Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Harga BBM Pertalite Di Pedalaman Papua Bikin Insecure, Alasan Di Baliknya Mencengangkan
Dream - Pemerintah memang telah menggaungkan program BBM Satu Harga. Namun sayangnya, belum semua masyarakat merasakan harga BBM yang sama dengan Pulau Jawa. Warga di beberapa daerah, seperti Papua, harus membeli BBM dengan harga lebih mahal.
Program BBM Satu Harga yang diluncurkan sejak 2017 sejatinya dibuat agar daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dapat menikmati harga BBM yang sama dengan pulau Jawa.
Meski begitu, faktanya penjual eceran di pedalaman Papua masih mematok harga tinggi untuk BBM. Seperti yang terlihat dalam video yang diunggah akun Instagram @hendrakaiju berikut ini.
Dalam video, Hendra menunjukkan momen saat hendak membeli BBM Pertalite di daerah pedalaman Papua, tepatnya di Intan Jaya.
" Harga Pertalite di pedalaman Papua bikin daerah lain insecure," tulisnya dalam video.

Ia lantas bertanya kepada penjual BBM eceran itu. " Ini pertalite, kah? Berapa satu liter?," tanya Hendra.
" Ini pertalite, satu liter, yang ini 40 ribu," ujar si penjual.
Hendra juga bertanya mengenai harga pertalite yang berada dalam jiriken yang ukurannya lebih besar.
" Kalau yang ini Rp80 ribu," jawab wanita yang disapa Suster itu.

Hendra pun kembali memastikan apakah harga tersebut memang menjadi harga patokan bagi pedagang eceran.
" Kalau eceran memang selalu ada yang Rp40 ribu ya," kata Hendra.
" Iya betul, ini kita datangkan dari Timika," jawab sang penjual.

Hendra pun bertanya apakah bensin itu dibawa menggunakan pesawat dari Timika.
" Iya pakai pesawat," jawab Suster itu lagi.
Bahan-bahan pokok atau kebutuhan masyarakat di Papua memang mahal lantaran keterbatasan akses menuju beberapa wilayah.
Untuk mendistribusikan barang harus menggunakan pesawat sehingga biaya logistik mahal.
" Kalo di kota harga segitu, di jamin banyak yg pilih jalan kaki atau sepedaan😅."
" Sangat wajar sih kalo BBM harga segitu. Mengingat susah sekali akses jalannya. Dan di Papua kebanyakan pake pesawat. Jadi harganya ya mahal.. Semoga kedepannya lebih di perhatikan lagi. Khususnya pedalamannya."
" Kebijakan 1 harga ternyata gak bisa menyentuh yg di daerah2 gini."
" FYI : harga segitu karena penjual beli nya harus di SPBU Timika yang jaraknya sangat jauh dari Intan Jaya. Dan di Intan Jaya tidak ada SPBU. Yakali pedagang ngasih hatga yang sana dengan harga SPBU."
" Katanya para anu, harga BBM dipedalaman Papua sudah sama kayak di Jawa, tapi nyatanya masih mahal ya karna moda transportasi yg digunakan utk mengangkut BBM itu masih mahal ongkosnya."
Laporan : Erdyandra Tri Sandiva
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya