Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Seorang Pria Memakai Sepatu Loafer. (Foto: Pixabay/ilustrasi)
Dream – Ketika membeli barang bermerek, di benak kita adalah kualitasnya terjamin. Apalagi dengan harga yang tinggi, tentunya kualitas enggak main-main.
Tapi, jaminan ini tidak berlaku bagi pria malang bermarga Lim. Sebab, sepatu yang baru saja dibeli dengan harga belasan juta rupiah itu rusak setelah beberapa jam dibawa pulang.
Dikutip dari World of Buzz, Rabu 14 November 2018, awalnya sepatu yang dibeli di Pavilion Kuala Lumpur, Malaysia, itu dibanderol 4.590 ringgit atau sekitar Rp17,3 juta ringgit. Tapi ada diskon pada 2 November 2018 itu, Lim cukup menebusnya dengan Rp13,77 juta untuk membeli sepasang sepatu loafer hitam Gucci.

Petaka itu terjadi setelah Lim memakai sepatu kulit itu selama tiga jam untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Setelah itu, dia sadar alas kaki sepatu itu mengelupas. Lim malu. “ Teman-teman saya bertanya apakah itu sepatu tiruan,” kata dia.
Keesokan harinya, Lim membawa sepatu itu kembali ke toko dan mengajukannya untuk sepatu baru. Respons karyawan toko ini mengejutkan. Karyawan itu, menurut China Press, justru bersikeras mengirim kembali sepatu ke markas Gucci di Italia untuk penyelidikan.
“ Dua minggu kemudian, karyawan Gucci menelepon saya dan mengatakan masalahnya bukan di cacat produksi, melainkan perilaku konsumen,” kata dia.
Karyawan itu memberi Lim dua pilihan. Pertama, tetap memakai sepatu itu. Ke dua, karyawan Gucci membantu menempelkan sol baru di sepatu. Opsi mana yang dipilih? Tak ada.
Lalu, dia mengajukan keluhan resmi ke Tribunal for Consumer Claims Malaysia. Tak lama, Lim ditelepon Gucci dan diminta untuk menarik kembali laporannya. Produsen itu akan mengembalikan uang pria ini secara penuh.
Lim menolak dan bersikeras untuk menggunakan haknya secara penuh. Selama proses berlangsung, juru bicara dari Gucci mengklaim bahwa sepatu itu dalam kondisi sangat baik pada saat pembelian dan bahwa sol terbuat dari bahan kulit asli. Oleh karena itu, Lim harus disalahkan karena merusak sepatu.
Akan tetapi, pihak Tribunal for Consumer Claim Malaysia menyebut alasan Gucci tak masuk akal karena sol sepatunya mengelupas begitu cepat. Instansi ini menerima permintaan Lim dan meminta Gucci untuk mengembalikan uangnya secara penuh dan mengirimkan permintaan maaf.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya