Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Orang Memakai Payung. (Foto: Shutterstock)
Dream – Akhir 2018, perusahaan di Jepang merilis platform untuk berbagi payung. Mereka yang ingin menggunakan payung, harus menyewanya terlebih dahulu melalui aplikasi LINE.
Berstatus sewa, tentu saja si peminjam berkewajiban mengembalikan payung tersebut ke si pemiliknya. Di sinilah orang Jepang sekali lagi menunjukan kelebihannya soal budaya masyarakat.
Tingkat pengembalian payung penduduk Jepang ternyata mencapai 100 persen! Pencapaian ini tak pernah terjadi di negara lain yang memiliki sistem serupa.
Dikutip Dream dari World of Buzz, para pengguna jasa sewa payung ini harus menambahkan iKasa sebagai teman di LINE. Lewat sebuah tombol yang telah disediakan, mereka baru bisa menyewa payung.
Sebelum bisa menyewa, si peminjam harus terlebih dahulu melengkapi fitur scan QR agar bisa menggunakan payungnya itu.
Dalam sehari, para penyewa payung akan dikenakan tarif 70 yen atau sekitar Rp8.849. Biaya ini ditarik dari kartu kredit yang telah didaftarkan.
Kalau pelanggan lupa mengembalikannya, penyewa akan dikenakan denda sebesar 420 yen atau Rp53.096. Setelah membayar denda, mereka bisa menyimpan payung itu dan tak perlu mengembalikannya.
Sistem sewa payung ini telah berjalan selama beberapa bulan. Manajemen melaporkan tingkat pengembalian sewa payung itu sebesar 100 persen.
Menariknya, orang-orang di luar Jepang, seperti Tiongkok, Hong Kong, dan Malaysia, menerapkan sistem sewa payung. Tapi, tak berjalan baik seperti di Negeri Sakura.
Sekadar informasi, pada 2018, pengembang properti Aspen Group di Malaysia menyediakan 4 ribu payung gratis di 12 halte bus dan 5 sekolah di Penang. Barang ini disediakan agar masyarakat bisa melindungi diri dari sinar matahari dan hujan.
Sayangnya, ribuan payung itu justru hilang dan tidak dikembalikan oleh masyarakat yang menyewanya.
Kira-kira kalau diterapkan di Indonesia, ada yang mengembalikan payung sewaan itu tidak ya?
(Sah, Laporan: Ratih Permata Sari)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya