7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Terkadang kita selalu memandang gaji besar akan menyelesaikan semua permasalahan. Padahal dalam kenyataannya, sering kali kebutuhan kita mendadak meningkat setiap kali pemasukan bertambah. Yang menyesakkan, kenaikan itu tak disadari.
Bahkan muncul ungkapan yang menyebutkan semakin tinggi gaji seseorang maka kebutuhan pun semakin besar.
Meski tak selalu dialami semua orang, namun ungkapan itu ada benarnya. Setidaknya ini dirasakan seorang pria asal Malaysia yang memiliki gaji RM3.300 atau sekitar Rp11.449.290 per bulan.
Pria itu menceritakan permasalahan keuangannya lewat UTAR Confessions. Akun anonim itu mengakui jika gaji belasan juta rupiah itu ternyata tak membuatnya bisa memiliki saldo tabungan sangat besar. Bahkan pria itu sama sekali tak mempunya tabungan.
Dia pun merinci setiap pengeluarannya dengan memperlihatkan kebutuhan bulanannya yang sudah sangat banyak.
- Sewa rumah: RM400/ Rp1.387.792
- Keluarga: RM500/ Rp1.734.741
- Transportasi: RM30/ Rp104.084
- Makan: RM600/ Rp2.081.689
- WiFi dan biaya telepon: RM200/ Rp693.896
- Utang sekolah: RM150/ Rp520.422
- Kebutuhan harian dan belanja: RM200/ Rp693.896
- Kesehatan: RM600/ Rp2.081.689
- Asuransi Tabungan: RM400/ Rp1.387.792
- Kartu medis: RM200/ Rp693.896
- Biaya lain-lain: RM20/ Rp69.389
Jika dijumlah, tidak ada yang tersisa untuk ditabung. Pria tersebut menambahkan bahwa dia tidak berkencan dengan siapa pun dan masih lajang.
Meskipun ada seorang gadis di kantornya yang dia sukai, pria itu malu dengan gajinya yang dianggap kecil.

Ia pun bertanya bagaimana mengelola keuangan jika gaji di bawah RM3.000 atau Rp10,4 juta per bulan.
“ Untuk menghemat RM1K sebulan, saya harus menjalani hidup saya seolah-olah saya hanya menghasilkan RM2K,” katanya.
Sumber: World of Buzz
Dream – Lulusan baru tak jarang harus menelan pil pahit soal gaji. Mereka acapkali mendapatkan gaji tak sesuai dengan harapan.
Kita memang sering diberi tahu bahwa harus bernegosiasi gaji dengan perusahaan agar bisa mendapatkan penghasilan yang sesuai. Sayangnya, saran ini tak selalu mempan bagi semua pelamar kerja.
Daripada misuh-misuh dengan gaji kecil yang akhirnya membuat nama kamu tercoreng di dunia kerja, mungkin kini saatnya kamu menjadi bos sendiri. Langkah berani inilah yang dilakukan seorang pegawai baru di Thailand.
Dikutip dari World of Buzz, Rabu 2 Desember 2020, seorang fresh graduate dari Bangkok, Thailand, memutuskan berhenti bekerja karena merasa gaji yang diterimanya kecil. Dia akhirnya memilih untuk berjualan nasi ayam.
Ibu dari sang anak ini mengunggah ceritanya di Facebook. Dikatakan bahwa putranya adalah sarjana Komunikasi Bisnis dan baru lulus tahun ini. Sang anak mendapatkan pekerjaan pertamanya di kota beberapa bulan sebelum memutuskan keluar karena gaji yang diterima tak sepadan.
“ Gajinya kecil. Gaji bulanannya 10 ribu baht (Rp4,66 juta). Padahal gaji untuk lulusan baru berkisar 13 ribu baht (Rp6,06 juta),” tulis sang ibu, seperti yang diberitakan oleh media lokal Thailand, Kai Jeaw.
Sang ibu menambahkan bahwa perusahaan tak mampu membayarnya dengan gaji ideal karena kondisi perekonomian. Pimpinan perusahaan hanya mampu membayar 10 ribu baht.
“ Tapi ongkos mengemudi dari rumah ke kantor sudah makan biaya 200 baht (Rp93.246) per hari dan itu sangat melelahkan,” tulis dia.
Sang ibu mendukung pilihan anaknya untuk keluar dari pekerjaan. Sebab, sang anak enggan berbicara setiap pulang kerja.
“ Saya tahu dia sangat tidak bahagia,” kata dia.
Setelah berbicara kepada sang anak, orang tua ini menyarankan untuk membuat lapak di samping rumah. Sang anak diminta untuk menjual nasi ayam dan nasi telur dadar. Ibunya berbelanja ke pasar untuk membeli bahan-bahan dan memasak. Sang anak hanya menunggui lapak dan menjual dagangannya. Hari pertama berjualan tidak sukses.
Sang anak hanya menjual satu bekal nasi. Melihat ini, sang ibu meminta dukungan dari warganet untuk menyemangati anaknya.
“ Saya berharap orang-orang bisa mendukung anak saya,” kata sang ibu.
Sayangnya, unggahan ini telah dihapus. Namun, banyak warganet berkomentar dan memberikan dukungan kepada bisnis keluarga sang ibu.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?