Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi Beras Indonesia (Shutterstock/Sony Herdiana)
Dream - Bank Dunia mengungkapkan harga beras di Indonesia menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) selama sepuluh tahun terakhir.
" Harga eceran beras Indonesia secara konsisten menjadi yang tertinggi di ASEAN selama (satu) dekade terakhir," demikian tertulis dalam laporan terbaru Bank Dunia Indonesia Economic Prospect (IEP) December 2022', dikutip Selasa, 20 Desember 2022.
Badan keuangan internasional itu menyebut, harga beras di tanah air 28 persen lebih tinggi dari harga di Filipina. Kemudian dua kali lipat lebih mahal dari negara ASEAN lainnya yakni Vietnam, Kamboja, Myanmar, dan Thailand.
" Hal ini disebabkan adanya dukungan harga pasar bagi produsen di bidang pertanian yang terdiri dari kebijakan yang menaikkan harga domestik untuk produk pertanian pangan," kata Bank Dunia.
Kebijakan harga pasar bagi produsen pertanian yang disebut Bank Dunia sebagai salah satu faktor tingginya harga beras di Indonesia yakni seperti pembatasan perdagangan melalui tarif impor, monopoli impor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk komoditas utama, dan tindakan non-tarif lainnya.
Pemerintah juga membatasi harga pembelian minimum di tingkat petani, semisal dalam pembelian beras.
" Selain itu, kurangnya investasi jangka panjang dalam penelitian dan pembangunan pertanian, layanan penyuluhan, dan pengembangan sumber daya menahan peningkatan produktivitas yang dapat menurunkan harga pangan dalam jangka panjang," jelasnya.
Selain itu, menurut Bank Dunia rantai pasokan yang panjang dari rodusen ke konsumen membuat harga barang menjadi lebih tinggi. Khususnya dalam biaya distribusi, mengingat kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
Bank Dunia menyarankan agar Indonesia meningkatkan produktivitas dan mengurangi hambatan impor produk pertanian.
Menurut mereka, kebijakan tersebut bisa mendorong diversifikasi pangan yang lebih bergizi seperti dalam hal ternak, buah dan sayuran.
" Ini untuk mengurangi distorsi kebijakan yang saat ini berpihak pada produksi beras (dan) dapat meningkatkan kecukupan gizi," katanya.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) pada Senin 19 Desember 2022, harga beras paling murah di Indonesia tercatat Rp10.400 per kilogram di Nusa Tenggara Barat. Sedangkan harga beras paling tinggi di Sulawesi Tengah, yakni Rp16.550 per kilogram.
Sumber: Merdeka.com, Liputan6.com
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya