Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dollar AS Terus Menguat.
Dream – Penguatan dollar AS terhadap mata uang dunia masih terus berlanjut. Nilai tukar dollar AS di pasar spot seperti terekam Bloomberg tercatat sudah hampir mendekati level Rp15.200.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis 4 Oktober 2018, pada pukul 13.15, kurs dollar AS terhadap rupiah di pasar spot berada di level Rp15.187. Nilai tukar ini menguat 112,5 poin (0,75%) dari pembukaan.
Ketika perdagangan dibuka, dollar AS bertengger di level Rp15.120.

Dari awal tahun hingga hari ini, dollar AS menguat 12,04 persen.
Penguatan dollar juga tercatat di data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Dikutip dari laman bi.go.id, dollar AS berada di level Rp15.133.
Kurs rata-rata dollar AS itu melemah 45 poin dibandingkan kemarin yang untuk pertama kalinya menyentuh level Rp15.088.
Dikutip dari Liputan6.com, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, mengatakan sentimen eksternal mendorong pelemahan rupiah. Plus, JP Morgan mengatakan perang dagang Amerika Serikat—Tiongkok, akan berlangsung lama. Ini memicu kekhawatiran pasar. Pasokan valuta asing juga belum berimbang dengan permintaan.
“ Di pasar modal, masih terjadi outflow. Permintaan valas untuk minyak tinggi, tapi pasokan terbatas. Permintaan valas belum berimbang karena pasokan,” kata dia.
David mengatakan pelemahan rupiah masih bertahap dan bisa diantisipasi oleh pelaku usaha sektor riil. Tren pelemahan ini terjadi sejak 2012.
“ Pelemahan rupiah pelan-pelan. Tidak seperti Turki. Pelaku usaha juga tidak ingin penguatan dan pelemahan mata uang terlalu cepat,” kata dia.
David mengatakan rupiah masih tertekan hingga akhir tahun. Nilai tukarnya diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp14.800-Rp15.000 hingga 2018.
Dia meminta Bank Indonesia (BI) dan pemerintah bisa merespons dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan BI. Bank sentral diperkirakan masih bisa menaikkan suku bunga acuan 25-75 basis poin (bps) sampai 2018. Hal ini dilakukan untuk menekan defisit transaksi berjalan dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
“ Defisit transaksi berjalan harus turun karena tantangan tahun depan lebih berat. Kuartal III, defisit transaksi berjalan akan di bawah 3 persen,” kata dia.
David mengatakan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti perang dagang, kenaikan suku bunga The Fed, dan harga minyak dunia.
Pemerintah diharapkan bisa memberikan insentif. Tujuannya agar pengusaha bisa mengendapkan devisa hasil ekspor di Indonesia.
“ Dorong ekspor susah. Namun, dana ekspor diharapkan masuk dengan buat insentif menarik agar pengusaha konversikan ke rupiah,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Agustina Melani)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya