Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah
9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
Ilustrasi Program KB (posyandu.org)
Dream - Pelaku industri keuangan syariah diimbau tak malu mencontek kesuksesan program Keluarga Berencana (KB). Program ini dianggap berhasil menarik massa mendobrak pola pikir masyarakat.
Sebagai model bisnis yang relatif baru berkembang, pelaku industri keuangan syariah memang dituntut kreatif dalam menembus pasar Indonesia.
" Kita perlu mengambil contoh kesuksesan program Keluarga Bencana. Ada, supply, demand dan influencer. Ini model yang dipakai dalam keuangan inklusif," kata Direktur Karim Business Consulting, Adirwarman A Karim seperti dikutip Dream.co.id, Senin, 10 November 2014.
Adiwarman menjelaskan, program KB pada awalnya mendapat banyak tentangan dari para ulama. Padahal, masyarakat pedesaan umumnya lebih mempercayai perkataan ulama dibandingkan pemerintah.
Kondisi tak jauh berbeda dialami industri keuangan syariah saat ini. Kesadaran masyarakat akan produk keuangan halal masih rendah dikarenakan minimnya sosialisasi dari para ulama dan pondok pesantren.
" Kalau Anda bisa mendekati ulama, program ini mungkin bisa berhasil," katanya.
Pada bagian lain, Adiwarman menjelaskan, tipe pasar syariah Indonesia terbagi kedalam tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah masyarakat apatis di mana faktor murah menjadi kunci utamanya.
Untuk mendekati tipe pasar ini, lembaga keuangan syariah harus menyediakan beragam produk serba murah. " Misalnya bunga yang lebih murah. Kalau tidak, dia tak mau masuk," katanya
Tipe kedua adalah pasar yang rasionalis dan universalis. Bagi kalangan ini, keunggulan fitur produk menjadi pertimbangan utama. Sedangkan aspek universalitas dilihat dari segi fairness.
Terakhir dalah masyarakat kompromis yang hanya mementingkan produk syariah. " Lembaga keuangn tak perlu sibuk menjual produknya kepada kelompok ini. Tak usah dijual, pasti mereka mau masuk," kata Adiwarman.
Ditambahkannya, tantangan pengembangan sistem keuangan inklusif bagi industri syariah sebenarnya terletak pada upaya mengajak pasar kompromis untuk bisa masuk. Metode pelabelan halal sebetulnya cara mudah memancing kalangan investor ini.
" Bagi saya, letak keseksian ekonomi syariah terletak pada aspek duniawi, akses availibility, dan product fitur," katanya.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes

Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan