Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kapolda NTB Simpan "Dunia" di Sepatu saat Salat

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Minggu, 24 Juli 2016 10:55
Kapolda NTB Simpan
Biasanya, orang-orang memilih menaruh "dunia" di tangan. Tapi, hal ini tak berlaku untuk petinggi polisi di Nusa Tenggara Barat ini.

Dream - Ketika waktu salat tiba, umat Muslim diminta untuk meninggalkan urusan dunianya sebentar dan menunaikan ibadah salat. Hal ini bertujuan agar salat tersebut bisa dilakukan dengan khusyuk.

Sikap " meninggalkan" urusan dunia pun juga dilakukan oleh Kapolda NTB, Brigjen. Pol. Umar Septono. Bahkan, dia memilih untuk menyimpan urusan dunia di sepatunya.

Kisah ini berawal dari seorang pengguna Facebook bernama Jack Garda Asakota, yang bertemu Umar usai salat Asar di masjid Bandara Sultan Salahuddin Bima. Keduanya pun berdialog singkat tentang urusan duniawi. Jawaban Umar ini membuat netizen itu terkesima. Berikut ini adalah tulisan yang diunggah di akun Facebook Jack dilansir Minggu 24 Juli 2016.

" Saat Shalat
Kapolda Ini SIMPAN " Dunia"
di SEPATU...!!!

Secara tidak sengaja, Saya kembali bertemu untuk kedua kalinya dengan Kapolda NTB, Brigjend Pol Drs. Umar Septono, Jumat sore (22/7).

Pertemuan tidak sengaja ini, ketika beliau hendak keluar dari dalam masjid Bandara Sultan Salahuddin Bima usai shalat Ashar. Rupanya beliau masih menandai Saya yang sebelumnya baru saja ketemu di masjid Sultan Sahuddin Kota Bima.

Dengan senyuman khasnya dia menyapaku. " Hey," ucapnya dengan ekspresi terkejut pas di depan pintu dalam ruangan masjid.

Tak butuh waktu lama, sayapun yang baru datang langsung menghampiri sang Kapolda yang dikenal low profil dan memiliki jiwa sosial tinggi ini.
Setelah bersalaman, Sayapun mengikuti langkah beliau hingga di teras Masjid bagian Selatan. Saat duduk bendak memakai sepatu, beliau menunjuk jam tangan yang Saya pakai.
Pak Kapoldapun bertanya. " Kalau shalat, " dunia" di simpan di mana?," ucap beliau sambil menunjuk jam tangan merk " fossil" yang Saya pakai.

Spontan Sayapun menjawab. " Di tangan pak Kapolda," sahut saya tanpa memikirkan lebih jauh maksud pertanyaan pak Kapolda.

Pak Kapoldapun terlihat senyum senyum sembari mengambil sebuah benda yang disimpannya di sepatu di pekarangan Masjid." Saya kalau shalat, " dunia" saya simpan di sini," ucapnya sambil memperihatkan sebuah jam tangan hitam yang diambilnya dari dalam sepatu.

Ù�Ù�اشÙ�آءÙ�اÙ�Ù�Ù�Ù�Ù�

Dalam hati Saya berdecak kagum. Begitu tinggi filosofi " jam" tangan yang beliau gambarkan. Teringat sebuah ungkapan jika seorang Muslim hendak shalat, maka segala yang beurusan dengan dunia, ditinggalkan. Kemudian meluruskan niat Lillahitaala (Hanya kepada Allah).
Filosofi " Jam tangan" yang dimaksud pak Kapolda barangkali, sebagai simbol " waktu" & " kemegahan" dunia yang melalaikan MANUSIA.

Menanggalkan sejenak urusan duniawi saat shalat sekaligus kita dituntut untuk mendirikannya dengan khusyu’. Sebab dengan khusyu dalam shalat, amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT, terhapus dosa-dosa kita, dan segala perilaku dan ucapan kita terjaga dari kemungkaran dan kefasikan.

â�ª#‎TerimaKasihPakKapoldaNTBâ�¬#"

Netizen lainnya pun merespons positif unggahan Jack. Dia mengapresiasi sikap Umar saat menunaikan salat. " Subhanallah.....pertemuan kedua, Pak Kapolda mengajarkan ilmu hikmah...#Colek Humas Info Polda NTB......." kata netizenb bernama Ama La Gibran" .

" Jam adalah petanda waktu dan menjadi pengigat tentang dunia Tetapi kenapa harus di simpan di sepatu Maka seperti sepatulah urusan dunia ketika sembah sujud dan fokus pada perkara akhirat Modal yg di bawa pulang Bekal di masa depan Antara yg meminjam ruh dan pemilik Ruh," tulis netizen bernama Muhammad Akhwan Qusairi.

Beri Komentar