Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Generasi Milenial Mengeluh Kenaikan Gaji Yang Tak Sebanding Dengan Kenaikan Biaya Hidup. (foto: Shutterstock)
Dream – Bagi generasi milenial, bukan rahasia lagi bahwa gaji fresh graduate kadang tak bisa mencukupi biaya hidup. Ada kesenjangan besar antara biaya hidup jika dibandingkan dengan gaji standar.
Seperti yang dikeluhkan seorang warganet asal Malaysia yang dimuat oleh World of Buzz berikut ini. Sebagaimana dikutip Dream, Rabu 3 Juli 2019, warganet dengan akun Twitter @InjangNation mencuit bahwa generasi milenial di sana mengalami kesenjangan besar antara biaya hidup dengan gaji standar.
Menurut dia, 19 tahun yang lalu, harga nasi goreng sekitar satu hingga dua ringgit (Rp3.414-Rp6.829), sementara gajinya sebesar 1.500 hingga 2.000 ringgit (Rp5,13 juta—Rp6,83 juta).
“ Sekarang sepiring nasi goreng sekitar 5 ringgit—6 ringgit (Rp17.073—Rp20.487). Gaji yang berkisar antara 5 ribu hingga 6.500 ringgit (Rp17,07 juta—Rp22,19 juta), kan?” cuit Si Injang.
“ Saya tak tahu apakah hanya buruk dalam matematika, tapi sepertinya biaya hidup meningkat, sementara kisaran gaji yang mengikuti standar yang lebih tua,” cuit di lagi.
Si Injang juga menyoroti pandangan masyarakat terhadap generasi milenial. Bagi masyarakat, generasi ini dinilai malas dan buruk, terutama bagi generasi yang lebih tua.
Warganet ini juga menunjukkan bagaimana kesenjangan ekonoi untuk menemukan cara menstabilkan status keuangan dengan mengambil pekerjaan sebagai pengantar makanan.
“ Kami bahkan tidak mampu membeli rumah meskipun generasi yang lalu membelikan masing-masing anaknya rumah, sementara yang satu menyewakan satu kepada kami,” cuit Si Injang.
Dengan kesenjangan ini, Si Injang mencuit, alih-alih bisa membeli rumah, generasi milenial juga kesulitan untuk menikah karena biaya pernikahannya tinggi.
“ Kami sering berpikir dua kali sebelum membentuk keluarga,” cuit dia,
Si Injang mengatakan harga barang sepanjang 2019 semakin naik, tapi gaji tetap mengikuti aturan tahun 2000. Inilah yang membuat warganet kesal.
“ Bahkan kita mengambil 2-3 pekerjaan, tetap saja tak cukup untuk hidup,” cuit dia.
Lagipula, Si Injang mengatakan tak logis dengan gaji minimum 1.500 ringgit pada 2019. “ Ini tidak logis, tapi masih eksis. Ini kenyataan yang harus dihadapi bahwa kita harus menghadapi hidup,” kata dia.
Si Injang juga menepis anggapan generasi Y merupakan pemalas. Dikatakan bahwa generasi Y bukan malas, melainkan tak punya gaji yang cukup untuk menghidupi kebutuhannya.
“ Aset (generasi terdahulu) bisa mencukupi 19 generasi sebelum habis. Gaji kami? Akan habis selama seminggu,” cuit dia.
Unggahan Si Injang menjadi viral dan telah dicuit sebanyak 19.100 kali.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya