Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.
Dream – Nilai tukar Dolar AS kembali terhadap rupiah kembali menguat. Kali ini, mata uang Negeri Paman Sam itu nyaris menyentuh Rp14.600.
Dilansir dari laman Bank Indonesia (BI), Senin 13 Agustus 2018, menurut kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, dolar menanjak ke level Rp14.583. Dolar AS melesat dari posisinya pada Jumat, 10 Agustus 2018 di level Rp14.437.
Posisi dollar AS awal pekan ini merupakan yang terendah sepanjang 2018. Posisi terkuat Dollar AS pada tahun ini sempat tercatat di level Rp 15.541 pada 24 Juli 2018 lalu.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan ada banyak faktor yang mempengaruhi kondisi rupiah. Kali ini, penyebabnya adalah krisis di Turki.
“ Setiap hari ini selalu ada berbagai faktor bisa saling mempengaruhi. Jadi, pada minggu terakhir ini, faktor yang berasal dari Turki,” kata Sri Mulyani di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com, Senin 13 Agustus 2018.
Dia mengatakan dampak krisis Turki ini terjadi secara global. Hal ini disebabkan oleh krisis yang tak terdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga sektor lainnya.
" Menjadi muncul secara global, karena tidak dari sisi magnitude-nya yang terjadi dinamika di Turki, tapi juga karena nature atau karakter persoalannya yang sebetulnya ada persoalan serius, mulai masalah currency-nya juga pengaruh terhadap ekonomi domestik, dan terutama juga dimensi politik dan security di sana," kata Sri Mulyani.
© Dream
Dia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dilihat dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2018.
" Pertumbuhan ekonomi kita di kuartal II cukup kuat, dan itu dorong oleh konsumsi, kita tetap mengatakan investasi dan ekspor perlu dipacu, sedangkan CAD (current account deficit/defisit neraca berjalan) mengalami peningkatan jadi 3 persen, ini masih lebih rendah jika dibandingkan situasi pada tappertantrum 2015 yang bisa di atas 4 persen,” kata dia.
Sri Mulyani juga mengatakan pemerintah akan selalu mengedepankan aspek kehati-hatian menghadapi situasi ekonomi global.
“ Lingkungan yang kita hadapi sangat berbeda dengan 2015, 2015 waktu itu quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga belum dilakukan baru diungkapkan. Sekarang suku bunga sudah naik secara global dan quantitative easing sudah mulai dikurangi. Inilah yang menyebabkan tekanan lebih kuat terhadap berbagai mata uang di dunia,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya