Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sri Mulyani (Instagram @smindrawati)
Dream - Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengaku pernah mendengar stigma tentang dirinya, salah satunya sebutan 'Ratu Utang'. Menurut dia, stigma berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk menggunakan data, khususnya terkait ekonomi.
Sehingga, dalam ajang Indonesia Economic Outlook Forum 2023, dia berharap para mahasiswa yang hadir, khususnya mahasiswa jurusan ekonomi, lihai dan punya kemampuan membaca dan membedah data.
" Maka saya akan sangat senang sekali karena Indonesia akan diisi oleh ekonom muda yang cemerlang yang tahu data behavior gimana capture dalam suatu modeling," kata Sri Mulyani di hadapan para mahasiswa dalam ajang Indonesia Economic Outlook Forum 2023, Senin 3 Oktober 2022.
" Anda mengolahnya, Anda bisa membacanya, Anda berdebat mengenai interpretssi data, dan hasil running Anda, that's beautiful. Itu debat yang menyenangkan banget," lanjut dia.
Sri Mulyani mencontohkan debat yang tak berdasar. Dalam perdebatan yang tak berdasar tersebut akan muncul stigma yang tidak tepat. Ada beragam istilah yang tak seharusnya digunakan.
" Karena debat yang tidak menyenangkan hanya bilang 'ah kamu bego', 'ah kamu kadrun', 'ah kamu cebong', itukan kayak gitu kan. Tapi anda bisa bicara, oh Sri Mulyani Ratu Utang, itu kayak gitu-gitu adalah bukan debat tapi stigma," beber Sri Mulyani.
Sehingga dia berharap mahasiswa jurusan ekonomi pandai membaca data dengan kerangka teori yang tepat. Data akan membawa debat lebih sesuai substansi.
" Kalau anda, anda kan bicara fata dengan theorical framework yang anda ketahui, anda bisa run, bisa saja ada beda karena model beda, dan kemudian and abisa pun hasil yang sama pun anda bisa bacanya berbeda. Sah," ujarnya.
" Dan itu enak nantinya kita bicaram how much the economy suffering from the shock. Itukan shock. How much it will take untuk membuat remedi bahkan recovernya," tambah bendahara negara itu.
Sumber: merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya