkat ke-71 dari daftar Top 100 Indonesia Most Valuable Brands 2019.
Dikutip dari keterangan tertulis Angkasa Pura II yang diterima Dream, Kamis 13 Juni 2019, valuasi merek Bandara Soetta senilai US$72 miliar (Rp1.028,98 triliun).
Penilaian ini diperoleh dari hasil kajian konsultan Inggris, Brand Finance dengan majalah SWA. Metodologi yang digunakan oleh Brand Finance dalam menentukan nilai merek mencakup sejumlah proses yakni menghitung Brand Strength Index (BSI), Brand Royalty Rate, dan Brand Revenues, sampai mendapatkan Brand Value dari suatu merek.
Presiden Direktur Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan capaian ini menjadikan bandara itu satu-satunya bandara yang menjadi merek termahal. Kesuksesan Bandara Soetta berada di dalam jajaran merek paling mahal untuk pertama kalinya merupakan hasil dari transformasi yang tengah dijalankan perusahaan.

Transformasi tersebut berujung pada meningkatnya pelayanan ke standar tertinggi dan berdampak pada terbentuknya loyalitas pelanggan serta meningkatnya pendapatan.
“ Ada 3 transformasi yang sedang kami lakukan, yaitu business & portfolio transformation, infrastructure dan operation system transformation, dan human capital transformation. Transformasi tersebut untuk mencapai tujuan yakni menjadikan Soekarno-Hatta sebagai the best smart connected airport in the region,” kata dia di Jakarta.
Dia mengatakan perusahaan pelat merah itu juga membangun bandara secara masif, seperti terminal, runway, dan stasiun kereta. Kini, ada tiga terminal di Bandara Soetta, yaitu Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3.
“ Saat ini kami juga bersiap membangun Terminal 4, sebelum nantinya akan dilakukan pembangunan Soekarno-Hatta II,” kata Awaluddin.
Titik balik Soekarno-Hatta tentu saja adalah beroperasinya Terminal 3 pada 2016. Terminal berkapasitas 25 juta penumpang per tahun itu mampu membantu Terminal 1 dan 2 untuk mengurai kepadatan lalu lintas penumpang.
Sekarang, Terminal 3 bahkan menjadi referensi di Indonesia bagaimana seharusnya terminal penumpang pesawat beroperasi secara efektif dan efisien dengan standar pelayanan tinggi.
Soekarno-Hatta sejak 2017 juga telah dilengkapi dengan Skytrain sebagai moda transportasi antarterminal, sangat berbeda jauh dibandingkan dengan sebelumnya hanya mengandalkan shuttle bus.
Lebih lanjut, kereta bandara juga mulai melayani traveler sejak awal 2018 dengan rute dari Stasiun Bekasi, BNI City, Duri, Batu Ceper ke Soekarno-Hatta. Dalam waktu dekat, kereta juga akan melayani Stasiun Manggarai.
Ke depannya, pelayanan juga akan lebih meningkat dari sisi operasional dengan adanya runway ketiga dan east cross taxiway.
Selain infrastruktur fisik, perusahaan pelat merah itu juga membangun infrastruktur digital untuk Bandara Soetta. “ Di sisi lain, kami mengimbangi pembangunan itu itu dengan mengembangkan soft infrastructure yakni ekosistem digital,” kata dia.
Awaluddin mengatakan perpaduan antara pengembangan hard infrastructure dan soft infrastructure mampu membuat Soekarno-Hatta mempertahankan standar tinggi dalam melayani 60-70 juta penumpang pesawat per tahun.
“ Digitalisasi di Soekarno-Hatta sangat penting karena Soekarno-Hatta tidak bisa dikelola dengan cara-cara tradisional lagi. Lewat digitalisasi kami mampu melayani 60-70 juta penumpang meskipun kapasitas terminal baru sekitar 50 juta penumpang,” kata dia.
Berbagai infrastruktur pelayanan digital juga bisa dinikmati di Soekarno-Hatta mulai dari wifi berkecepatan tinggi (wi-shock), iMATE Lounge (i-Millennial Airport Travel Experience Lounge), tempat bermain e-sport, hingga personil yang dilengkapi dengan gadget (Digital Officer with Digital Device).
Pengembangan digital juga mencakup dirilisnya aplikasi untuk iOS dan Android guna memudahkan traveler mendapatkan pelayanan sebelum, saat, dan sesudah penerbangan.
“ Pengembangan hard infrastructure dan soft infrastructure membuat Soekarno-Hatta dapat beroperasi optimal dalam melayani penumpang,” jelas kata dia.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?