7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Tak Sedikit Karyawan Yang Merasa Gajinya Kurang. (Foto: Shutterstock)
Dream – Literasi keuangan yang kurang membuat sebagian karyawan di tempat kerja merasa gajinya tidak cukup. Bahkan, penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan satu dari lima karyawan merasa stres di tempat kerja karena masalah keuangan pribadi, sehingga produktivitasnya turun.
“ Financial intelligence bertujuan untuk mewujudkan kondisi finansial yang sehat,” kata Financial Trainer QM Financial, FDV Wulansari, pada Selasa 4 Mei 2021.
Wulansari mengatakan, karyawan dikatakan sehat finansial kalau sudah punya penghasilan dan bisa mengelolanya dengan baik. Keuangannya dianggap baik kalau bisa memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan.
“ Dapat mengelola utang dengan baik, siap menghadapi kondisi darurat pribadi, mampu pensiun dengan nyaman, dan tangguh menghadapi krisis finansial,” kata dia.
Menurut Wulansari, ada tiga fase karier karyawan mengelola gaji di perusahaan. Fase pertama, dia akan lebih boros, bahkan terlibat utang konsumtif karena mengalami euforia gaji pertama.
“ Selain itu, masih ada yang tidak paham tentang benefit perusahaan,” kata dia.
Fase ke dua, lanjut Wulansari, adalah level karier yang cukup mapan. Pada level ini, karyawan masih ada yang tidak optimal memanfaatkan kenaikam gaji yang diberikan perusahaan, belum mengenal investasi dan tidak paham aspek proteksi.
Fase terakhir adalah pensiun. Saat ini, karyawan mulai mempersiapkan transisi menuju pensiun. Pada fase ini tak sedikit karyawan yang belum siap pensiun.
“ Maka, karyawan perlu dibekali dengan keterampilan untuk menyiapkan aset aktif dan mengelola keuangan di masa pensiun. Untuk bisa menjalani setiap fase dengan baik, karyawan membutuhkan financial intelligence,” kata dia.
Fakta ini didukung dengan survei korporat yang dilakukan oleh QM Financial untuk karyawan di beberapa perusahaan. Diketahui bahwa 51 persen responden merasa penghasilannya kurang dan 45,5 persen mengaku tak siap pensiun.
Sementara itu, 87,5 persen korporat menyatakan kebutuhan program edukasi keuangan bagi karyawannya. QM Financial mengajak korporasi di Indonesia untuk meningkatkan financial intelligence sebagai upaya mewujudkan karyawan yang berdaya secara finansial.
Chief People Officer Tiket.com, Dudi Arisandi, mengatakan kesehatan finansial adalah kuci kesehatan keuangan organisasi.
“ Kami merasakan secara langsung adanya peningkatan produktivitas kerja karyawan saat kami lebih memperhatikan kesehatan finansial mereka dengan menyediakan program edukasi pengelolaan keuangan,” kata Dudi.
(Reporter: Yuni Puspita Dewi)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?