Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rumah Ini Tahan Gempa Hingga 9 Skala Richter. (Foto: Kementerian PUPR)
Dream – Awal Agustus lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memperkenalkan konsep rumah yang diklaim tahan guncangan gempa. Diberi nama RISHA, singkatan dari Rumah Instan Sederhana Sehat, harga rumah tersebut akhirnya diumumkan ke publik dan termasuk cukup murah.
Dikutip Dream dari Liputan6.com, Senin, 1 Oktober 2018, pemerintah memperkirakan RISHA bisa dibangun dengan anggaran hanya Rp27 juta. Dengan dana tersebut, masyarakat sudah bisa membeli perlengkapan dan peralatan properti untuk membangun rumah tersebut.
Kepala Seksi Layanan Balitbang Tata Bangunan dan Lingkungan Puslitbang Perumahan dan Permukiman Kementerian PUPR, Muhajirin, menjelaskan ukuran standar rumah RISHA adalah 3m x 3m atau 9 meter persegi.
" Jadi Risha ini ukuranya modul 3x3. Jadi kalau seseorang ada yang ingin membangun Risha itu bisa tergantung dari kondisi keuangannya, misalnya saat ada uang sisi lebar rumahnya bisa ditambah jadi tipe 18. Tapi dengan modul 3x3 tetap bisa disebut Risha juga," kata Muhajirin di Jakarta.
Untuk membangun rumah tahan gempa ini, dia mengatakan bahan dasar yang diperlukan berupa kolaborasi antara panel 1, panel 2 dan panel 3. Jika dihitung, biaya total pembuatan rumah instan sederhana sehat memakan biaya sekitar Rp27 juta untuk tipe 36.
Muhajirin mengklaim Risha tahan terhadap guncangan gempa hingga 9 skala Richter (SR). Pembentukannya pun bisa turut memanfaatkan bahan baku properti dari bekas rumah yang telah hancur akibat guncangan dahsyat.
" Seperti gempa di Lombok. Tidak semua rumahnya hancur. Masih ada bagian yang bisa dipakai seperti pintu, kusen, termasuk bahan bangunannya. Mungkin untuk aplikatornya lebih ke pemasangan panel Risha-nya sendiri," kata dia.
Muhajirin mengatakan kaca rumah ini tidak pecah ketika diuji dengan 9 SR. Di pusat gempa di daerah Lombok Utara, bangunan ini ada yang dipakai untuk sekolah adat.
“ Itu tidak runtuh. Kalau di pengujian goyang, posisinya kembali ke semula karena memang ikatannya hanya pakai mur, baut supaya lebih fleksibel. Nggak pakai paku,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Maulandy Rizky Bayu Kencana)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya