Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi Uang Virtual. (Foto: Pexels/https://quantumaitrading.net/)
Dream – Menggunakan fasilitas sekolah untuk kegiatan pendidikan memang wajar dilakukan. Namun ulah Kepala Sekolah (Kepsek) di Chenzou, Hunan, Tiongkok, ini sudah keterlaluan. Dia mencuri akses internet sekolah untuk menambang duit uang virtual.
Pengelola sekolah memang pantas marah. Sebab ulah Kepsek itu membuat taghan internet sekolah membengkak.
Dikutip dari Next Shark, Selasa 13 November 2018, Kepsek itu bernama Lei Hua. Dia menghubungkan peralatan menambang uang virtual Ethereum memakai akses internet sekolah. Tak hanya itu, untuk menghemat uang, dia juga menggunakan fasilitas listrik.
Ethereum sebenarnya sangat mirip dengan Bitcoin. Ethereum adalah jaringan peer-to-peer publik atau blockchain dengan mata uang digitalnya sendiri yang disebut Ether.
Sang Kepsek yang seharusnya jadi panutan tak sadar sadar perbuatannya telah membuat sekolah kekurangan listrik. Akses jaringan internet sekolah juga menjadi semakin lambat. Alhasil, siswa dan guru protes.
Berdalih Karena Barang Kepanasan
Seorang karyawan sekolah mengingatkan Hua akan masalah konsumsi listrik. Tapi, pria ini menyebut masalah itu adalah karena barang elektronik kepanasan.
Lama-lama perbuatannya terbongkar. Penambangan duit di lab menjadi terlalu bising dan sulit untuk disembunyikan. Hua ketahuan.
Perbuatannya itu membuat tagihan listrik sekolah membengkak menjadi 14.714 yuan (Rp31,48 juta).
Sekadar informasi, cryptocurrencies seperti bitcoin dan ethereal meraih perhatian publik pada akhir 2017.
Ketika itu, nilai bitcoin menembus level US$11.500 (Rp171,12 juta), berdasarkan Forbes. Negara-negara seperti Tiongkok telah melarang cryptocurrencies sampai pemerintah mengatur panduan dan regulasi tentang teknologi keuangan.
(Sumber: Next Shark, Ilustrasi Foto: https://immediateedgeapp.org)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan