Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jangan-jangan Kamu Menjadi Seorang Penggila Kerja. (Foto: Shutterstock)
Dream – Berkembangnya dunia digital membuka dimensi baru tentang konsep workaholic. Teknologi, seperti smartphone dan laptop, membuka kesempatan untuk bekerja di mana pun dan kapan pun.
Dikutip dari Monster, Senin 8 April 2019, perkembangan teknologi memang bisa meningkatkan keseimbangan kehidupan—kerja. Atau, bisa membuatmu lebih fleksibel terhadap pekerjaan.
Tapi, kalau pekerjaan terus digarap dan menghabiskan banyak waktu serta “ merusak” kesehatan fisik dan mental, itu berarti kamu sudah bekerja terlalu jauh. Bisa jadi kamu menjadi seorang penggila kerja alias workaholic.
Ada empat tanda workaholic yang perlu kamu waspadai. Pertama, bekerja ketika hari libur. Saat libur, kamu membuka komputer dan bekerja? Hm, pada dasarnya liburan itu sangat penting untuk melepas penat dan mengisi ulang tenaga untuk keesokan harinya.
Tahan keinginan untuk memeriksa kotak masuk e-mail kantor. Kalau perlu, matikan pemberitahuan e-mail kantor dan grup obrolan kantor. Kamu seharusnya tak perlu merasa bersalah. Ingat, tak seharusnya kamu available 24 jam sehari dan 7 hari seminggu untuk bekerja. Kamu perlu memiliki batasan untuk bisa menikmati hari libur.
Ke dua, sering sakit. Nah, bekerja terlalu keras akan berdampak buruk kepada pikiran dan tubuh. Kamu tak bisa menghabiskan waktu 30 menit untuk makan siang dari mejamu. Situasinya bisa menjadi lebih buruk kalau makan lebih dari sekali sehari di meja.
Kalau terlalu banyak bekerja, kamu bisa mengalami masalah kesehatan, seperti stres, kecemasan, insomnia, sistem kekebalan melemah, dan sebagainya. Pastikan kamu meluangkan waktu untuk merawat diri dengan makan dengan baik, olahraga teratur, dan tidur cukup. Tubuh dan pikiranmu akan berterima kasih untuk itu.
Ke tiga, kamu akan merasa bersalah atau stres kalau tidak bekerja. Stres memang umum terjadi di tempat kerja. Kalau merasa tertekan dan bersalah kalau tidak bekerja, itu berarti ada yang harus diubah.
Berhentilah untuk mengisi daftar tugas karena merasa bersalah atau keinginan untuk menyenangkan. Belajarlah untuk berkata tidak kepada tanggung jawab baru yang tidak menguntungkan bagi pribadimu secara profesional.
Ke empat, menarik diri dari hobi. Kalau sudah gila kerja, tanpa sadar kamu takkan punya waktu untuk olahraga, kumpul dengan teman, atau menjadi sukarelawan. Kegiatan akhir pekan ini tersita dengan pekerjaan.
Jangan lupa tentang hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Jangan menunda hidup untuk pekerjaan yang bisa dilakukan besok!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya