Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Indeks syariah rontok masih belum bertenaga di pekan terakhir November 2018. Laju tiga indeks acuan saham syariah kembali melemah pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa 27 November 2018.
Sinyal yang tak jelas dari dalam dan luar negeri membuat pelaku pasar menahan diri terjun ke lantai bursa. Aksi wait and see pelaku pasar itu membuat prediksi akan adanya kenaikan laju indeks tak terjadi.
Pasar sebetulnya disuguhi sinyal positif dari dalam negeri berupa penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Aksi beli pemodal asing juga menambah keyakinan akan adanya laju menanjak indeks saham.
Papan perdagangan BEI mencatat Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) hari ini malah terkoreksi 0,993 poin (0,56%) ke level 176,819. ISSI membuka perdagangan dengan melemah ke level 177.482.
ISSI sempat bergerak menguat 20 menit usai sesi pembukaan perdagangan. Selama laju penguatan 25 menit itu, ISSI sempat menyentuh level tertingginya di 177,995. Namun selanjutnya ISSI menghabiskan sisa perdagangan di zona merah dan terperosok ke level terendah di 176,258.
Indeks bluechip syariah, Jakarta Islamic Index (JII) juga terkoreksi 6,714 poin (1%) ke level 661,084. Sementara indeks JII70 turun 1,443 poin (0,65%) ke level 219,148.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bisa bertahan di level 6.000 meski ditutup melemah 9,189 poin (0,15%) ke level 6.013,589.
Perdagangan saham syariah kali ini sedikit meningkat dengan nilai transaksi mencapai Rp3,38 triliun dari 37,55 miliar lembar saham yang berpindah tangan.
Investor lebih suka melepas sahamnya di sektor industri dasar, pertambangan, dan infrastruktur. Ketiga indeks ini terkoreksi masing-masing sebesar 2,04 persen, 1,59 persen, dan 1,51 persen.
Penguatan indeks terjadi pada sektor keuangan sebesar 1,05 persen namun tak berdampak signifikan pada indeks saham syariah. Disusul industri aneka yang naik 0,99 persen, dan pertanian 0,43 persen tak cukup kuat menahan laju pelemahan perdagangan.
Investor menyukai saham INDR untuk tanam modal. Alhasil, harga sahamnya meroket Rp1.200. Penguatan saham ini juga diikuti oleh FISH sebesar Rp600, GMTD Rp550, NIK Rp550, dan INAF Rp460.
Sebaliknya, harga saham UNTR terkoreksi Rp725, ITMG Rp425, SMGR Rp400, BLTZ Rp350, dan SOSS Rp240.
Dari pasar uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS malah turun. Pada pukul 16.25, dolar As menguat 34 poin (0,23%) ke level Rp14.509 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya