Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bank Indonesia
Dream - Demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) untuk ketujuh kalinya kembali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 7,5 persen. BI berharap langkah ini juga bisa membawa inflasi tetap sesuai sasaran 4 plus minu 1 persen pada 2015 dan 2016.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18 Agustus 2015 juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,5 persen serta Lending Facility pada level 8 persen.
Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, mengatakan, fokus BI dalam jangka pendek BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian perekonomian global. Caranya dengan mengoptimalkan operasi moneter, baik di pasar uang rupiah maupun pasar valas (valuta asing).
Salah satu langkah optimalisasi operasi moneter di pasar uang rupiah dan valas yang dilakukan BI adalah dengan menjaga likuiditas bank. Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo melaporkan kelebihan likuiditas perbankan saat ini mencapai Rp 240 Triliun. Namun, jumlah kredit tidak sebanding dengan jumlah likuiditas yang tersedia.
“ Likuiditas bank itu berlebih sementara permintaan kredit masih lemah, karena memang serapan anggaran itu masih kurang,” kata Perry.
Sementara dalam operasi moneter Valas, kata Perry, BI akan menerapkan term deposit valas untuk menyelesaikan masalah kenaikan simpanan masyarakat dalam bentuk valas. Sementara bank-bank yang ada belum mampu menyalurkan kredit atas simpanan tersebut.
Untuk menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut, Agus pun berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya nilai tukar dan sistem keuangan dalam kesinambungan perekonomian.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya