Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Tren berinvestasi sepanjang pandemi Covid-19 telah mengalami pergeseran. Investor yang terbiasa bermain aman dengan menempatkan dana pada produk konvensional seperti deposito kini beralih melirik obligasi dan produk investasi lain dengan tingkat return lebih tinggi.
Pergeseran ini seharusnya ikut dibarengi kesadaran tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan produk investasi konvensional. Investor harus cermat sekaligus waspada terhadap siklus ekonomi yang tidak terduga.
Sementara bagi pelaku perbankan harus semakin bersiap dengan tuntutan lebih tinggi dari investor. Industri keuangan harus bisa mencegah kerugian nasabah dalam layanan pengelolaan kekayaan yang mereka berikan.
Tindakan tersebut diikuti sikap pelaku investasi yang harus cermat dan berhati-hati dalam memilih produk perbankan dan investasi yang paling tepat bagi dirinya.
Citi Indonesia memberikan tiga tips utama yang perlu diperhatikan dalam membuat keputusan investasi di masa pandemi, baik bagi investor maupun pihak pengelola kekayaan.
1. Produk Investasi yang Sesuai Kebutuhan
Nasabah harus menyadari kebutuhannya agar dapat memilih produk investasi yang tepat. Kondisi dan kebutuhan setiap individu pastinya berbeda-beda. Ada nasabah keluarga muda yang berinvestasi untuk dana pendidikan anak. Di sisi lain, ada nasabah yang berinvestasi untuk masa pensiun. Perbedaan kebutuhan ini akan berpengaruh pada produk investasi yang sebaiknya dipilih oleh nasabah.
Kebutuhan ini harus mendapatkan perhatian khusus baik dari nasabah maupun pengelola kekayaan suatu institusi perbankan. Identifikasi kebutuhan dan produk investasi apa yang paling sesuai saat ini lebih mudah dilakukan dengan adanya teknologi digital untuk mencari informasi sebanyak mungkin terkait berbagai produk investasi dan tingkat risikonya.
Tergantung profil nasabah, pengelola kekayaan juga dapat mempertimbangkan diversifikasi investasi dengan tingkat risiko yang disesuaikan.
2. Pendampingan dalam Melakukan Investasi
Hal tak kalah penting saat berinvestasi adalah pendampingan dari penyedia layanan pengelola kekayaan. Hal-hal penting seperti selektif dalam memilih investasi dan memberikan informasi terkini terkait investasi yang telah ditanamkan, penting diketahui investor pemula.
Institusi perbankan biasanya akan diwakili oleh seorang Relationship Manager dan tim konsultan investasi yang akan memantau, melaporkan, dan menyarankan penyesuaian investasi pada nasabahnya.
Relationship Manager perlu memiliki kompetensi dalam menjelaskan berbagai hal terkait investasi dan proteksi kepada para nasabah. Dalam hal ini, Relationship Manager dan tim konsultan investasi Citi Indonesia telah mengantongi berbagai sertifikasi standar terbaik industri, seperti Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE) untuk obligasi, Wharton Executive Education untuk reksadana, dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) untuk asuransi.
3. Kualitas Layanan Pengelolaan Kekayaan
Pada praktiknya, terutama selama masa pandemi, lembaga perbankan banyak mengalami keterbatasan untuk bertemu nasabah secara langsung. Saat ini, nasabah dapat memahami dan menilai kualitas layanan pengelolaan kekayaan dari institusi perbankan dengan memantau market update dan berbagai informasi yang diberikan melalui kanal digital.
Citi Indonesia juga terus bekerja sama dengan para manajer investasi untuk menerbitkan produk-produk baru guna makin mengoptimalkan kegiatan pengelolaan kekayaan para nasabah. Semua hal tersebut dilakukan untuk memudahkan dan mengoptimalkan pengelolaan kekayaan para nasabah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya