Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dream - Anggapan prestasi kerja akan meningkat dengan memberikan insentif berupa uang ternyata tak selamanya benar. Ada hal lain yang mendorong seorang pegawai memiliki prestasi gemilang.
Hasil penelitian terbaru yang dikeluarkan Chartered Institute of Management Accountant (CIMA), melaporkan pekerja dapat membuang tenaga dan perusahaan terus gagal mendorong perbaikan prestasi kerja karena kapasitas bawaan otak manusia memang terbatas.
Temuan ini terungkap dari hasil pengujuan akademisi dari Erasmus University's Rotterdam School of Management dan University of Ljubljana di Slovenia yang mengukur dan menganalisa aktivitas otak peserta riset, menggunakan functional magnetic resonance imaging (FMRI). Mereka melakukan serangkaian tugas berbasis komputer, mengukur kemampuan pegawai untuk menilai informasi di bawah desakan waktu ( time pressure ) dan tipe gangguan yang berbeda-beda.
Para peneliti juga membedakan kinerja pegawai yang diberi instentif uang sebagai imbalan untuk kecepatan dan akurasi kerja. Skenario lain adalah pegawai mengalami tekanan sosial untuk melakukan tugas dengan baik.
Kajian tersebut menemukan bahwa meskipun insentif berupa uang dan tekanan sosial memang mendorong orang bekerja lebih keras. Namun prestasi kerja mereka tampak tidak berkembang untuk tugas yang menuntut kesiagaan dan perhatian.
" Jika sistem biologis dasar membatasi kemampuan kita untuk berkembang di jenis-jenis kerja tertentu, kita perlu berpikir lebih imajinatif mengenai cara kita mengukur dan memberi imbalan untuk prestasi kerja," kata Prof. Dr Frank Hartmann , akademisi dari Management Accounting and Management Control di the Rotterdam School of Management, Erasmus University .
Menurut Frank, jenis-jenis pekerjaan bisa jadi jauh lebih spesifik daripada perkirakan. Untuk itu, setiap perusahaan perlu mengenali sampai mana batas prestasi kerja dan menghindari rasa frustrasi pekerja ketika hasil tak selalu berbanding lurus dengan usaha terbaik.
" Organisasi harus memastikan penilaian kinerja dengan akurat dapat menangkap upaya para pekerja, baik untuk mengukur apakah target dan insentif sudah efektif, maupun memastikan setiap individu mendapatkan imbalan sepadan," katanya.
Dr Ian Selby , Director of Research and Development di CIMA , menambahkan, penelitian ini mengindikasikan bahwa banyak perusahaan telah menciptakan tekanan kerja yang sia-sia untuk pegawainya. Lebih parah lagi, mereka menghabiskan banyak uang untuk skema bonus yang tidak efektif.
Perusahaan modern memang memiliki berbagai jenis insentif. Namun mereka tetap saja menggunakan dua hal yaitu tekanan dari atas, atau insentif berupa bonus.
" Dalam banyak kasus, taktik ini berhasil, tapi seperti diindikasikan riset ini, kadang cara ini salah. Solusinya, organisasi harus berinovasi. Mereka harus menemukan cara-cara baru untuk mengelola dan memberi insentif untuk pekerjanya, menggunakan cara pikir yang sama dengan yang mereka per gunakan untuk pengembangan produk." ujarnya.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya